
Ezz berusaha tak ambil pusing dengan pertengkaran Vita dan Riani.
Yang penting dia memenuhi janji pada Gunadi untuk tinggal di rumahnya.
"Kak Ezz kenapa kok nasinya diaduk-aduk aja?" Tanya Zolla melihat suaminya seperti tidak selera makan.
"Aku nggak terlalu lapar, sayang..." Kata Ezz.
"Mikirin apa?" Zolla tahu ada yang mengganggu pikiran Ezz.
Ezz tersenyum kecil. "Nggak ada kok." Ia melanjutkan makan.
Zolla tidak bertanya lagi.
Setelah makan malam, mereka duduk di ruang tengah menonton TV.
"Nih Kak, aku bawain jus buah." Zolla meletakkan dua gelas jus jeruk segar.
"Waahhh enak nih. Makasih ya sayang.." Ezz meneguk minumannya sedikit. "Seger."
Zolla menyenggol lengan suaminya. "Sekarang cerita dong, dari tadi mikirin apa."
"Hmm...." Ezz memeluk bahu Zolla mendekat. "Aku ditegur sama Om Budiman, papanya Vita. Karena Vita ngadu kalau aku pindah dari rumah."
"Kok ditegur? Kakak kan nggak salah."
"Yah begitulah. Dari sejak dia kecil, kami jadi teman bermain. Jadi dia manja. Dan Om Budiman minta aku jagain dia. Aku jelasin aku nggak bisa jaga Vita karena aku udah berumah tangga. Om Budiman malah tegur aku nggak peduli sama sodara."
Zolla terdiam, kasihan Ezz kena tegur.
"Kak, telepon Bapak Praja aja biar Bapak yang kasih pengertian sama Om Budiman. Aku juga nggak mau Kakak disalahin padahal Kakak nggak salah."
Ezz berpikir sejenak lalu tersenyum lebar. "Benar juga. Om Budiman kan paling segan sama Bapak. Iihh pinter banget sih istriku ini..."
"Duuhh kok dicubit sih?" Zolla mengusap pipinya.
"Kalo gitu dicium aja ya.." Ezz mengecup bibir Zolla sekilas membuatnya melotot.
"Iihhh Kak Ezz nih nanti dilihat Bi Inah.."
Ezz terkekeh dan memeluk Zolla begitu mesra.
TV menyajikan berita terkait pengedaran uang palsu yang merugikan banyak pihak hingga puluhan milyar.
"Sindikat pengedar uang palsu sampai saat ini masih buron. Belum ada titik terang keberadaannya. Markasnya yang berada di kaki bukit kawasan Bandung Barat, sudah kosong. Tak ada petunjuk ke mana sindikat ini melarikan diri." Begitu kata reporter TV.
"Mereka udah ketahuan, Kak. Tapi mereka kabur. Aku harap Zella nggak akan ketangkep."
"Kalau pun dia tertangkap, kamu harus ikhlas, sayang. Dia harus tanggung jawab. Korbannya nggak sedikit lho. Sampai mengalami kerugian puluhan milyar rupiah. Itu bukan uang sedikit. Bahkan kamu dengar, ada korban yang sampai bunuh diri karena tertipu. Dia jual rumah untuk membayar hutang, ternyata itu uang palsu dan dia stress dikejar-kejar penagih hutang. Ini bukan kejahatan sederhana, sayang.."
Zolla terdiam memilin-milin bajunya.
"Sayang, seandainya Zella harus ditangkap, itu sudah resiko yang harus diterimanya." Ezz berusaha memberi pengertian. "Dia yang berbuat, dia juga yang harus menanggung."
"Aku kasihan kalau Zella dipenjara Kak." Kata Zolla pelan.
"Jelas kamu kasihan. Kamu itu baik, meski nggak dianggap dan diperlakukan buruk sama saudara kembar kamu, tetep kamu belain dia. Tapi inget sayang, perbuatan kriminal harus dihukum. Apalagi sampai menghilangkan nyawa orang."
Zolla akhirnya mengangguk mengerti. "Iya Kak."
"Ya udah, senyum dong. Kalo cemberut aku cium sampe bibir kamu abis nanti."
Zolla mencibir. "Tiap hari juga gitu. Sampe makin jontor aja ni bibir disedot melulu. Ketagihan banget ya.."
