Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Diintai


Menjelang sore mereka sudah perjalanan pulang ke Jakarta.


Zolla tertidur pulas kelelahan berjalan-jalan.


Ezz melajukan mobilnya memasuki jalan tol. Otaknya menyusun rencana lagi untuk menemukan Zella dan Foga ini.


Hanya berharap teman-temannya menemukan sesuatu di rumah pamannya Foga yang ada di Jakarta.


Tiba di rumah sudah malam karena jalanan cukup macet.


Ezz menggendong Zolla yang masih tertidur pulas. Ia tak ingin mengganggu tidurnya.


"Lho, Mas Essss, Neng Zolla kenapa??" Bi Inah kontan panik.


"Ssstt jangan berisik Bi, dia cuma tidur." Ezz membawa Zolla ke kamar dan membaringkannya di ranjang.


Zolla menggeliat mencari posisi nyaman dan memeluk guling.


"Capek banget ya sayang," Ezz mengusap kepala Zolla dan mengecup keningnya penuh sayang. Lalu ia keluar kamar.


"Bi Inah, tolong buatin kopi."


"Baik, Mas."


Ezz duduk di ruang tengah dan menyalakan TV.


Tiba-tiba HP nya berbunyi.


Telepon dari Vita.


"Halo?"


"Halo, Kak Ezz! Ini ada yang ngintai rumah udah 3 hari mobilnya ada di depan rumah. Vita sama Riani takut Kak."


Kening Ezz kontan berkerut. "Mungkin tetangga parkir di depan rumah. Coba kamu tanya pemilik mobilnya."


"Duuhh nggak berani Kak. Kita liat itu ada 2 laki-laki di mobil. Kita takut dirampok Kak.."


"Nggak mungkin rampok. Mungkin fans kamu. Atau wartawan pengen wawancara."


"Kalau begitu, pas Vita keluar rumah pasti Vita disamperin Kak. Mereka duduk aja di dalam mobil merhatiin rumah."


"Kamu udah lapor sama security kompleks?"


"Belum."


"Ya kamu laporin. Kalau mencurigakan pasti diusir. Udah ya aku mau istirahat."


"Eh Kak, Vita mau nginep di tempat Kakak aja. Boleh ya?"


"Nggak boleh, Vita. Bahkan Om Budiman juga nggak ngijinin kan kamu tinggal sama aku di rumah mertuaku."


"Tapi Vita takut dirampok, Kak..."


"Aku hubungi security kompleks untuk periksa dan jaga rumah. Oke? Udah ya. Kunci aja pintu, gembok gerbang."


Ezz memutuskan komunikasi dan menghubungi Pak Darman security kompleksnya untuk memeriksa ke rumah terutama mobil yang katanya mencurigakan.


"By the way, kok bisa ada yang ngintai rumah gue? Kalau fans, kayaknya nggak akan senekat itu. Apalagi Vita nggak ngetop-ngetop amat. Apa ada yang mau cari masalah sama gue?"


Muncul Bi Inah meletakkan cangkir kopi.


"Silahkan Mas, kopinya."


"Makasih Bi. Papa belum pulang?"


"Oh Bapak berangkat ke Manado, Mas. Mungkin pulang dalam beberapa hari."


"Oh gitu."


Bi Inah bergegas kembali ke dapur.


"Siapa lagi yang mau cari masalah dengan gue? Dewon sama Remon masih pada di penjara. Dan nggak akan bebas dalam waktu dekat."


Ia merebahkan tubuhnya di sofa. "Gue harus fokus nemuin Zella. Bahkan 2 orang gagu itu nggak bisa kasih info lebih lanjut ke mana mereka semua pindah."


***


Paginya, Zolla ditemani Ezz berjalan kaki ke taman kompleks.


"Kirain kamu capek kemarin jalan-jalan, sekarang masih semangat aja jalan-jalan," kata Ezz bergandengan tangan menuju taman.


"Aku kan harus banyak jalan Kak. Walau nanti aku lahiran caesar, aku kan harus jaga kondisi. Kata Tante Nagisa, jalan kaki tuh bagus untuk ibu hamil."


"Iya yang penting kamu sehat. Anak-anak Ayah juga." Ezz mengecup perut Zolla.


"Sarapan bubur ayam di sana yuk Kak? Enak lho."


"Oh ya? Kamu pernah coba?"


"Pernah dibeliin sama Bi Inah. Tapi aku mau makan di situ."


"Iya sayang, apa sih yang enggak buat istriku. Ayo kita makan bubur ayam."


Mereka asyik makan tanpa tahu ada 2 pasang mata mengintai.


"Oh jadi mereka tinggal di rumah Papa? Pantes di rumah Kak Ezz mereka nggak pernah kelihatan!"


"Zolla juga lagi hamil kayak lo. Kalian bener-bener kembar identik, La. Hamil aja barengan."


"Diem lo, Ga! Gue hamil juga bukan kemauan gue, gara-gara lo!"


Foga mendengus sambil merapatkan masker yang menutupi wajah Zella.


"Sekarang lo udah liat kan kehidupan pernikahan mereka harmonis gitu. Rencana lo sekarang apa, La?"


Zella menatap Zolla dan Ezz penuh kebencian.


"Gue punya rencana, Ga."


Apapun rencana Zella, Foga yakin sesuatu yang berbahaya.


Lagi asyik makan bubur ayam, HP Ezz berbunyi.


"Riani telepon lagi tu Kak." Zolla meneguk teh hangatnya.


"Biarin aja lah."


"Angkat aja, Kak. Siapa tau penting."


"Aku nggak mau ngerusak mood kamu, sayang. Nanti kamu cemburu lagi padahal dia yang ngejar-ngejar aku."


Zolla menggeleng dan gelendotan manja di lengan Ezz. "Nggak akan. Aku tau kok Kakak udah sayaaaanggg banget sama aku."


Ezz tersenyum dan mencubit pipi Zolla gemas. "Iya sayang, aku jawab ya."


Memang sudah 3 kali Riani menelepon tapi diacuhkan.


"Halo ada apa Ri?"


"Kak, Vita masuk rumah sakit."


Ezz terkejut. "Rumah sakit? Kenapa dia?"


"Keserempet motor, Kak. Sekarang aku di rumah sakit nungguin di depan UGD. Kak Ezz nyusul ke sini ya aku nggak punya uang buat bayar rumah sakit."


"Iya iya aku ke sana sekarang."


Begitu telepon ditutup, Zolla ikut cemas.


"Siapa yang di rumah sakit Kak?"


"Vita. Keserempet motor dia."


"Ya Allah... Kasian banget. Ya udah aku ikut ya?"


"Nggak usah kamu di rumah aja. Kamu kan lagi hamil. Lebih baik kamu istirahat di rumah, sayang." Ezz segera membayar makanan dan menggandeng tangan Zolla meninggalkan taman.


***