Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Liburan ke Bali


Bukan main senangnya Zolla diajak liburan ke Bali menyusul ayahnya yang sedang perjalanan bisnis.


Pagi-pagi sekali Ezz sudah menjemput Zolla yang sudah siap liburan.


Rambutnya diikat ekor kuda, memakai kaus lengan pendek putih, celana jins hitam, dan sepatu flat putih.


Ezz pun begitu santai menggunakan kaus putih berkerah, celana jins dan sepatu kets.


Senyum keduanya mengembang.


"Duuuhhh.... Kompakan bajunya serasi bener." Komentar Bi Inah.


Keduanya senyum malu-malu.


"Padahal nggak janjian kok, Bi."


"Itu berarti sehati, Neng. Mas, cepet nikahin aja Neng Zolla nya. Kayak pada kuat aja jauhan cuma telepon video aja?" Cerocos Bi Inah membuat Ezz tersenyum.


"Secepatnya Bi."


Zolla langsung merona malu. Ia hanya membawa tas kecil berisi barang pribadinya dan tas berukuran sedang.


"Barang kamu cuma ini?" Tanya Ezz.


"Iya Kak. Papa pesen jangan bawa banyak baju karena mau belanja di sana."


"Ya udah yuk berangkat."


"Bi, aku pamit dulu ya, nanti aku bawa oleh-oleh buat Bibi." Zolla memeluk Bi Inah sekilas.


"Iya Neng. Neng yang seneng liburannya."


"Titip rumah ya Bi."


"Baik, Neng. Mas, jaga Neng Zolla lho."


"Pastinya, Bi."


Setelah tas masuk mobil, Ezz dan Zolla berangkat. Diantar Pak Tejo.


Sepanjang jalan Zolla hanya malu-malu tak berani memandang Ezz. Teringat ciuman mereka ketika menonton film romantis.


"Kenapa merah gitu?" Tanya Ezz membuat Zolla tersentak.


"Merah apa?"


"Itu pipi. Tiap kamu lihat aku pasti deh pipinya begini." Ezz mengelus pipi Zolla sekilas membuat Zolla melotot. Apalagi Ezz melingkarkan tangannya ke bahu Zolla membuat tubuh mereka merapat.


"Iihh Kak, ada Pak Tejo.."


Pak Tejo yang mendengar namanya disebut-sebut jadi senyum-senyum.


"Pak Tejo nggak akan ngintip kok, Neng." Pak Tejo menggeser kaca mobil agar tidak melihat yang dilakukan dua pasang kekasih itu.


"Ihh Pak Tejo apaan sih?"


Apalagi Pak Tejo menyalakan lagu dangdut yang energik hingga mobil begitu berisik.


Ezz tanpa aba-aba langsung menarik Zolla mendekat dan merengkuh tubuhnya.


"Kak.. hmmppppttt..."


Langsung saja Ezz membungkam bibir Zolla dengan ciuman lembut.


Zolla yang merespon begitu manis, membuat Ezz tak yakin dapat menahan diri selama mereka liburan. Hingga makin dalam menciumnya.


Bisa-bisa gue lepas kendali dan garap dia juga. Gue harus segera lamar Zolla.


Mereka menyudahi menyadari masih di mobil. Walau Pak Tejo sedang berdangdut ria berjanji tidak mengintip, siapa yang tahu kalau adegan kissing mereka ada yang merekam dari luar mobil?


"Dari semalem aku nggak bisa tidur pengen makan bibir kamu.." kata Ezz membuat Zolla merengut.


"Iihhhh Kak Ezz nih pikirannya ciuman melulu. Gara-gara nonton film."


Ezz terkekeh. "Lagian kamu yang ngajak nonton."


"Aku kan mana tau filmnya ada adegan begitu. Kak Ezz kan yang lebih tau bukannya kasih tau duluan."


"Aku mana tau lengkapnya. Nggak pernah nonton. Cuma denger alur ceritanya aja. Nanti aku cari film hot lagi biar aku dapat kiss dari kamu... Awww.." Ezz menghindar geli pinggangnya dicubit.


"Genit aja bisanya."


Ezz terkekeh dan merangkul bahu Zolla.


"Restoran gimana Kak? Nggak apa-apa Kakak tinggal?"


"Nggak apa-apa kok. Aku udah prepare semua. Karyawan ku pada bisa dipercaya. Lagipula, ini permintaan langsung dari Papa Gunadi. Gimana bisa nolak? Masa' aku biarin Zolla yang cantik gemesnya Arezzlar ini pergi sendirian?"


Zolla terkikik. "Takut aku kesasar ya?"


"Mending kalo kesasar. Kalo disamber cowok lain, lebih bahaya."


