
🌼 Eza
Sejak kapan berbohong itu mudah? Bagiku sangat sulit. Aku tidak hanya membohongi Maharani, tapi juga Biani, istri kedua sekaligus wanita yang kucintai. Bahkan secara tidak langsung, aku pun membohongi mamaku.
Aku tau aku salah. Sangat salah. Bahkan karena rasa bersalahku, setiap malam aku bermimpi kehilangan orang-orang yang kusayangi akibat kesalahanku. Dan itu adalah mimpi terburukku seumur hidup.
Awalnya aku merasa semua akan baik-baik saja. Selama Maharani dan Bian tidak tau keadaan yang sesungguhnya. Toh, aku masih bisa memberi nafkah pada kedua istriku. Aku pun bisa membagi waktu untuk keduanya. Weekday aku tinggal di Surabaya bersama Biani, dan saat weekend tiba aku pulang ke Jember dengan alasan berkunjung ke rumah mama. Perfect plan. Tapi dalam hakikat poligami, aku tau dengan jelas itu tidak bisa dikatakan sebagai suatu keadilan dalam berpoligami dengan kedua wanita itu.
Biani terus bertanya kapan aku mengenalkannya pada mama. Ia seringkali meminta aku mengajaknya pulang ke Jember. Tapi itu suatu hal yang mustahil. Sama saja dengan bunuh diri dan mengungkap semua kebohonganku selama ini.
Maharani pun mulai kesulitan menghubungiku. Meskipun seperti biasa, dia tidak pernah mendesak atau terang-terangan mengatakan kecurigaannya, tapi aku yakin ia pun mulai tidak nyaman dengan rutinitasku yang sulit berkomunikasi dengannya.
Hatiku tidak bisa berbohong. Sejak awal hati ini memang sudah tidak adil dalam membagi cinta dan perasaan untuk kedua istriku. Cinta untuk Bian terlalu besar, hingga perlahan Maharani sama sekali tidak punya tempat di hatiku. Dari awal memang aku tidak bisa mencintai Rani. Tapi jika dulu aku masih menghargainya sebagai istriku, kini rasa dalam bentuk apapun sudah tak nampak lagi.
"Sayang, kamu lagi mikirin apa?" suara lembut menyapa telingaku. Aku menoleh ke belakang. Bian berdiri di sisi kiriku. Jemarinya yang lentik bertengger di bahuku. Aku sedikit menarik tangannya agar wajah cantiknya semakin dekat denganku. Hingga cukup dekat untuk kudaratkan kecupan di pipi dan bibirnya.
Kutarik lagi pinggang Bian agar wanitaku ini duduk di pangkuanku. Semakin lekat ku tatap wajahnya yang berseri dengan senyuman manis yang tak pernah lekang. Bian pun mengalungkan kedua lengannya di leherku.
Malam ini aku yang tadinya merokok di teras rumah usai makan malam, tapi pikiranku semakin melanglang buana tak tentu arah. Hingga aku terlambat masuk ke dalam rumah padahal rokok di tangan sudah habis sedari tadi.
"Maaf ya, kamu nungguin aku dari tadi ya..?" ucapku seraya mengelus punggung Bian.
"Heem.. Lagian aku liat dari tadi mas Eza ngelamun gitu. Mikirin apa sih..?"
"Gak mikirin apa-apa sayang.."
"Heemm.. Bohong.." Bian mengerucutkan bibirnya. Dan itu semakin menggemaskan di mataku, sampai jemariku mencubit bibirnya karena tak tahan melihat betapa manja istri cantikku ini.
"Jadi sekarang main rahasia-rahasiaan nih sama istri sendiri?" rajuk Bian.
"Bukan apa-apa, sayang.." aku menghela nafas panjang. "Aku cuma lagi mikirin gimana caranya memberi tahu mama aku tentang hubungan kita."
Setelah mengutarakan pikiranku, aku melihat raut wajah Bian sedikit berubah. Senyumnya masih ada. Tapi raut sendu itu tak luput dari pengamatanku.
"Iya, mas.. Aku ngerti."
"Maaf Bi.. Aku tidak bermaksud merahasiakanmu, atau membuatmu menjadi seperti wanita simpananku.. Tapi keadaan yang tidak memungkinkan untuk aku mengenalkanmu pada mama sekarang.."
"Aku mengerti, sayang.. Maaf kalau kemarin-kemarin aku mendesak mas Eza untuk cepat-cepat membawaku ke Jember. Aku akan bersabar mas.. Asalkan bisa terus bersama mas Eza, aku akan bersabar menunggu waktu-waktu yang indah itu terjadi."
"Terima kasih sayangku.. Istriku yang cantik dan sangaat aku cintai." kudaratkan ciuman mesra di bibir Bian. Bibir yang menjadi canduku. Wanita yang memenuhi seluruh ruang di hatiku. Ya. Seluruhnya.
"Kalau gitu besok aku ijin pulang ke Jember ya, Bi.."
"Iya, mas.." sahut Bian. "Besok pagi-pagi aku belikan kue dan buah-buahan buat mama kamu ya, mas.. Masa mas Eza pulang dengan tangan kosong.."
Aku mengangguk. Siapa yang tak senang punya istri yang juga peduli sama orang tua kita?
"Besok mas juga pulangnya pakai mobil aku aja.."
"Gak perlu, sayang.. Aku naik kereta api aja."
"Ta-pi...."
"Gak apa-apa sayang.. Daripada nyetir sendiri.. Capek." ucapku berkelit. Padahal aku malas saja mengarang cerita perihal mobil Bian yang pasti akan dipertanyakan oleh Rani dan mama.
"Ya udah deh kalau itu mau kamu mas.."
Biani memelukku erat. Sebagai balasan atas dekapanku pada raganya. Malam yang dingin tidak terasa menggigit. Kami punya cara untuk saling menghangatkan. Mendekap, mencumbu, menikmati setiap lekuk tubuh Bian selalu berhasil membuat suhu tubuhku memanas. Kami pun menikmati malam panjang berdua sebelum esok aku harus pergi meninggalkannya selama dua hari.
......................
Happy reading 🌼