Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
27. Pantas Jadi Mama


🌼 Maharani


Hari ini aku pergi bekerja seperti biasanya. Ternyata bekerja itu menyenangkan. Aku seperti orang yang terlalu lama tinggal di goa yang gelap dan sepi. Kurang pergaulan. Kuper.


Sudah lima hari suamiku jarang menelepon. Pola komunikasi kami tak lagi seperti dulu. Terlebih kareena sekarang aku juga bekerja. Waktu sore hari yang biasa kami lakukan untuk bertelepon, harus kurelakan tidak bisa dilakukan. Karena aku masih berada di toko, tempat kerjaku. Dan tidak memungkinkan untuk menelepon mas Eza.


Alhasil hanya pagi hari sebelum kerja, kami bisa menuntaskan rindu di sambungan telepon seluler. Selebihnya, kami hanya berkirim pesan chat. Itupun dengan balasan chat dariku yang lama dan kurang intens.


Aku jadi mempertimbangkan keputusanku untuk bekerja. Di satu sisi sosialku, memang aku sangat senang bisa bekerja dan bertemu dengan teman teman sebaya di sini. Bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Setiap hari mendengar kabar-kabar terbaru dari yang penting sampai yang receh sekalipun.


Tapi konsekuensi yang kuterima, harus rela komunikasiku dengan mas Eza tersendat. Pulang kerja jam tujuh malam, mas Eza sudah tidak bisa dihubungi di jam-jam itu. Ponselnya selalu mati. Mungkin suamiku kelelahan bekerja.


"Rani.. Jangan melamun terus.. Nanti kesambet." sebuah suara berat namun masih ramah menyapa telinga. Aku mendongak. Mendapati Mas Reno menghampiri aku yang tengah istirahat makan siang di pantry toko.


Siang ini aku kebagian giliran istirahat paling terakhir. Sehingga hanya aku yang berada di pantry saat ini. Maklum, toko tidak boleh ditinggal semua pramuniaga untuk istirahat sekalipun. Maka dari itu perlu makan siang dan istirahat secara bergiliran.


"Makanannya udah abis tapi masih dipandangin terus, Ran.. Masih lapar?" goda mas Reno. Aku nyengir sambil tersipu. Malu juga ketahuan melamun pas lagi makan begini.


"Hehe.. Engga mas Ren.. Ehmm tadi.. anu.."


"Hehee.. iya, iyaa.. ga perlu dijawab."


Aku hanya bisa tersenyum kikuk. Mas Reno memang atasan yang sangat ramah pada semua karyawannya. Sangat jauh dari predikat bos galak dan semena-mena.


Aku merapikan bekas makanku yang telah kulahap habis. Sudah waktunya menyudahi istirahat dan kembali bekerja. Lagipula sudah lebih dari lima menit kuhabiskan waktu untuk melamun. Melamunkan mas Eza yang begitu kurindukan karena semakin terbatasnya waktu berkomunikasi kami.


Tiba-tiba suara anak laki-laki yang datang dari belakang tubuhku mengejutkan aku. Aku sontak menoleh. Anak laki-laki berkulit bersih itu tersenyum lebar. Berlari dan akhirnya menubrukkan tubuh kecilnya di meja pantry.


"Papa... Aku lapar.."


Anak laki-laki itu adalah Rayhan, putra mas Reno yang masih berusia lima tahun.


Mas Reno dengan sabar mengusap kepala putranya. "Sabar ya Nak.. cak Udin lagi beliin soto buat kamu.."


"Iya, Pa..." Rayhan duduk di bangku kayu berhadapan denganku. Tangan mungilnya dilipat rapi di atas meja dan kakinya terayun ke depan dan belakang. Menggemaskan.


"Rayhan mau ini? Makan kue dulu sambil menunggu cak Udin." Aku menyodorkan kue pia yang tadi pagi kubeli dari penjual jajan pasar.


Rayhan menoleh pada papanya meminta persetujuan. Ia mengangguk setelah mendapat anggukan dari mas Reno. Aku pun memberikan kue yang hanya tersisa satu itu.


Rayhan spontan melepaskan kue di tangannya karena begitu tertarik dengan semangkuk nasi dan kuah soto yang masih mengepulkan asap. Mencium aromanya saja sudah mengundang selera makan.


Aku sudah membuka mulutku hendak pamit undur diri untuk kembali bekerja, tapi suara dering ponsel mas Reno membuat mulutku terkatup lagi. Mas Reno mengangkat ponselnya dan meletakkan sebelah tangan di puncak kepala Rayhan.


"Rayhan makannya nunggu papa yaa.. Itu sotonya masih panas. Nanti papa yang suapin aja. Papa mau angkat telepon dulu sebentar." tanpa menunggu jawaban Rayhan, Reno sudah pergi menjauh.


"Tapi Rayhan sudah lapar Pa..." gumam Rayhan sambil menunduk lesu.


Aku kasihan melihat raut wajah memelasnya. Sehingga muncul refleksku menawarkan bantuan untuk menyuapi bocah lima tahun itu.


"Aku mau.. Aku maauu kak Rani...." sahut Rayhan girang.


"Oke, ganteng.. Sini mangkuknya. Biar kak Rani hilangkan uap panasnya dulu yaa.." Aku mengambil alih mangkuk berisi nasi dan kuah berwarna kuning itu. Mengipas agar uap panasnya berkurang. Lantas dengan sabar kusendok sedikit demi sedikit nasi dan kuahnya. Menyuapkan pada si kecil Rayhan.


Sesekali kulirik mas Reno. Berharap lelaki itu tidak melihat apa yang sedang ku lakukan. Tapi mas Reno masih terlihat asik mengobrol di telepon dengan posisi membelakangiku.


Aku hanya takut dianggap lalai. Bukannya kembali bekerja, malah menyuapi anaknya tanpa diperintah. Nanti bisa-bisa dikira cari muka.


Rayhan sangat pintar ternyata. Dia makan dengan lahap tanpa drama. Kalau biasa kulihat keponakan-keponakanku, harus dipaksa dan dibujuk rayu dulu baru mau membuka mulut. Kalau Rayhan tidak perlu melakukan itu. Dia dengan mudah membuka mulut begitu sendok berisi nasi sudah tiba di depan bibirnya. Dia juga akan minum air putih sendiri bila ingin minum. Benar-benar definisi anak yang mandiri dan tidak merepotkan.


"Pinter banget mas Rayhan ini makannya.. Ayo tinggal satu suap lagi habis nih. Aaa...." titahku agar Rayhan kembali membuka mulut untuk suapan terakhir itu.


Rayhan dengan riang bertepuk tangan setelah melahap habis semangkuk nasi soto ayam yang kusuapkan. Aku tersenyum lebar melihat tingkah lucunya. Anak laki-laki itu begitu menggemaskan, terlebih saat dia meneguk segelas air putih sampai habis lalu menepuk-nepuk perutnya tanda ia sudah kenyang.


"Wah Rani.. Kamu sudah pantas jadi mama Rayhan sepertinya.." celetuk Mas Reno membuatku berjingkat kaget.


Apa dia bilang tadi? Aku pantas jadi mama dari anaknya? Apa maksud mas Reno?


...****************...


...Super slow update 🙈...


...thanks yang masih setia baca cerita ini.. Author lebih fokus ke cerita Harris dan Keara. Itupun sekarang ikutan tersendat up nya karena kesibukan di real life 😝😌...


...Happy weekend 🌹...