Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Ezz cs Beraksi


Malam semakin larut begitu mobil Ezz tiba di titik GPS yang dipasang pada mobil Foga.


Mereka turun dari mobil dan menyorotkan senter ke berbagai arah.


"Lo yakin di sini lokasinya, Ka?" Tanya Ezz.


"Iya menurut GPS sih berhentinya di sini." Oka kebingungan karena GPS stuck di pinggir hutan.


"Cari hati-hati. Mungkin alat lo ketahuan dan dia buang alat itu."


Reno mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Ini tempat apa sih? Horor banget."


"Dingin banget lagi." Wahyu yang bajunya paling tebal karena tidak kuat dingin.


"Nih lo pake sarung tangan sama topi!" Ezz memberikan sarung tangan dan topi yang dibawanya.


Sementara Wahyu sibuk mengenakan sarung tangan, Oka sibuk memeriksa lagi titik GPS.


Ezz dan Reno memeriksa lokasi sekitar.


"Eh No, itu apaan ya?" Ezz heran melihat tumpukan daun tak jauh dari mereka.


"Sampah daun, kali.."


"Masa' sampah setumpuk itu? Yuk kita cek."


"Ehhh ntar dulu Ezz, kalo jebakan gimana?"


"Aahhh cemen lo malu-maluin title mantan gangster aja! Kita hati-hati dong. Gue curiga ada apaan."


"Ya udah tapi lo di depan."


Ezz berdecak dan mendekat pada tumpukan daun. Melihat ada kaca, Ezz curiga dan menarik tanaman daun tersebut.


"Wow! Jadi ini tanaman dan daun-daun nutupin mobil???" Reno terkejut mobil Foga ada di hutan ditutupi daun.


"Wahyu, Oka... Buruan sini!"


Tak lama Wahyu dan Oka tergopoh-gopoh datang.


"Mobilnya ada di sini. Tapi nggak ada orang."


"Wahh kabur dia. Hilang jejak deh kita."


"Lo bertiga periksa mobilnya. Gue bakal cari jejak kira-kira ke mana dia pergi."


Semua mematuhi perintah Ezz dan menggeledah isi mobil.


Pelacak GPS pun masih terpasang.


Ezz memperhatikan tracking yang ada. "Masa' mereka masuk hutan? Zella kan paling nggak suka hutan."


"Ezz, kita udah periksa. Mobilnya habis bensin makanya ditinggal."


"Dan sepertinya nomor polisinya palsu."


"Gue rasa tempatnya nggak jauh dari sini." Ezz menyorot senter ke sekitar.


Srekkkk...


Semua terkejut mendengar suara ranting diinjak.


Ezz menyorot senter dan terkejut ada 2 pria mengintai di balik pohon.


"Eh berhenti lo!!"


Kontan 2 pria pengintai itu balik badan dan berlari.


Namun karena gelap, keduanya tersandung dan tersungkur ke tanah.


Oka dan Reno langsung meringkus keduanya.


"Mau lari ke mana lo berdua? Kalian pasti sindikat yang dicari polisi kan?"


2 pria yang berusia sekitar awal 20 an, hanya diam kesakitan.


Oka menggeledah barang bawaan 2 pria itu.


"Guys, mereka bawa jerigen isi bensin. Gue rasa mereka cuma suruhan buat ambil mobil itu."


Langsung saja keduanya diikat agar tidak melarikan diri.


"Kasih tau sekarang, dimana bos lo!?"


Keduanya diam saja, bahkan tak terdengar suara sama sekali.


"Astaga.. pasti mereka tunawicara juga! Br*ngsek emang! Gue empet banget pengen jeblosin semua ke penjara!" Umpat Reno.


"Sekarang kita bawa mereka. Wahyu, Reno, kalian isi bensin ke mobil itu."


"Terus gue bawa mobil ini ke mana?"


"Sementara waktu, kita bakal sekap mereka berdua di gudang kosong belakang gedung di jalan Laut Timur. Bawa mobil ke sana. Kita bakal cari cara bikin mereka mau ngaku di mana mereka beroperasi."


"Oke Ezz."


"Ayo Ka, bawa mereka."


***


Zella sedang lahap makan nasi goreng seafood ketika dilihatnya Foga cemas mengintip dari jendela sambil melihat jam.


"Kenapa sih Ga? Bingung amat?" Tanya Zella, menikmati makanannya. Ia barusan ngidam ingin makan nasi goreng seafood dari restoran Ezz maka meminta Foga turun membelikannya.


"Sejam yang lalu, gue nyuruh Odi sama Ulin ke hutan, ambil mobil gue yang kehabisan bensin. Tapi ini terlalu lama. Lokasinya juga nggak jauh. Apa mereka nyasar?"


"Lagian lo rekrut anggota yang pada bloon. Pinteran dikit kek. Kalau mereka nyasar terus ketangkep gimana?"


Foga menggeleng. "Justru kita pake orang-orang gagu begini supaya mereka nggak buka mulut kalau ketangkep. Polisi nggak akan percaya laporan akurat dari orang-orang kayak gini."


Zella mengangkat bahu. "Whatever lah. Yang penting keuntungan kita udah lebih dari cukup. Kita punya uang tunai asli jumlahnya lebih dari 40 milyar rupiah. Bahkan banyak perhiasan emas dan unit smartphone. Ini udah mendekati 50 milyar rupiah."


Foga terdiam sambil memandangi Zella yang sedang minum air.


