
🌼 Maharani
"Inget Rani.. Kamu bekerja bukan untuk mencari nafkah, itu tanggung jawabku. Jadi jangan terlalu lelah." penuturan menyejukkan itu kudengar langsung dari suamiku. Membuatku merasa dihargai sebagai seorang istri. Karena sejatinya, aku bekerja memang bukan untuk menafkahi rumah tangga. Tapi untuk mengenal dunia luar yang selama ini sangat jauh dariku.
Yaaah.. Meskipun dunia luar yang kumaksud, jangkauannya tak lebih luas dari dunia Mas Eza. Bahkan bisa jadi kurang dari setengahnya. Tapi tak apalaah.. Daripada tidak menyapa dunia luar sama sekali ya, kaan..?
"Iya, mas.. Aku mengerti." balasku sambil tersenyum.
"Sayaang.. Aku sudah selesai. Buruan kamu ke kamar mandi.. Cepetan. Bentar lagi ashar.."
*Deg !!
Setitik perasaan aneh menjalari naluriku sebagai wanita. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak mengerti apa artinya perasaan tidak enak ini. Terlalu dini untuk menyebutnya sebagai firasat. Toh suara wanita yang kudengar itu sangat samar, artinya posisi wanita itu tidak berdekatan dengan mas Eza.
Dan satu lagi, sekarang masih pukul 14.27. Itu berarti mas Eza masih ada di kantor bukan?
"Mas, itu suara siapa?" tanyaku dengan dada was-was. Khawatir mendengar jawaban apa yang akan diberikan mas Eza.
"Oh, itu temen kantor Ran.."
"M-manggil Mas Eza?" tanyaku lagi, semakin lirih dan gemetaran.
"Bukan Rani.. Manggil temen kantorku yang lain.."
"Oh.. Ehmm.. Terus, mas Eza ada di mana sekarang? Kok itu ngomongin ke kamar mandi?"
"Di kantor. Iya mereka memang lagi antri gantian ke kamar mandi. Disuruh cepet-cepet soalnya abis ashar nanti kita mau datengin klien proyek pembangunan apartment di Sidoarjo. Tempatnya lumayan jauh, jadi kalau berangkatnya kesorean, pulangnya bisa kemaleman banget.."
"Ooh.. gitu.." balasku sambil menghela nafas lega. "Apa mas juga ikut ke Sidoarjo?"
"Iya Rani.. Karena itu aku sempetin telepon kamu sekarang, karena nanti aku sudah sibuk lagi.."
"Jangan kepikiran yang tidak-tidak yaa.."
"Aku tutup dulu teleponnya, Rani.."
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam, Mas Eza.."
Mas Eza lelaki sholeh dan baik hati. Dia juga selalu bersikap lembut kepadaku dan kepada mamanya. Tidak ada hal buruk yang pernah dilakukan mas Eza padaku. Jadi, aku percaya sepenuhnya pada suamiku.
Aku kembali masuk ke dalam toko. Setelah menerima telepon mas Eza tadi, aku meminta ijin untuk keluar ke depan toko. Agar tidak ada teman-teman kerjaku yang usil menggoda saat aku mengobrol dengan Mas Eza.
Di dalam toko, hanya ada satu dua orang pembeli. Itupun mereka tidak ingin dilayani. Jadi sebagian besar teman-temanku berkumpul dan bercanda tawa di dekat etalase kosmetik. Aku pun menghampiri.
Ada mas Reno juga disana. Pemilik toko swalayan tempatku bekerja. Mas Reno adalah om dari Dian, sahabatku. Yang mengajakku bekerja disini. Dia seorang duda beranak satu. Istrinya meninggal dalam kecelakaan dua tahun lalu. Meninggalkannya dan anak mereka yang masih berusia lima tahun.
"Si Rani kayaknya abis telponan sama suaminya tuh.. Ciyee.." seloroh Sari, salah seorang karyawan toko. Teman kerjaku. Aku hanya menanggapinya dengan senyum simpul.
"Akhirnya.. Dari kemarin-kemarin udah kepikiran aja, soalnya suaminya gak nelpon dia sama sekali." sahut Tia dengan lagak sok tau yang menyebalkan.
"Makanya, mbak Rani.. Suami itu jangan boleh kerja jauh-jauh.. Yang deket aja bisa lolos, apalagi yang jauh-jauhan..? Laki sekarang udah gak ada yang bisa dipercaya. Tampilannya doang kalem, aslinyaa mulutnya pinteeer bener nipu istri.." seloroh Rumi. Perempuan yang sudah mempunyai anak dan suami di usianya yang baru menginjak 18 tahun. Bahkan pendidikannya SMA harus diselesaikan melalui program kejar paket C.
Ingin sekali aku membalas, 'Itu kan suamimu.. Bukan suamiku!' Tapi yang terjadi, aku tetap membisu dan tersenyum simpul.
"Iya, Ran.. Seenggaknya tuh, kalau suamimu kerja di Surabaya, kamu minta dong sama suamimu buat ikut tinggal di sana.. Biar gak usah LDR-an.. Pelakor jaman sekarang ada dimana-mana, ya kan..?" Sari menimpali.
"Iya, aku juga maunya begitu. Suamiku sudah menyanggupi, tapi nanti mbak, kalau sudah dapat tempat tinggal yang layak untuk ditinggali bersamaku dan mamanya.." Aku akhirnya buka suara. Menjawab semua penilaian buruk mereka terhadap suamiku.
Seenaknya saja mereka bicara, seolah sudah mengenal mas Eza. Padahal bertemu saja tidak pernah.
"Gak apa apa, Mbak Rani.. Tinggal sepetak juga. Asal bisa nempel terus sama suami. Jangan kasih celah sama pelakor.." timpal Rumi lagi.
"Heh.. Kalian ini kok malah ngomporin Rani sih?! Gak jelas banget.." kali ini mas Reno membantuku. "Gak semua laki-laki suka selingkuh.. Saya contohnya."
"Huuu.. Mas Reno.. " seloroh mereka sambil tertawa-tawa.
"Gak usah dipikirin ya Rani.. Mereka memang sering kelewatan kalau becanda. Kamu perempuan yang baik. Jadi pasanganmu pasti lelaki yang baik juga.." Mas Reno menatapku dan mengucapkannya dengan lirih.
"I-iya mas.." jawabku dengan mengulas senyum. Seharian ini, selain ucapan mas Eza, Akhirnya aku mendengar satu perkataan lagi yang menenangkan. Yaitu dari mas Reno. Apa memang begini lingkungan kerja? Penuh dengan toxic dan kenyinyiran yang menyebalkan.
Apapun yang mereka katakan, hatiku masih sama. Aku percaya suamiku.
...****************...
🌼 Happy Reading 🌼