
Langkah Gunadi begitu tergesa-gesa karena cemas menuju kantor polisi, mendengar Zolla terlibat masalah.
"Zolla sayang..." Gunadi menghambur memeluk putrinya yang duduk menunduk di bangku panjang.
Zolla langsung meledakkan tangisnya di bahu sang ayah, ia begitu ketakutan.
Ezz jadi merasa bersalah lalai menjaga Zolla.
"Papa, dia... Aku nggak kenal dia. Dia panggil aku Zella dan dia paksa mau buka bajuku..." Zolla terisak takut.
Gunadi sungguh marah ada yang berani menyakiti Zolla.
"Di mana orang itu?"
"Lagi diinterogasi polisi, Pa." Jawab Ezz.
"Sayang, kamu tunggu di sini saja. Biar Papa dan Ezz yang hadapi orang itu." Gunadi memanggil polisi wanita untuk menjaga Zolla.
"Ayo Ezz, bawa Papa menemui dia!"
"Baik, Pa."
Beberapa saat menunggu, polisi membawa pria berwajah tampan dan bertubuh atletis itu.
Gunadi dan Ezz menyipit melihat pria itu.
"Kayaknya aku kenal dia, Pa."
"Iya Papa juga pernah lihat dia. Tapi Papa tidak ingat."
Ezz memperhatikan wajah babak belur pria itu dan langsung teringat.
"Gue inget, lo kan cowok yang check in sama Zella di hotel waktu gue pergokin kalian??"
Pria itu diam saja sambil tersenyum sinis.
Gunadi pun langsung teringat.
"Ah ya kamu juga yang ada di video bersama Rindu?"
"Iya bener. Nama gue Deon. Gue gigolo yang sering disewa Zella. Juga ketika Zella ngebayar gue bikin video panas itu. Gue nggak nyangka aja bisa ketemu sama Zella lagi di sini. Tadinya gue ajak bicara baik-baik tapi dia sok jual mahal jadi gue paksa.."
Ezz hampir melayangkan tinjunya langsung ditahan oleh Gunadi.
"Tak perlu buang waktu menghajarnya, Ezz. Papa pastikan dia dipenjara dalam waktu lama." Gunadi tidak mentolerir yang berani menyakiti Zolla.
"Bawa kembali dia ke sel." Perintah polisi.
Deon digiring kembali ke balik jeruji besi.
"Papa akan bicara dengan polisi. Kamu temani Zolla. Jangan sampai ada yang berniat jahat padanya."
"Baik, Pa." Ezz bergegas kembali menemui Zolla.
"Zolla..." Ezz merangkul bahunya yang langsung menangis.
"Aku takut Kak. Dia kira aku Zella."
"Iya aku udah tau dia siapa. Dia yang aku temui di kamar hotel bersama Zella. Dia itu gigolo yang sering disewa Zella."
"Aku takut banyak yang niat jahat ngira aku Zella, Kak.."
"Kamu nggak usah takut. Mulai sekarang, aku nggak akan tinggalin kamu sendiri."
Zolla merebahkan kepala di bahu Ezz, tubuhnya lemas membayangkan jika barusan Deon berhasil memperkosanya.
Namun yang lebih mengganggunya bayangan ketika Ezz menggagahinya begitu kasar.
Ezz menggeram menahan marah melihat bekas merah di leher Zolla. Dipastikan Deon menggigit leher Zolla hingga meninggalkan bekas.
Semoga lo membusuk di penjara, Deon!
***
"Pa, aku mau bicara sesuatu sama Papa."
Gunadi yang sedang menenangkan putrinya menatapnya bingung.
"Aku ingin menikah dengan Zolla." Perkataan Ezz mengejutkan Gunadi hingga memandangi Ezz dan Zolla bergantian.
"Apa kamu bilang?" Gunadi memastikan yang didengarnya.
Ezz menarik nafas berusaha tenang. "Aku ingin menikah dengan Zolla, Pa." Ulangnya. "Aku mencintai Zolla, ingin melindungi Zolla, dan membahagiakan Zolla."
Zolla hanya menunduk di antara Gunadi dan Ezz.
Karena kini mereka bertiga ada di kamar hotel Gunadi yang berada di depan kamar Zolla.
"Kamu bilang kamu berpacaran dengan Zella. Selama ini kamu tidak cinta sama Zella?"
Gunadi memandangi Zolla yang memilin-milin ujung bajunya, gelisah.
"Dan lagi, aku harus bertanggung jawab atas Zolla, Pa. Aku sudah menidurinya, ketika ia masih ada di posisi Zella sebagai istriku. Meski itu semua sudah lewat, aku tetap ingin bertanggung jawab dan menikahi Zolla. Aku nggak mau dia disakiti lagi."