"Kita kawin lari aja, La."


Pffuuuuttt....


Sontak air di mulut Zella menyembur mendengar perkataan Foga.


"Uhuk uhuk... Apa?? Lo gila ya, Ga??"


"Kenapa lo nggak mau?" Foga duduk di sampingnya. "Lo lagi hamil anak kita. Lupain semuanya. Lupain semua ambisi lo."


Zella menepis tangan Foga kesal. "Ngaco lo! Gue mana bisa komitmen! Setelah anak ini lahir, lo bawa dia jauh dari gue. Gue bakal lanjutin hidup gue dengan kuasain harta bokap."


"La, lo nggak ada sedikit rasa sayang sama bayi ini? Ini anak lo. Darah daging lo."


Zella tertawa sinis. "Nyokap aja mengandung gue, tapi nggak mau ngerawat gue. Kenapa juga gue nggak bisa ngelakuin itu? Ya mungkin ini udah mendarah daging. Makanya gue juga nggak ada rasa sayang sama bayi ini. Cuma beban!"


"La, buka hati lo. Jangan terikat dendam sama nyokap lo." Foga berusaha membujuk Zella yang penuh dendam. "Jangan lo hukum bayi ini atas kesalahan di masa lalu."


"Ya jelas gue hukum. Siapa suruh lo ngehamilin gue??" Zella membanting sendok dan berdiri menuju ranjang. "Gara-gara hamil, gue jadi kekurung di sini. Nggak bisa ngapa-ngapain. Lo emang bikin menderita doang!"


"Zella..." Foga belum menyerah. "Gue sayang sama lo, La. Gue cinta sama lo. Makanya, please. Lo nikah sama gue ya? Dengan uang yang kita punya, kita bisa pergi ke luar pulau, tinggal di pulau terpencil. 5 tahun lagi kita kembali ke mari."


Zella ingin membantah namun Foga menggenggam tangannya.


"Kalau lo mau balik dengan Ezz, gue nggak akan halangin. Asal lo mau lahirkan anak ini dengan selamat. Dan lagi lo juga nggak tau kan kondisi pernikahan Ezz sama Zolla di posisi lo kayak gimana."


"Maksud lo?"


"Emang lo yakin rahasia kalian bertukar masih aman? Gue rasa udah kebongkar."


Zella mengepalkan tangannya, emosi. "Nggak akan gue biarin! Bokap pasti belain dia daripada gue!"


Terbersit ide di benaknya.


"Ga, kita pulang ke Jakarta. Gue mau lihat sendiri gimana pernikahan Kak Ezz sama Zolla di posisi gue."


Foga menatapnya tajam. "Terus, lo mau ngapain?"


"Ya gue harus tau gimana kondisinya. Gue nggak akan biarin si Zolla seneng-seneng dengan harta Papa."


Masih aja lo jadi orang serakah, La. Gue harus gimana lagi bantuin lo? Batin Foga.


"Ya udah, lo istirahat sekarang. Besok gue anter lo ke rumahnya Ezz untuk lihat dia." Foga mengenakan jaket.


"Lo mau ke mana?"


"Mau nyusul Odi sama Ulin. Ini terlalu lama mereka pergi." Foga meninggalkan kamar tanpa memandang Zella.


Zella terdiam sejenak. "Apa gue udah keterlaluan sama Foga?"


Namun belum 5 menit, Foga kembali lagi bersama Beno.


"La, kita harus pergi dari sini malam ini juga! Odi sama Ulin hilang, juga mobilnya. Ada jejak ban mobil lain gue yakin mereka ketangkep!"


Zella tercekat dan berdiri. "Kok bisa?? Jangan-jangan dari restoran lo udah diikutin. Lo harusnya teliti, Ga!"


"Gue nggak diikutin, gue yakin. Tapi... Mungkin mereka nyadar uang yang gue pake bayar makanan itu uang palsu. Dan mereka tau ..."


"Udah deh, La. Nggak ada waktu debat." Potong Beno tak sabar. "Kalau sampai Odi sama Ulin ketangkep di lokasi itu, tempat ini pasti dicurigai. Karena penginapan ini satu-satunya bangunan. Kita beresin semua, kita pindah markas."


"Ke mana lagi kita, Ga??" Zella sampai frustasi terus dikejar-kejar.


"Untuk sementara, kita ke rumah Om gue di Jakarta. Rumah itu lagi kosong sampai 2 bulan ke depan karena Om gue lagi ke luar negeri. Sementara kita sembunyi di sana. No, kumpulin semua orang, kita pindah malam ini juga. Kalau tengah malam, pasti nggak banyak yang curiga."


"Oke, Ga!" Beno bergegas keluar kamar.


"Sampai kapan kita sembunyi, Ga?"


"Sampai lo lahiran." Foga membereskan barang-barang Zella. "Gue cuma pengen lindungi lo. Kalau lo berubah pikiran dan mau nikah sama gue, gue welcome sampai kapan pun karena gue sayang sama lo, La."


Zella memandang perutnya, kesal. Ia lahiran masih 5 bulanan lagi. Masa' selama 5 bulan gue sembunyi? Batinnya.


"Setelah anak itu lahir, gue bakal bawa dia pindah ke luar pulau, yang terpencil. Kalo lo berubah pikiran dan ingin ikut, gue bakal jagain kalian."


Perkataan Foga diacuhkan Zella yang langsung membereskan barang-barang.


***