
🌼 Maharani
"Wah Rani.. Kamu sudah pantas jadi mama Rayhan sepertinya.."
Uhuk... Uhuk..
Tiba-tiba aku tersedak entah karena apa. Mendengar ucapan mas Reno barusan jelas membuatku terkejut. Entah apa maksud mas Reno mengatakannnya. Mungkin hanya bermaksud bercanda. Tapi jujur saja, candaannya membuatku sedikit tersinggung.
"Hahaha.. Rani, aku hanya bercanda. Kamu sampai batuk-batuk gitu.." ujar mas Reno santai. Pria itu lantas duduk di samping Rayhan seperti tak punya dosa.
Memang hanya bercanda, tapi entah kenapa hatiku terasa kecut mendengarnya. Aku jadi teringat mas Eza, tentang pernikahan kami yang belum dikaruniai anak, dan tentang Rayhan yang mungkin saja jadi mengingat mamanya setelah aku menyuapinya.
Lagipula, status mas Reno yang seorang duda juga jadi salah satu alasan yang membuat aku tak seharusnya ada di sini. Kalau ada orang yang tidak mengenal kami melihat kamu duduk dan makan bertiga seperti ini, pasti akan salah paham.
"Saya permisi kembali ke toko ya mas.." pamitku yang tidak ingin memperpanjang situasi canggung ini.
Mas Reno mengangguk seraya tersenyum ramah. "Jangan tersinggung ya, Ran.."
Aku pun mengangguk sebelum berdiri dari dudukku. Tapi celetukan suara Rayhan membuatku tercenung. "Tapi Rayhan suka disuapi kak Rani. Rayhan mau disuapi terus sama kak Rani.."
"Eh Rayhan.. Gak boleh gitu. Nanti ngerepotin kak Rani." tegur mas Reno.
Bocah lima tahun itu tertunduk lesu. Ia bergumam pelan, seolah ditujukan untuk dirinya sendiri. "Rayhan sudah lupa rasanya disuapi mama. Lebih enak disuapi kak Rani.."
Salahku saja yang punya pendengaran tajam. Aku mendengar ucapan anak lima tahun yang merindukan kasih sayang ibunya, dan hatiku merasa iba karenanya. "Kalau Rayhan mau, kak Rani suapi kalau makan siang di sini yaa.."
Netra Rayhan tampak berbinar terang dengan senyum lebar menghias wajah imutnya. "Asiiik.. Hore.. Hore......" pekiknya kegirangan.
Aku refleks tersenyum melihat ekspresi Rayhan. Kalau saja aku tidak lihat wajah bersalah mas Reno, ingin rasanya ikut tertawa renyah bersama Rayhan.
"Maaf yaa Rani.. Pasti jadi ngerepotin kamu." tutur mas Reno.
Hmm.. padahal tadi dia yang mancing-mancing aku dibilang pantas jadi mama Rayhan.
"Gak apa-apa kok mas. Santai aja." akupun langsung pamit undur diri untuk kembali bekerja. Meninggalkan mas Reno dan Rayhan yang masih betah duduk di pantry.
Aku pun melanjutkan pekerjaanku. Melayani pembeli yang datang ke toko, membersihkan produk-produk yang dipajang di rak toko, dan tak lupa mendengar ghibahan dari teman-teman kerjaku yang lain yang menambah keseruan bekerja setiap harinya. Sampai tak terasa waktu pulang kerja pun tiba.
Pukul enam sore aku baru menginjakkan kaki di rumah. Mama mertuaku sedang khusyu menunaikan ibadah sholat maghrib, jadi aku hanya mengucapkan salam sekedarnya saja lalu masuk ke dalam kamar.
Aku menelepon mas Eza terlebih dulu. Berharap telepon kali ini mendapat jawaban dari lelaki yang sejujurnya sangat kurindukan itu. Setidaknya, aku ingin mendengar suaranya untuk mengobati rasa rinduku.
"Halo, assalamualaikum." suara bass nan merdu itu membuatku menghela nafas lega. Mas Eza menjawab telepon dariku. Aku sangat bahagia karenanya.
"Waalaikumsalam, Mas.. Bagaimana kabar mas Eza? Sekarang apa mas Eza sudah pulang dari kantor? Sekarang sudah di kost apa masih di kantor? Mas Eza sudah makan?"
Terdengar suara kekehan dari seberang sambungan ponsel. Aku memgerutkan kening mencari tau apa yang lucu sampai mas Eza menertawakanku.
"Hehe.. Kamu mau aku jawab yang mana dulu, Ran? Baru juga ngucapin salam, udah diberondong pertanyaan." sahut mas Eza lembut. Aku sontak memegang dadaku sendiri. Merasa ada debaran aneh yang membuatku bahagia tak terkira.
"Eh ehmm.. Maaf, mas.. Jawab satu-satu aja.. Boleh yang mana aja dulu mas Eza."
"Oke, yang pertama, kabarku baik-baik saja. Kedua, ini aku baru aja mau pulang Ran.. Masih di parkiran kantor. Terus kalau makan, nanti saja kalau sudah sampai kost aku makan."
"Oh gitu ya mas.. Ya sudah mas Eza pulang dulu saja. Nanti kalau sudah sampai kost disambung lagi telponannya.. Rani juga belum sholat maghrib nih mas.."
"Iya, Ran.. Aku pulang dulu yaa. Tapi kayaknya nanti ga bisa telponan dulu, soalnya hp aku lowbatt.. Paling bentar lagi mati."
"Yaah.. Gitu ya mas?" aku mendesah kecewa. Tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah jadi derita berhubungan jarak jauh.
"Iya, Rani.. Nanti setelah baterai hp full, aku telpon kamu lagi. Sampaikan salamku ke mama.. InsyaAllah sabtu ini aku pulang."
Sambungan ponsel berakhir setelah itu. Tapi aku tenang mendengar kalimat terakhir mas Eza. Setidaknya dua hari lagi, aku bisa bertemu suamiku dan menuntaskan rindu yang membuncah ini. Ah, aku jadi tidak sabar menantikan sabtu datang. Menunggu waktu temu untuk menghapus rindu.
Bersambung 🌼
...****************...