Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
36. Terlalu Sempurna


🌼 Bian


Hari ini aku duduk di kantin kantor menunggu pesanan makan siangku datang. Di depanku, Ocha sudah melahap batagor pesanannya.


"Kamu pesen apa sih Bi..? Kok lama banget ga dianter-anter.." cicit Ocha.


Aku mengangkat bahu. "pesen mie ayam komplitnya bang Mi'un.."


"Buset.. Bisa jam satu ntar baru dateng." cibir Ocha. "Mie ayam terbest- best seller in the world dipesen pas jam makan siang begini...mana bang Miun lelet banget kalau jualin.."


Aku mengiyakan.. Tapi bagaimana lagi.. "Lagi pengen siih..."


"Dih.. Kayak orang ngidam aja." seloroh Ocha, membuat kami bertatapan sepersekian detik lalu tergelak bersama.


Mengingat kata 'ngidam' yang menjerumuskanku dalam kebodohan karena mengira aku sedang hamil anak Oland. Namun Kebodohan ini yang akhirnya membawa berkah. Bertemu dengan mas Eza dan menikah dengannya. Lelaki sholeh, baik hati, dan sangat mencintaiku. Aah.. Berkah mana lagi yang aku dustakan?


Belum juga pesanan mie ayamku datang, aku dikejutkan dengan kedatangan pak Frans ke meja tempat aku dan Ocha duduk untuk beristirahat makan siang. Pak Frans adalah kepala auditor pajak PT. AKP.


"Bi.. Sorry ganggu. Tapi saya mau minta tolong nih."


"Iya, pak Frans.. Ada apa ya?"


"Nanti setelah makan siang bisa tolong ke PT. XY, perusahaan arsitektur yang ada di jalan XYZ.."


"Oh iya Pak.. Saya tau.." binar di wajahku langsung terang benderang. Bagaimana tidak, itu adalah kantor mas Eza.. Aku disuruh ke kantor mas Eza?? Dengan senang hati.. Yeaayness!!


"Tolong gantikan saya kesana yaa.. Mendadak Pak direktur ngajak meeting. Saya sudah terlanjur janji sama manager keuangan PT. XY untuk ambil berkas-berkas auditing pajak mereka. Tapi meeting sama pak Direktur ga boleh diwakilkan. Mankeu PT. XY juga gak mau digantikan sama stafku. Maunya sama kepala-kepala aja.. Jadinya harapanku cuma kamu, Bi.."


"Bisa Pak Frans.. Saya bisa." jawabku cepat. Tak kuperdulikan perut keroncongan yang menyerang karena belum sempat melahap makan siang.


Ocha mencibirku. Ia jelas tau alasanku menjadi bersemangat secara tiba-tiba. "Dih seneng banget yang mau visit ke kantor ayang. Inget Bi.. Tujuanmu kesana buat kerja. Bukan pacaran..."


"Dih sirik aja... Sekali dayung dua pulau terlampaui apa salahnya, ye kaan...?" aku terkekeh geli.


"Okelah, thanks Bi." pungkas pak Frans. "Nanti ketemu manager Keuangannya yaa.. Namanya Ibu Rency. Orangnya saklek gitu.. Tapi kalau sama kamu, aku yakin sih dia luluh."


"Beres pak Frans.. Serahin sama Bian.. Everything's gonna be fine." ucapku seraya mengacungkan jempol.


Aku langsung beranjak ke ruanganku, untuk mengambil tas dan bersiap-siap sekedarnya. Aku masih bisa mendengar suara Ocha mencibirku lalu terkekeh. "Duh.. Kayak ABG kasmaran aja sih kamu Bi..


Memang, aku seperti bocah SMA yang kegirangan karena disuruh masuk ke kelas pacar. Aahh... So excited!


......................


🌼 Eza


Aku melangkah keluar ruangan pak Aldo, manager areaku, dengan senyum lebar dari telinga ke telinga. Tak lupa sedikit mengangkat dagu karena rasa bahagia membuncah yang tak bisa kututup-tutupi. Saking senangnya, aku menyapa semua orang yang kulewati sambil bersenandung kecil.


Pencapaianku akhir-akhir ini membuatku bangga. Banyak klien yang menyatakan puas dengan desain yang kubuat. Hampir semua project yang kuambil berhasil. Pencairan kontrak berjalan cepat. Para klienku juga memberikan feedback positif sehingga perusahaan menotice prestasiku.


Pak Aldo terus memuji. Dan puncaknya tadi, pak Aldo mempercayakan seorang klien VIP untuk dikerjakan oleh seorang arsitek junior sepertiku. Ini jelas batu pijakan berlapis emas yang siap mengantarku ke posisi yang lebih tinggi. Aah.. Aku melihat masa depan terang benderang di depan mata.


