Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Bab 7


Waktu menunjukkan pukul enam sore. Naura dan pelayan cafe yang lainnya bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.


Sebelum pulang, Naura dan yang lainnya membereskan kursi dan meja agar terlihat rapi, karena sebelumnya kursi dan meja tersebut berantakan akibat ulah dari pelanggan yang seenaknya memindahkan kursi.


Sesudah itu, Naura segera pulang ke rumah Rizky dengan menggunakan ojek online.


Skip


Sesampainya di rumah Rizky, Naura bersalaman kepada mamah dan papah Rizky.


"Kamu dari mana, Ra?" tanya Mamah Rizky.


"Naura habis dari cafe, Tante. Soalnya sekarang Naura kerja di cafe."


"Bareng Rizky kerjanya."


"Enggak, Tante."


"Terus Rizky kemana dong?"


"Naura gak tahu, Tante."


Tiba-tiba Rizky datang. "Ra, aku tadi nyari kamu. Tapi kamunya udah pulang duluan."


"Tadi kami ke cafe?"


"Iya, tadi aku ke cafe."


"Kalian udah makan belum?" tanya Mamah Rizky.


"Belum," ujar Naura dan Rizky bersamaan.


"Ya sudah kalian mandi dulu sana! nanti kalau udah mandi, baru kalian boleh makan," kata Mamah Rizky.


"Iky udah mandi, mah. Dia tuh yang belum mandi," tunjuk Rizky kepadaku.


"Ya sudah kamu mandi dulu sana" suruh Mamah Rizky.


"Iya, Tante," ujar Naura, lalu ia pergi ke kamar tamu.


...****************...


Naura, Rizky, dan orang tua Rizky sedang menikmati makanan. Sejujurnya Naura merasa tidak enak kepada Rizky dan orang tuanya, karena ia merasa jadi beban bagi mereka.


Tadinya besok, Naura ingin pulang ke rumah, namun karena ia masih sakit hati, akhirnya ia memutuskan untuk nge-kost.


Jika kalian bertanya kenapa Naura bisa mendapatkan uang, maka jawabannya adalah selama kuliah ia selalu berhemat. Kadang juga ia sering membantu dosen untuk memeriksa UAS dan tentunya itu dibayar.


"Tante, Om, besok Naura mau pergi. Makasih ya udah mau ijinin Naura disini"


"Iya sama-sama," ujar Mamah dan Papah Rizky.


"Mau pulang, Ra?" tanya Rizky.


"Enggak, aku mau nge-kost."


Tingtong! Tingtong!


"Ky, buka sana!" suruh papah Rizky. Lalu, Rizky pergi keluar untuk menemui orang yang membunyikan bel.


Perasaanku menjadi tidak enak, aku merasa bahwa orang yang menekan bel adalah orang tuaku.


Tak lama, Rizky datang bersama orang tuaku. "Ra, papah nyariin kamu loh dari kemarin. Kamu kenapa gak bilang kalau mau nginep disini?," ujar papah Naura.


"Iya bener, kamu kenapa gak bilang sih? Mamah kan khawatir sama kamu."


Aku hanya menatap datar kearah mamah. "Khawatir?"


Rizky yang tahu kejadian pertengkaran Naura dan mamahnya hanya diam saja. Karena ia juga tidak mau kalau ikut campur dengan urusan keluarga orang.


"Ya sudah ayo pulang, Ra," ujar papah.


"Naura gak nyaman tinggal di rumah."


"Gak nyaman kenapa?"


"Naura gak nyaman karena mamah selalu marahin Naura, bahkan dia pernah pukul kepala Naura pakai sapu!" emosi Naura tak tertahankan, Naura mengeluarkan semua unek-unek.


"Ya ampun, Ra. Kamu kok tega sih fitnah Mamah," ujar mamah dengan ekspresi sedih, dan aku tahu bahwa itu hanyalah pura-pura.


"Fitnah? Naura gak fitnah mamah kok. Tapi itu kenyataannya."


Lalu mamah pergi, sepertinya ia malu. Lebih tepatnya malu karena ada orang tua Rizky.


"Kalau Papah gak percaya tanya aja ke Iky."


"Papah percaya kok sama kamu. Ya sudah ayo pulang! nanti di rumah, Papah bakal nasehati Mamah biar gak marah-marah lagi sama kamu."


Naura menatap kearah Rizky dan Rizky menatap Naura seolah-olah menyuruh Naura untuk pulang ke rumah.