Zolla tertawa geli.


Mereka menikmati waktu berdua sambil bercanda tawa sepanjang jalan.


***


Bandara Ngurah Rai Bali..


Ezz dan Zolla bergandengan tangan menuju pintu keluar.


"Kenapa? Masih pusing?" Tanya Ezz sambil mengusap kepala Zolla.


Zolla mengusap pelipisnya. "Iya Kak. Pertama kali naik pesawat."


Suasana bandara lebih ramai turis asing berlalu-lalang.


"Banyak bule ya Kak?"


"Iya Bali kan destinasi wisata di negara kita yang paling banyak dikunjungi turis. Sekarang kita enjoy liburannya. Tuh supir yang dikirim Papa udah nunggu kayaknya." Ezz merangkul bahu Zolla mendekati seorang pria berseragam petugas hotel.


"Dari hotel Blue Sea?"


"Dengan Mas Ezz dan Mbak Zolla?"


"Iya benar."


"Mari sebelah sini." Pria bernama Pak Udi yang merupakan driver dari hotel tempat Gunadi menginap, sigap membawakan tas-tas ke dalam mobil.


Tak lama mobil melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kawasan bandara.


"Tidur dulu aja." Ezz memijat tengkuk Zolla.


"Nggak mau ah. Udah jauh-jauh datang aku pengen jalan-jalan."


"Iya nanti kita pasti jalan-jalan."


"Pengantin baru ya, Mas?" Tanya Pak Udi.


"Iya Pak." Jawab Ezz enteng langsung kena sikut Zolla yang melotot.


"Kak Ezz nih..."


"Itu doa, sayang.."


Ezz tak ada habisnya menggoda Zolla yang wajahnya sudah merah menahan malu.


Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela melihat pemandangan pantai Kuta.


Tengah hari begini matahari begitu terik. Ada banyak turis sedang berjemur di pantai.


"Dulu Ibu pernah bilang sama aku, kalau ada rezeki Ibu akan ajak aku liburan ke Bali. Karena waktu awal masuk sekolah, aku nggak bisa ikut karyawisata sekolah ke Bali. Ibu nggak cukup uang untuk biaya karyawisata." Zolla jadi murung teringat ibunya.


Ezz bisa merasakan kesedihan Zolla. Karyawisata untuk anak sekolah meninggalkan kesan sendiri, setiap anak sekolah akan mengikutinya. Tapi Zolla tak bisa mengikuti karena keterbatasan biaya.


Zella tinggal dengan Gunadi yang serba kecukupan namun tertekan dengan segala aturan hingga tumbuh menjadi gadis yang keras kepala dan kasar.


Zolla tinggal dengan Lisa yang serba kekurangan namun penuh dengan kasih sayang hingga tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut dan penyayang.


"Ibu pasti bahagia kalau kamu bahagia." Ezz mengusap kepala Zolla agar tidak sedih lagi.


"Iya Kak."


"Boleh aku jawab nggak?" Goda Ezz karena Zolla langsung buang muka tak suka Riani meneleponnya.


"Terserah."


Ezz tersenyum kecil dan menjawab telepon dengan loudspeaker. "Halo?"


"Kak Ezz..."


"Iya ada apa Riani?"


"Kak Ezz ke mana kok pagi-pagi udah pergi? Aku dateng ke restoran mau bawain kue yang aku bikin, katanya Kak Ezz lagi pergi beberapa hari."


"Aku berangkat ke luar kota. Mungkin sekitar seminggu."


"Ke luar kota? Ke mana? Kok nggak bilang-bilang sama aku?"


Mendengar suara sok manja Riani bikin Zolla panas juga.


"Aku udah tinggalin pesan ke HP Vita. Karena tadi pagi kalian belum ada yang bangun."


"Duuh Kak, jadi gimana ini di rumah?"


"Gimana apanya? Kalian udah pada gede kan tinggal berdua aja nggak ada masalah?"


"Ya tapi..."


"Kak Ezz pergi sama aku.." sahut Zolla jengah dengan Riani.


"Lho Kak Zella? Kalian pergi sama-sama? Bukannya kalian udah...?"


"Udah dulu ya Ri, kami udah nyampe hotel dan mau check in. Baik-baik kalian di rumah." Ezz langsung memutus telepon.


Zolla buang muka cemberut.


"Kok bete gitu?"


"Riani kok genit banget sih pake neleponin Kak Ezz?" Zolla merengut membuat Ezz terkekeh ekspresinya begitu lucu.


"Kan bukan aku yang genit. Udah ah kita kan di sini mau bulan madu." Goda Ezz dapat hadiah cubitan.


"Awww..."


"Nakal ni..."


