
Naura melihat-lihat ke sekitar, ia menunggu Rizky yang sedang berada didalam toilet. Tadinya Rizky menyuruh Naura untuk tetap di taman bersama dengan yang lainnya, tapi karena Naura tidak kenal siapa-siapa, akhirnya Naura lebih memilih untuk mengikuti Rizky.
"Permisi," ujar seseorang, sepertinya dia salah satu pembantu Rangga.
"Iya, ada apa?"
"Kalau mau ke toilet, pakai toilet yang disebelah sana aja. Daripada nunggunya kelamaan."
"Saya gak mau ke toilet kok, saya cuma nunggu pacar saya," ucap Naura dengan salah tingkah.
"Oh begitu, ya sudah saya pergi dulu ya" Lalu, orang itu pergi keluar.
Kemudian, Rizky keluar dari toilet. "Kamu mau ke toilet gak?"
"Enggak."
Sesudah itu, mereka kembali keluar untuk menghampiri yang lain. Pada saat diluar ternyata ada beberapa teman Rangga yang menyumbangkan lagu untuk Rangga.
"Ky, kamu gak mau nyanyi?"
"Enggak, aku gak bisa nyanyi sama sekali."
"Bohong! Rizky bisa nyanyi tuh," sahut teman Rizky.
Sebenarnya tanpa teman Rizky bilang juga, Naura sudah tahu kalau Rizky bisa bernyanyi.
Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Naura, Rizky dan teman Rizky yang waktu itu di cafe. "Loh! kamu kok berubah. Sekarang kamu jadi tinggi banget," ucap seorang cewek kepada Rizky.
"Iya soalnya aku sering olahraga, makanya jadi tinggi," ujar Rizky.
"Oh iya, ini siapa?" tunjuk cewek itu pada Naura.
"Dia pacar aku," jelas Rizky.
Naura tersenyum sambil mengulurkan tangan. "Kenalin nama aku Naura."
"Hai, aku Sinta," ujar Sinta tanpa membalas uluran tangan Naura.
"Sinta, jabat dong tangannya. kamu jahat banget sih," suruh teman Rizky.
Rizky memegang tangan Naura yang masih terulur. "Kamu gak boleh jabatan sama dia, dia agak sombong soalnya"
"Enak aja. Aku tuh gak mau salaman karena tangan aku keringetan," kata Sinta.
"Ra, kesana yuk!" ajak Rizky sambil menarik tangan Naura dan membawanya ke tempat yang jauh dari temannya.
"Maaf ya, temen aku emang kayak gitu. Dia dari dulu emang agak sombong," ucap Rizky.
"Iya gak apa-apa."
"Kamu mau pulang atau masih pingin disini?"
Naura diam saja, sebenarnya ia ingin pulang, namun kalau Naura mengatakan ingin pulang, nanti pasti Rizky merasa tidak enak kepada Rangga. Masa Rizky pulang disaat yang lainnya menikmati pesta.
"Loh! Naura," ujar teman kuliah Naura.
Naura sedikit terkejut, karena ternyata teman kuliahnya adalah temannya Rangga.
"Siapa, Ra?" bisik Rizky.
"Teman kuliah aku."
"Kamu ngapain disini?" tanya teman kuliah Naura.
"Naura kesini karena dia diundang lah, masa dia datang tanpa diundang," sahut Rizky.
Rizky hanya menatap datar kearah temannya Naura. Ia sedikit tidak suka karena ia tahu bahwa orang itu terlihat tidak suka dengan Naura.
"Ra, kita pulang aja yuk!" ajak Rizky.
"Pulang?"
"Iya, soalnya aku udah ngantuk."
"Ya udah ayo pulang."
Naura dan Rizky segera menghampiri Rangga. "Ga, kita berdua pamit dulu ya. Soalnya pacar aku kasihan, dia ngantuk katanya," ujar Rizky.
Ingin sekali Naura berkata jujur kepada Rangga. Tapi kalau ia bilang bahwa Rizky yang ingin pulang, pasti nanti Rangga sedikit kecewa karena acara ulang tahunnya belum selesai, tetapi temannya malah pulang duluan.
Rangga tertawa kecil. "Pacar kamu dikasih obat tidur ya kayaknya? perasaan dia ngantuk mulu."