Maklum, arsitek junior sepertiku, biasanya hanya mendapat klien orang biasa. Dengan nilai kontrak yang tidak tinggi tentunya. Atau yang lebih parah, kami harus mencari klien sendiri untuk meningkatkan portofolio pribadi maupun perusahaan. Jadi mendapat klien VIP dengan kontrak tinggi jelas menjadi impian kami, para junior, untuk mengepakkan sayap indah kami agar terlihat oleh petinggi perusahaan.


"Duh ceria amat Za... Dapet project gede nih kayaknya.." seloroh Pram sesaat setelah aku memasuki ruanganku.


"VIP, bro.." jawabku sambil menaikkan alis. Menyombongkan diri di depan teman sejawat. Aku melirik Erwin di kubikelnya, terlihat sibuk menatap layar laptopnya. Atau lebih tepatnya.. pura-pura sibuk.


Erwin adalah teman dari semasa kuliah. Dia juga anak rantauan sepertiku. Kami sama-sama berawal dari kantor arsitekttur Jember. Sampai dipindah ke Surabaya pun kami bersama. Awalnya menyenangkan punya teman setanah rantauan. Tapi sebuah kesalah pahaman membuat dia menjauhiku.


Berawal dari seorang klien Erwin yang meminta ganti arsitek pada perusahaan. karena menyebut Erwin sering mangkir dari janji temu. Kemudian perusahaan menunjukku untuk menggantikan. Sejak saat itu, Erwin tampak tak enak hati padaku.


Ia tak pernah menanggapiku saat aku bicara. Ia juga tak lagi menegurku. Hanya bicara hal yang menurutnya penting saja. Tapi biarlah.. Apa peduliku. Toh, kliennya yang lepas adalah buah dari kesalahannya sendiri. Dan aku yang menggantikan juga atas perintah atas. Bukan aku yang merebut kliennya. Dasar kekanak-kanakkan.


"Traktiran laah.." timpal Pram lagi.


"Nanti lah.. Kalau kontraknya goal."


"Siap. Kutagih yaa kau nanti... Restoran paling kelas. Gak terima aku kalau traktirannya di warung nasi rawon Mak Nah." tunjuk Pram. Kami lantas terbahak bersama.


Tapi sekejap kemudian tawa kami berhenti ketika terdengar pintu ruangan kami diketuk sebanyak dua kali. Kami berdua, -bertiga dengan Erwin- sama sama menatap ke arah pintu.


"Selamat siang, bisa ketemu sama mas Eza?" seorang wanita cantik, sangat cantik menyembul dari balik pintu. Membuat netraku membulat tak percaya pada apa yang kulihat.


"Sayang! Kamu kesini?" pekikku tak percaya.


Bian. Bian istriku datang ke kantor. What a.....


......................


🌼 Maharani


Semenjak memiliki akun sosial media, aku jadi sering bermain dengan ponselku. Tentu saja aku masih tau waktu. Aku mengutak atik ponsel hanya di jam senggang. Usai membantu mama mengerjakan pekerjaan rumah. Maupun saat sedang berada di toko.


Siang ini saat toko sedang sepi pembeli. Bahkan bisa dibilang tak ada pembeli satupun di dalam toko. Biasalah.. Siang terik begini jarang orang mau keluar rumah. Belanja apapun bisa ditunda sore nanti.


Jadilah aku bersantai di sudut toko dan membuka gawaiku. Membuka instagram dan melihat-lihat postingan teman-teman yang langsung muncul di layar depan.


Namun, story seseorang membuatku tertarik. Story Biani Andrea. Menampilkan foto dirinya yang cantik dengan kata-kata yang kubaca tanpa jeda.



...Kalau jodoh tak kemana (emoticon senyum)...


...Siang bolong dapat tugas visit auditor pajak ke kantor suamik.. ...


...Ihiiiy.. Bisa nih lanjut pacaran setelah kerjaaa (emoticon big smile)...


Dan yang lebih mengejutkan kantor yang dituju Biani adalah kantor arsitektur PT. XY.


Kantor mas Eza.


Suami Bian kerja sekantor dengan mas Eza??


Kenapa ini? Kenapa degup jantungku kian tak wajar? Semakin sempit ruang lingkup Bian dan mas Eza, semakin membuatku tak tenang. Kenapa aku sangat tidak rela kalau sampai mas Eza kenal bahkan akrab dengan Bian?


Wanita itu terlalu sempurna.


Mas Eza, atau semua lelaki di dunia ini, aku yakin, tidak akan mampu menolak Biani Andrea. Dan itu membuat rasa pedih menjalar di hatiku tanpa permisi.


......................


🌼 Happy Reading