Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
23. Buka Puasa (2)


🌼 Eza


Aku tidak menyangka, jika bercin ta dengan Bian bisa memberiku gelenyar luar biasa yang tak pernah kurasakan dengan istri pertamaku. Aku betah dengan sesi foreplayyy yang panjang. Seolah aku memang tidak ingin cepat-cepat menyudahinya.


Debaran yang kucari, kutemukan di sosok bidadariku ini, Biani Andrea.


Tubuh indahnya, kulitnya yang seputih susu, aroma tubuhnya yang wangi, dan suara-suara de sahannya yang begitu membakar hasratku membuatku tak ingin lepas dari istriku ini.


Setelah berbisik di telinganya dan memberi kecupan di sana, bibirku merangsek turun perlahan. Menciumi lehernya yang jenjang, lalu turun lagi ke dadanya yang sudah berhias kiss mark di mana-mana, sungguh membuatku membanggakan permainanku yang penuh gai rah ini. Gila. Aku sudah benar-benar menggila.


Ciu manku turun ke perut rampingnya. Membuat Bian menggelinjang merasakan sensasi geli yang kuciptakan. Ia sampai setengah bangun dan spontan jemarinya menjambak rambutku.


Dengan gerakan yang semakin menggila, aku merobek cela na dalamnya, lalu melemparnya ke sembarang arah, sehingga kudapati buah peach ranum yang siap kulahap.


"Ouucchh... Mass,... apa.. yang kamu lakukan?! Aaakhhh..... Maaass..."


Suara rintihan penuh dambaan yang terus lolos dari bibir Bian semakin membuatku tertantang dan semakin menggila. "Menikmati buah peach yang kamu sembunyikan di bawah sini, sayang.."


Bian menggelinjang hebat saat lidahku dengan lincahnya melesak dan memainkan intinya, dan jemari juga ikut membantu menyentuh intinya. Sebelah tanganku juga tak kubiarkan menganggur, dia mere mas payud ara besar dan mon tok berisi milik Bianku.


"Ini wangi sayang.. Peachmu sangat wangi dan lezat.."


"Shaayang.. eemmmhhh.. Aku sudah tidak tahan.. Akuu tidak tahan lagi, mass..." rintih Bian.


"Keluarkan sayang.. Eeemmppphh.. Aku akan membantumu.." kumainkan jemari dan lidahku dengan lincah pada inti Bian. Memancing pelepasan yang memuaskan bagi istriku. Hingga tubuhnya melengkung dan suara paraunya mende sah dan mele nguh didera rasa nikmat yang tak terdefinisikan. Dan tak lama, lahar putih yang hangat dari peach ranum Bian mencuat keluar dengan derasnya. Melegakan.


Aku tidak pernah segila ini, sungguh. Bahkan bersama Maharani, aku tak pernah memainkan intinya dengan bibirku. Aku tak pernah menggodanya seperti yang kulakukan pada Bian. Aku bahkan tidak pernah sesuka itu memberi kiss mark di bagian tubuh Rani yang manapun.


Hubungan suami istri yang kulakukan dengan Rani hanya sebatas pemenuhan kewajiban nafkah batin saja. Tidak ada gairah liar yang membuatku bertindak senakal ini. Semua kulakukan dengan sederhana. Penyatuan dan pelepasan terjadi sekedarnya saja.


Dengan Bian, naluri ke-lelaki-anku seolah bangkit. Menggila. Dan mendamba dengan amat sangat. Semua yang ada di tubuh Bian sangat memabukkanku. Membuatku hilang kendali. lekuk tubuh, aroma tubuhnya, bahkan suara desahannya. Aku menyukai semua yang ada di diri Bian. Istri tercintaku.


Aku ******* lagi bibir sek si Bian. Tidak pernah puas aku menyesap dan membelit lid ah wanitaku ini. Sensasinya masih sama. Manis dan memabukkan. Memabukkan dan manis.


Dengan gerakan kasar dan tak sabar, aku melepas celana sia lan yang masih melekat di tubuhku. Mengeluarkan senjata tumpul laras panjangku yang sudah memberontak sedari tadi. Ingin menunjukkan keperkasaannya.


"Mas Ezaaaaahh.. Aaaawwhhh.. Eemmmpphh.. Ssshh.. Mas.. Ssssshh.."


Era ngan kacau dari Bian tak lain karena ritme ayunan pinggul gila yang kulancarkan. Aku sungguh tak bisa mengontrol diriku sendiri. Apalagi sen jataku. Semua bersinergi karena gejolak naf su yang meluap-luap ingin dipuaskan.


"Sakit sayang?"


"Iyaaa.. aaahhh.."


Aku melambatkan gerakanku, dan memastikan lagi apa benar Bian kesakitan, "Sakit?"


Bian menyeringai, "Tadi pas masuk aja, Mas.."


"Berarti sekarang sudah enak kan..?"


"Eerrghhhh.." Bian hanya membalas dengan lengu han panjang. Karena aku menaiikkan kembali kecepatan ritme hantaman pinggulku. Tidak ada waktu istirahat, sayang.. Aku benar-benar menginginkanmu seutuh-utuhnya.


...****************...


🌼 Bian


"Aaagghhhh..." Suara bass favoritku ini mendessah panjang saat pelepasannya yang kedua kali menghujam rahimku. Aku menjatuhkan diri ke dada bidangnya.


Ya, aku jadi pemimpin pergulatan panas ronde kedua ini. Setelah sesi pertama saja sudah sangat melelahkan. Mas Eza menggila dengan mencumbuiku tanpa ampun. Membolak-balik tubuh rampingku dengan tendensi ingin bercin ta dengan berbagai gaya. Dan hanya jeda lima menit setelah pelepasannya yang pertama, suamiku yang amat perkasa ini langsung membawaku ke gelombang cinta sesi kedua.


Intiku sudah perih tak terkira. Perutku penuh dengan gelenyar aneh. Pinggul dan tulang-tulang di sekitarnya sudah lemas tak berdaya. Tapi kenikmatan yang kurasa membuat wajah kemerahanku ini tetap mengukir senyum.


"Sayangku.. Biani cintaku.. Aku sangat mencintaimu." ungkapan cinta dari mas Eza terus terlontar disela nafasnya yang tak beraturan. Dia mencium puncak kepalaku. Dalam dan lembut.


"Terima kasih , mas.. Bersamamu aku merasa benar-benar dicintai.. Terima kasih suamiku.." lirihku sebelum benar-benar terkulai lemas.


...****************...


🌼Happy Reading 🌼