Ezz tertawa geli melihat Zolla cemburu.


HP Ezz berbunyi lagi.


"Zolla, Ibu video call nih.." kata Ezz agak bingung menjawab.


"Jawab aja Kak."


"Kamu bersikap biasa aja ya."


Zolla mengangguk paham.


"Ezz... Apa kabar Nak?" Layar HP penuh gambar Lastri.


"Aku sehat Bu. Ibu Bapak gimana?"


"Ibu Bapak sehat. Bapak masih terapi kaki. Lho ini di mana Nak?"


"Aku lagi di Bali, Bu."


"Sedang liburan? Dengan Zella?"


Zolla merapatkan kepalanya dan tersenyum manis. "Aku ikut, Bu..."


"Waahhh sehat sehat ya menantu Ibu. Gimana? Udah ada tanda-tanda Ibu Bapak punya cucu belum?" Lastri sumringah melihat anak dan menantunya begitu mesra.


"Masih proses Bu. Minta doanya saja. Ini kami sedang honeymoon. Sambil bertemu Papa Gunadi yang sedang perjalanan bisnis."


"Senang Ibu dengarnya. Salam sama Papamu ya Nak. Nanti kapan-kapan berkunjung ke mari. Syukur-syukur kalau datang bersama cucu Ibu."


Zolla dan Ezz hanya tersenyum.


"Ya sudah Ibu tak mau ganggu bulan madu kalian. Sehat-sehat ya anak-anak Ibu."


"Ibu Bapak juga jaga kesehatan."


Begitu telepon diputus, Zolla memalingkan wajah murung.


Ezz paham yang dipikirkan Zolla. Hubungan mereka masih di bawah bayang-bayang Zella. Jelas membuat Zolla galau.


Namun Ezz bertekad akan meyakinkan Zolla dahulu.


***


Tiba di lobi hotel, Gunadi yang baru selesai meeting dengan rekannya dari Jepang, melihat kedatangan putrinya bersama Ezz.


Senyum Zolla mengembang melihat ayahnya, langsung berlari ke pelukan ayahnya.


"Papaaaaa... Aku kangen sama Papa..."


Gunadi memeluk putrinya erat.


"Papa juga kangen sekali sama Zolla. Makanya Papa minta Zolla menyusul ke mari. Gimana perjalanannya?"


Zolla gelendotan di lengan ayahnya. "Capek, Pa. Naik pesawat ngeri, tinggi banget."


"Makanya Papa minta Ezz temani kamu. Ezz, terima kasih sudah membantu Papa."


Ezz mengangguk. "Sama-sama Pa. Aku juga seneng kok bisa liburan."


"Papa senang bertemu kalian lagi. Tapi maaf kalau Papa masih sibuk kerja."


Zolla cemberut dan menarik-narik tangan ayahnya. "Aku kan pengen jalan-jalan sama Papa."


"Iya sayang, Papa akan selesai menjelang jam makan malam. Kita akan makan malam di luar. Selesai jadwal Papa, Papa akan menghabiskan waktu dengan Zolla. Ya sayang?"


Zolla mengulurkan jari kelingking. "Janji dulu."


Ezz dan Gunadi kontan tertawa kecil melihat tingkah Zolla yang polos begitu manis.


Gunadi mengaitkan jari kelingkingnya. "Janji."


Senyum Zolla mulai mengembang.


"Kalian masuk kamar saja dulu. Minta kuncinya pada resepsionis. Papa sudah pesankan 2 kamar."


"Baik, Pa."


"Papa pergi dulu ya, sayang.." Gunadi memeluk putrinya erat dan mengecup pucuk kepalanya.


Begitu Gunadi pergi, Ezz menggamit tangan Zolla menuju resepsionis.


Sudah dapat 2 kunci kamar, berdua mereka menuju lift.


"Kita sekamar aja mau nggak?" Bisik Ezz dapat hadiah pelototan Zolla.


"Nggak ada Papa, Kak Ezz nakal nih.."


"Lho sebelumnya juga kita kan sekamar."


Zolla mencubit pinggang Ezz gemas. "Iihhhh..."


Tiba di kamar, Ezz membukakan pintu.


"Kamu istirahat dulu. Nanti sore aku ajak kamu ke pantai lihat sunset."


"Iya Kak." Zolla buru-buru masuk kamar dan menguncinya.


Ezz terkekeh. "Zolla mulai nyadar kali bahayanya ciuman. Dia jadi waspada sama gue."


Ia berbalik ke kamarnya sendiri yang berada tepat di sebelah kamar Zolla.


Jangan gegabah, Ezz.. kalau lo salah langkah, bisa-bisa lo kehilangan Zolla, batinnya.


***