"Nak.." Gunadi menggenggam tangan putrinya. "Kamu mencintai Ezz?"
Zolla mengangguk.
"Kamu bersedia memaafkan semua kesalahan Ezz yang sudah menyakiti kamu?"
"Iya, Pa. Aku sudah lama memaafkan Kak Ezz. Karena Kak Ezz bukan benar-benar nyakitin aku. Dia hanya kecewa pada Zella. Dan aku nggak dendam sama sekali."
Gunadi menghela nafas berat sambil memandang keduanya. Memang tidak bisa menyalahkan Ezz maupun Zolla jika akhirnya mereka melakukan hubungan intim, secara pertukaran Zolla dan Zella masih tertutup. Wajar Ezz sebagai laki-laki normal bereaksi melihat gadis secantik Zolla.
"Aku mohon restui kami, Pa." Ezz sampai berlutut di hadapan Gunadi dan Zolla membuat Zolla kaget.
"Kak..."
Gunadi tampak berpikir sambil menggenggam tangan Zolla dan menatap Ezz serius. "Papa akan restui, kalau kamu setuju dengan syarat Papa."
"Apa itu Pa?"
"Setelah kalian menikah, kalian harus tinggal di rumah Papa."
Senyum Ezz dan Zolla mengembang diiringi hembusan nafas lega.
"Papa lama tidak bertemu Zolla. Jika kamu membawa Zolla pergi dari Papa, Papa akan sedih sekali."
"Aku terima syarat Papa." Ezz menjawab mantap, jelas bukan syarat yang memberatkan. Lain soal kalau disuruh bikin 1000 candi dalam semalam, auto mundur.
"Baiklah kalau begitu. Kita akan pulang setelah pekerjaan Papa selesai dan kita laksanakan pernikahan kalian."
Ezz dan Zolla saling pandang.
"Pa, sepertinya itu ide buruk. Sebaiknya kita laksanakan pernikahan di sini. Semua masih mengenal istriku itu Zella. Kalau kita adakan pernikahan, pasti akan mengundang tanda tanya."
Gunadi tampak berpikir dan membenarkan. "Betul juga. Zolla harus selalu aman. Dan Papa juga khawatir hubungan kalian sudah terlalu dekat. Tapi meski begitu, Papa ingin memberikan yang terbaik untuk Zolla. Kita adakan pesta pernikahan di Bali. Konsep pernikahannya sesuai dengan yang diinginkan Zolla."
Ezz dan Zolla menghela nafas lega sudah mendapat restu.
***
#Besok pagi lo bertiga harus terbang ke Bali. Gue tanggung akomodasi.#
Ezz mengirim chat pada Reno, Wahyu, Oka. Senyumnya bahkan tak pudar begitu tiga temannya langsung video call berempat.
"Ada apaan sih lo tengah malem nyuruh nyusul ke Bali?" Wahyu yang baru mau tidur menguap.
"Eh eh bentar nih... Lo ceria bener. Roman romannya ada good news nih." Reno curiga melihat Ezz begitu sumringah.
"Lo bertiga, berangkat ke Bali besok. Gue mau nikah sama Zolla."
Kontan 3 temannya terbelalak, terutama Wahyu yang kantuknya hilang seketika.
"Serius lo??"
"Iya serius."
Lalu Ezz menceritakan selengkapnya tentang peristiwa yang terjadi hingga ia melamar Zolla, dan direstui Gunadi.
"Acaranya sederhana. Gue udah pesen acara bakal diadain di taman hotel. Lo bertiga pokoknya harus datang saksiin pernikahan gue."
"Waahhhh..."
"Pasti kita dateng lah..."
"Gue hubungi kantor untuk ngambil cuti tahunan gue, tadinya gue tabung cuti buat liburan hari Raya. Gue ambil cuti demi brother gue deh.." Wahyu amat semangat.
"Iya. Gue juga bisa ijin sama Om."
Setelah memastikan tiga temannya akan datang, Ezz berpikir ingin memberitahu orangtuanya tapi...
"Kayaknya nggak akan nyambung kalau gue cerita. Nanti aja gue bawa Zolla ke rumah Ibu Bapak buat gue jelasin semuanya."
Ezz merebahkan tubuhnya di ranjang sambil membayangkan wajah Zolla.
"Selangkah lagi, Zolla. Kamu akan jadi milikku sepenuhnya."
Membayangkan ketakutan Zolla ketika Deon berusaha memperkosanya, sama dengan ekspresi Zolla ketika ia yang melakukannya dulu.
Meski Zolla sudah memaafkannya, tapi ia yakin Zolla tidak bisa melupakannya.
"Gue harus siapin moment malam pengantin yang romantis. Gue harap Zolla nggak teringat hal-hal buruk antara kami."
***