Ezz terkekeh dan memeluk Zolla begitu mesra.
***
"Zella..." Muncul Foga.
"Gimana, Ga?"
"Gue abis turun, di sini nggak ada sinyal gue nggak bisa akses internet. Gue cari berita tentang kita. Untung gue bilang jangan pindah ke rumah Zolla. Polisi udah ngobrak-ngabrik markas kita dan tempat kosong di sekitarnya. Tapi menurut berita, mereka kehilangan jejak. Minimnya tracking arah sana, ditambah nggak ada CCTV. Jejak ban mobil juga nggak ada karena setelah kita pergi, daerah itu hujan deras ngehapus jejak ban mobil. Sementara waktu kita jangan beroperasi dulu. Tunggu keadaan aman, baru kita atur strategi." Jelas Foga panjang lebar.
Zella mendengus kesal. "Arggghh... Kenapa sih ketahuan secepat ini? Keuntungan kita baru setengah dari ekspektasi. Baru 25 milyar. Kalau kita udah dapet uang 50 milyar baru kita berhenti. Mereka bakal gue kirim ke luar pulau biar nggak ditemuin orang."
Foga duduk di sampingnya, melihat gadis itu hanya mengenakan tank top dan celana pendek membuat jakunnya turun naik. Zella selalu tampak menggoda di matanya.
"Dan lo gimana? Rencana lo setelah dapat 50 milyar itu?"
"Ya seneng-seneng lah. Apa lagi?" Zella menutup bukunya.
"Lo nggak ada niat untuk berhenti?"
"Maksud lo berhenti apaan?"
"Berbuat kriminal."
Zella berdecak sebal dan menatap Foga tajam. "Apaan sih lo? Gue tuh pengen buktiin sama bokap, gue juga bisa sukses. Apapun caranya."
"Setelah itu?"
"Ya gue gasak harta bokap, setelah itu..." Zella terdiam. Bingung sendiri dengan tujuannya. Ia baru sadar tujuan dia melakukan bisnis ini menggantung. Ia hanya ingin menunjukkan kepada ayahnya bahwa dia tidak lemah dan bisa menghasilkan uang tanpa bantuan sang ayah.
Tapi setelah itu.... Zella buntu harus berbuat apa.
"Lo mau balikan sama Ezz?" Tanya Foga. "Barusan gue baru aja ke restoran dia. Gue liat dia happy aja. Kayaknya Zolla berhasil bikin dia luluh. Lo yakin mau balik lagi ke sana?"
"Ya gue kan masih istrinya." Zella membawa bukunya dan berdiri. "Bagus lah kalo dia happy. Berarti tu cewek berhasil luluhin hati Kak Ezz. Yang nggak mungkin bisa kalo gue yang di sana."
"Gimana kalo Ezz malah cinta sama Zolla? Kenapa lo nggak lupain aja dan nikah sama gue?"
Zella mendelik tak suka. "Ngaco lo!"
"Kita aja tiap hari tidur seranjang. Lo emang nggak ada ngerasa apa-apa tiap hari tidur sama gue?"
"Nggak ada!"
Foga mendengus dingin begitu Zella beranjak keluar ruangan.
Tiba-tiba tubuhnya diangkat Foga di bahu seperti menggendong karung beras.
"Foga! Apa-apaan sih lo?!! Turunin gue!" Bentak Zella yang diacuhkan Foga.
Zella memukul-mukul meminta turun, jelas Foga yang berbadan kekar tidak merasa sakit sedikit pun.
Masuk ke kamar, Foga langsung mengunci pintu dan membanting tubuh Zella di ranjang.
"Foga! Lo kok kasar banget sih!"
Foga langsung melepas bajunya hingga polos membuat Zella merinding melihat senjata pria itu sudah tegak maksimal.
"Gue lagi pengen. Siap-siap lo nggak bakal gue kasih istirahat." Foga langsung menindih tubuh Zella dan melepas pakaian gadis itu.
Foga memulai menciumi wajah Zella, setiap incinya tidak terlewat. Lanjut ke leher, perut, hingga mendarat di kewanitaan Zella yang langsung meng*rang hebat.
Zella yang pasrah menerima saja ditiduri Foga. Setidaknya ia terhibur hanya Foga yang bisa memuaskan hasrat ranjangnya.
***