Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Berbohong


Brakkkk...


"Aarrgghh... Di mana sih Papa nyimpen semua sertifikat aset? Kok nggak ada? Brankas juga ada."


Zella frustasi sudah mengacak-acak ruang kerja Gunadi tidak menemukan apa-apa.


"Gue nggak boleh nyerah. Kalo di sini nggak ada, berarti ada di kamar Papa. Gue cek ke sana."


Langkah Zella agak lambat karena perutnya yang membesar membuatnya sulit bergerak bebas.


"Nyusahin aja ni anak! Kalo bisa gue lahirin sekarang gue berojolin juga deh biar nggak repotin gue!" Gerutunya sambil masuk kamar Gunadi, namun pintunya dikunci.


"Aarrgghh pake dikunci. Bi Inah!! Mana kunci kamar Papa!!??" Teriaknya.


Biasanya Bi Inah langsung datang begitu dipanggil.


"Bibiiii..."


Tapi tak ada tanda-tanda Bi Inah akan muncul.


Zella mendengus kesal. "Ya udah, mumpung pada nggak ada, gue jebol juga nih kunci kamar Papa!"


Lalu Zella menuju garasi mencari sesuatu dari kotak perkakas. Begitu dapat yang dicari, ia masuk rumah.


Memang sudah melekat tindak kriminal pada Zella, menggunakan obeng dan palu, ia bisa membobol kunci kamar Gunadi hingga sukses terbuka.


"Yes! Gue harus segera ambil sertifikat aset." Zella langsung mengacak-acak isi kamar Gunadi.


Yang mana tak akan ditemukan Zella karena Ezz sudah menyembunyikannya.


Ezz yang sudah memasang CCTV di setiap sudut rumah, tertawa licik melihat tingkah Zella kewalahan mencari sesuatu yang tidak bisa ditemukan. Jelas Ezz sudah mengamankan semuanya.


***


Menjelang sore, Zolla terbangun begitu pintu dibuka.


Muncul Foga membawa kantong plastik berisi banyak Snack.


"Foga, kamu sayang nggak sama Zella?" Tanya Zolla membuat Foga menatapnya tajam.


"Apa urusan lo?"


"Ya jelas urusanku. Dia lagi hamil anak kamu kan?"


"Kalau kamu cinta sama dia, kenapa kamu tega biarin dia kembali ke rumah Papa?"


"Itu keputusan dia sendiri."


"Tapi dengan begitu, kamu ngebahayain dia dan bayi kalian. Kamu nggak tau kan segimana Kak Ezz benci sama Zella?"


"Lo nggak usah ngomong ngaco. Kemarin gue liat lo sama Ezz baik-baik aja. Dia keliatan care sama lo."


Zolla menggeleng cepat. "Kamu harus tau, Ga. Kak Ezz itu, cuma baik di depan semua orang. Kalau udah berduaan, aku aja nggak bisa tidur nyenyak waspada karena dia pernah bekap aku pakai bantal saat tidur. Aku hampir mati. Dia itu kejam apalagi kalau sama Zella!"


Foga mulai cemas namun berusaha tak ambil pusing.


"Kamu nggak percaya? Asal kamu tau aja, dalam aku kondisi hamil begini dia nggak peduli, dia terus minta jatah ranjang, setiap malam, nggak pernah puas. Dia nggak peduli aku sampai keram dan kesakitan. Dan sekarang, Zella ada di sana. Kalau Kak Ezz paksa Zella berhubungan badan, pasti anak kalian nggak akan selamat karena Kak Ezz itu kasar banget, Ga."


Foga jadi makin khawatir Zolla berkata jujur.


"Dan lagi, kamu tau kenapa kami sampai pindah ke rumah Papa, karena aku masuk rumah sakit gara-gara Kak Ezz KDRT. Dia itu mantan gangster dan kasar banget, aku dipukuli kalau bikin sedikit kesalahan aja. Sekarang kamu biarin Zella ke sana, siap-siap aja kamu akan kehilangan anak kamu." Zolla berusaha mempengaruhi pikiran Foga.


"Lo nggak bercanda kan?" Foga jadi takut membayangkan yang akan terjadi pada Zella.


"Ngapain aku bercanda? Perlu aku buka baju untuk tunjukkan semua bekas luka yang dibuat Kak Ezz!" Zolla bersiap membuka pakaian, Foga auto panik.


"Wait wait! Nggak usah nggak usah dibuka.. iya gue percaya. Terus gue harus gimana??"


"Ya kamu selametin Zella. Apa lagi?"


Foga mengeluarkan HP dari saku. "Aarggh gue lupa si Zella nggak bisa dihubungi."


Demi agar tidak dicurigai Zella tidak membawa HP nya.


"Tunggu apa lagi, Ga? Cepet kamu selametin Zella! Aku juga nggak mau dia celaka!"


Tanpa pikir panjang, Foga bergegas keluar kamar dan menguncinya.


Tak lama telinganya menangkap suara deru motor dari samping, begitu berisik, dan jalan menjauh.


Zolla terduduk lemas. Keringat sampai membasahi keningnya.


Kini ia hanya bisa menunggu.


***