"Dia emang gampang ngantuk orangnya," kata Rizky.
"Ya udah sana anterin. Kasihan juga kalau udah ngantuk," suruh Rangga.
"Iya," ujar Rangga.
Naura dan Rizky segera pergi. Disaat masuk kedalam mobil, Naura berpikir, apakah sekarang waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya?
"Ra, ayo tutup pintunya," suruh Rizky, lalu Naura langsung menutup pintu mobil. Setelah itu, Rizky melajukan mobilnya.
Rasanya Naura ingin sekali mengutarakan isi hatinya. Tapi otaknya seakan-akan berkata jangan, sebab jika ditolak akan sakit rasanya dan juga sebagai perempuan harusnya dikejar lelaki, bukan malah mengejar lelaki.
Naura sangat bingung, ia takut jika mengungkapkan isi hatinya, nanti Rizky akan menjauh darinya. Dan juga Naura ingat kalau tadi Rizky mengatakan bahwa Naura terlihat biasa saja dan itu membuat Naura yakin bahwa Rizky sama sekali tidak tertarik dengan Naura.
Tetapi kalau tidak diutarakan, takutnya Naura akan menyesal dan juga hatinya merasa ada yang mengganjal.
"Ky, aku boleh ngomong sesuatu gak sama kamu?"
"Ya boleh lah. Emang kamu mau ngomong apa?"
"Tapi aku takut kamu menjauh kalau denger ucapan aku."
"Aku gak akan menjauh kok."
Naura menggigit bibirnya. Dalam bayangannya, ia merasa bahwa nanti Rizky akan menurunkan Naura dipinggir jalan.
"Kalau mau ngomong ya ngomong aja. Lagian aku gak akan marah sama kamu kok."
"Kalau aku bilang, kamu gak akan turunin aku dijalan kan?"
"Ya enggak lah, Ra. Ngapain juga aku turunin kamu dijalan, nanti kalau aku turunin kamu bisa-bisa aku dimarahin orang tua kamu."
Benar juga apa kata Rizky, lagipula dia tidak akan sekejam itu padaku.
"Ya udah cepetan bilang!"
"Tapi masalahnya..."
"Masalahnya apa?"
"Maaf." Mata Naura mulai berkaca-kaca, ia tahu bahwa setelah mengucapkan hal ini, Rizky akan menjauhi Naura.
"Maaf soal apa?"
"Maaf, karena aku cinta sama kamu," ucap Naura gemetar.
Rizky terdiam sejenak, karena sebenarnya ia juga sudah tahu dari awal.
Karena malu, akhirnya Naura mengalihkan pandangannya ke sebelah kiri. Ia berusaha menahan tangisannya.
Naura sangat lega mengutamakan isi hatinya. Tapi disisi lain, Naura juga sangat malu, ditambah Rizky yang dari tadi hanya diam saja, jadinya Naura merasa Rizky akan menjadi ilfeel kepada Naura.
"Iya, terus kenapa kalau suka?"
Naura menggigit bibirnya, ia bingung harus menjawab apa.
"Terus kamu maunya gimana?" tanya Rizky.
"Gak gimana-gimana, aku cuma mau bilang gitu doang."
"Kenapa harus sambil nangis sih?" heran Rizky.
"Habisnya aku takut kalau nanti kamu jadi ngejauh dari aku." Naura menangis tersedu-sedu.
Rizky menahan tawanya saat melihat Naura menangis. "Kamu sejak kapan suka sama aku?"
"Sejak kamu cium aku."
"Hah! kapan aku cium kamu?"
"Waktu itu."
Naura menceritakan kepada Rizky tentang Rizky yang mencium dan memeluk Naura disaat Rizky tertidur.
"Harusnya waktu itu kamu jangan kayak gitu. Udah tahu perempuan gampang baper." Naura terus mengusap air matanya yang terus berjatuhan.
"Kan aku tidur, jadi aku gak tahu kalau aku nyium kamu."
"Terus waktu itu kamu kenapa nyuruh aku buat tidur bareng kamu? Kamu bikin orang salah paham tahu gak!"
"Ya karena aku kesepian, makanya aku nyuruh kamu tidur di kamar aku."
"Jadi karena kamu kesepian, kamu jadi manfaatin aku gitu?"
"Maksudnya bukan gitu, Ra."