"Om, Tante. Makasih ya udah ijinin Naura nginep disini."


"Iya sama-sama," ujar Mamah dan Papah Rizky.


"Ky, makasih."


"Iya sama-sama," ujar Rizky.


"Ya sudah kalau gitu saya sama Naura pulang dulu ya," ujar Papah.


"Iya," ujar Rizky dan orang tuanya.


Naura dan papahnya pulang dengan berjalan kaki, karena jarak rumahnya tidak terlalu jauh.


"Pah, Naura itu asli anak papah dan mamah kan?" tanyaku memastikan.


"Papah orang tua kandung kamu, Ra. Cuma kalau mamah, dia sebenarnya ibu tiri kamu."


"Papah kenapa baru cerita ke Naura soal ini?"


"Kan kamunya gak nanya ke Papah."


"Terus mamah Naura mana, Pah?"


"Mamah kamu meninggal saat ngelahirin kamu."


Naura sangat merasa bersalah kepada ibu kandungnya. Sebab karena Naura, ibunya jadi meninggal.


Sesampainya di rumah, Naura pergi menuju kamar karena ia sangat mengantuk. Mungkin ia kelelahan gara-gara bekerja.


Saat sampai di kamar, Naura mendengar suara benda yang dilempar. Ia tahu, pasti papah dan mamah bertengkar lagi. Dan juga pasti papah marah kepada mamah.


Disatu sisi, Naura merasa bersalah kepada mamah. Karena dirinya, mamah jadi dimarahi oleh papah. Tapi disisi lain, Naura juga merasa sakit hati kepda mamah tirinya.


Trining! Trining!


Naura melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Rizky. Lalu, ia menjawab panggilan telepon tersebut. "Hallo."


"Ra, kamu gak lagi nangis, kan?" tanya Rizky memastikan.


"Gak kok. Mana ada aku nangis."


"Oh iya, jangan lupa besok kerja."


"Iya, aku gak lupa kok."


Lalu Rizky mematikan teleponnya.


Memang sangat menyebalkan orang ini, harusnya kalau mau mematikan ijin dulu. Tapi dia malah seenaknya matiin teleponnya.


Tapi sebenarnya dia memang seperti itu sih, cuma entah kenapa kali ini aku tidak terima saat Rizky mematikan teleponnya.


Jujur Naura bingung dengan perasaannya. Apakah ia benar-benar cinta atau hanya sekedar rasa suka yang sesaat saja?


...****************...


Keesokan harinya, Naura bersiap-siap untuk berangkat ke Cafe. "Kamu mau kemana?," ujar papah.


"Naura mau berangkat kerja, Pah."


"Kerja dimana?"


"Naura kerja di cafe temannya Rizky."


"Kamu udah sarapan belum?"


"Belum, Pah."


"Harusnya kamu sarapan dulu sebelum kerja. Nanti kalau gak sarapan, kamu bisa kena maag."


"Nanti Naura sarapan di cafe kok," ujar Naura, lalu ia buru-buru berpamitan kepada papahnya, karena takut telat.


Skip


Sesampainya di cafe, Naura langsung bekerja melayani pelanggan. Yang herannya, mengapa cafe tersebut sudah ada pelanggan, padahal cafe-nya baru dibuka lima menit yang lalu.


Apa mungkin pelanggan-pelanggan itu kesini karena pelayan-pelayan cafe disini cantik?


Bukannya kepedean, tapi Naura rasa memang itulah alasan orang-orang datang kesini. Apalagi Zidny, menurut Naura dia sangat cantik.


Bahkan saat pertama kali datang kesini, Naura sangat terpesona dengan Zidny. Bukan hanya cantik saja, tapi Zidny juga lemah lembut.


Sebenarnya Naura juga ingin sekali bersikap lemah lembut seperti Zidny, tapi karena Naura orangnya emosian, jadi sepertinya ia akan tersiksa jika bersikap seperti itu.


Waktu itu juga Naura pernah bersikap lemah lembut didepan orang yang ia sukai. Tapi karena waktu itu ada Rizky juga, jadinya ia gagal menjadi orang yang lemah lembut.


Hampir setiap kali Naura dekat dengan cowok, selalu saja gagal jadian. Entah karena cowoknya nge-ghosting ataupun karena Naura memang dipilih sebagai pilihannya yang kedua, makanya cowok itu lebih memilih cewek lain.