
"Kak Ezz.... Bangunnnnn..."
"5 menit lagi, sayang.. masih ngantuk."
"Udah 5 menit sampai 10 kali nih. Ayo bangun katanya mau ajarin aku berenang."
"Siangan aja sayang."
"Nggak mau kalo siang panas. Ayo dong Kak... Semalem udah janji mau berenang pagi-pagi."
Akhirnya mata Ezz terbuka sempurna karena Zolla terus merengek ingin berenang.
"Cium dulu 10 kali baru aku bangun." Ezz memajukan bibirnya langsung hidungnya dicubit.
"Enak aja, gosok gigi dulu baru aku mau cium."
Ezz langsung beringsut bangun. "Beneran nih, aku gosok gigi, dapet ciuman sejam ya?"
Belum dijawab, Ezz langsung ngibrit ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.
Zolla memilih pakaian yang dikenakan untuk berenang.
"Pake apa ya? Baju renang yang Kak Ezz beliin di Bali, udah nggak muat badanku gemukan. Pake baju ketat sesak. Pake apa jadinya?"
Lagi bingung begitu, tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang.
"Geli Kak.." Zolla menggeliat begitu bibir Ezz menyentuh telinganya. "Kak, aku berenangnya pake apa ya? Baju renang yang Kakak beliin dulu udah nggak muat."
"Nggak usah pake baju aja... Aawww kok dicubit sih sayang.."
"Lagian genit. Masa' nggak pake baju? Kalo ada yang liat gimana?"
Ezz terkekeh dan mengambil celana legging. "Pake celana ini sama kaos aja, sayang."
"Tapi kaos aku udah pada nggak muat Kak. Perut udah gendutan."
"Ya udah pake kaos aku. Bentar ya aku ambilin." Ezz beranjak ke lemari mencari kaos miliknya.
"Ini coba pake."
Zolla cuek saja buka baju di depan Ezz yang langsung menelan ludah berkali-kali melihat betapa seksi istrinya dengan tubuh makin berisi.
Perutnya sudah agak membuncit memasuki kandungan 12 minggu.
"Sini aku pakein bajunya."
"Modus aja deh paling juga mau megang-megang."
"Ngapain cuma megang-megang doang, udah ngerasain juga semuanya..." Ezz memakaikan kaos dan merapikan rambut Zolla. "Udah boleh?"
"Boleh apa?"
"Aku udah gosok gigi lho."
Zolla terkikik geli melihat Ezz cemberut. Lalu berjinjit mencium bibir Ezz sekilas.
"Udah tu."
"Kok cuma sekali? Janjinya juga 10 kali." Protes Ezz langsung nyosor lagi sampai Zolla kewalahan bibirnya sudah kebas terus-terusan dicium.
"Hmmmpptt udah dong Kak, kan mau berenang.."
"Tapi nanti kasih cium lagi."
"Nggak usah minta biasanya juga nyosor aja. Ayo kita berenang."
"Iya ayo sayang.."
Berdua mereka keluar kamar menuju kolam renang.
"Dalem nggak Kak?" Zolla agak takut.
"Enggak. Nih liat cuma setinggi perutku aja. Masuk pelan-pelan." Ezz membantu Zolla masuk kolam renang.
"Nggak akan tenggelam kayak film Titanic kan Kak?"
"Enggak dong sayang, ini kan bukan laut. Airnya aja cetek."
Zolla mulai enjoy menikmati berenang. "Aku udah bisa Kak.."
"Iya bener gitu gerakin kakinya seirama gerakan tangan. Duuuhh pinter banget istriku cepet bisanya.." meski gaya berenang Zolla masih kaku seperti anak kecil baru bisa berenang, Ezz begitu bahagia bisa menikmati moment kehamilan istrinya.
Muncul Bi Inah dari dalam rumah.
"Neng Zolla, Mas Essss, maaf mengganggu."
"Ada apa Bi?"
Ezz agak bingung kenapa restoran menelepon ke rumah.
"HP Kakak kan mati lagi dicharge," kata Zolla. "Mungkin penting makanya sampai nelepon ke rumah."
"Kita naik yuk, aku jawab telepon dulu."
"Iya Kak." Hati-hati Zolla keluar kolam.
Ezz langsung memakaikan kimono handuk pada Zolla dan memakai handuknya sendiri, lalu duduk mengambil telepon portabel di meja.
"Halo?"
"Halo, Mas! Mas Ezz cepat ke mari, ada yang rusuh ngacak-ngacak restoran!"
"Apa??? Siapa yang udah berani rusuh?" Ezz langsung meradang.
"Kalo saya nggak salah inget, itu tamu Mas Ezz yang pernah datang. Yang tatoan dan banyak tindikan itu. Dia datang pas restoran belum buka. Katanya mau makan, tapi kita buka sejam lagi, yang lain juga belum selesai beres persiapan masak, bahan makanan masih dibeli, dia malah marah-marah. Dia juga bawa beberapa orang. Mereka udah rusuh ngacak-ngacak, Mas."
Tangan Ezz terkepal emosi, rahangnya sampai mengeras. Remon! Cari masalah lo sama gue! Batinnya.
"Saya ke sana sekarang! Segera panggil polisi. Pastikan semua terekam CCTV."
"Baik, Mas."
Telepon diputus.
"Ada apa Kak?" Tanya Zolla bingung.
"Aku ke restoran dulu ya sayang, ada urusan genting." Ezz mengecup kening Zolla sekilas lalu beranjak ke kamar.
Zolla mencium aroma-aroma akan terjadi perang kerusuhan begitu Ezz tergesa-gesa masuk kamar untuk berganti pakaian.
***
"Remon!!!" Teriak Ezz menggelegar melihat geng rusuh itu nongkrong di depan restorannya yang sudah berantakan.
"Hoy... Gue sama temen-temen gue laper nih!" Remon tak tahu malu membuat Ezz makin meradang.
Kursi meja pada berguling di lantai, lantai basah ember penuh air sabun ditumpahkan.
"Lo pada nggak bisa baca? Restoran gue buka jam 9 pagi, ini belum jam 9! Terus ngapain lo ngerusuh di sini?"
Geng Remon yang berpenampilan urakan tak berkelas sama sekali, membuat jengah. Jelas cuma bawa masalah dan ngerusak pemandangan.
"Heh! Pergi lo semua dari sini sebelum gue panggil polisi!" Usirnya kasar.
"Santai dong, lagian kacung-kacung lo pada songong! Main ngusir aja jelas-jelas kita mau makan. Harusnya layanin dong!"
"Lo semua lagi pada mabok ya? Jangan pada di sini. Di pinggir jalan sana!"
"Heh Ezz, gue ke sini mau nanya sama lo. Di mana Zella sekarang?" Tanya Remon membuat Ezz heran.
"Ngapain lo nanya ke gue? Ada urusan apa?"
"Dia kan pelaku pengedaran uang palsu. Masa' lo nggak liat beritanya?"
Ezz mendengus sinis. "Lo ada buktinya nggak? Jangan asal ngomong!"
"Ya belum ada sih. Tapi gue yakin ini ulah Zella!"
"Hati-hati lo main nuduh nggak ada bukti!"
"Gue yakin banget ini pasti ulah tu cewek! Dan lo sebagai pacarnya pasti kebagian dong hasilnya, korban udah abis puluhan milyar lho! Bagi gue kek 1 milyar doank. Untung gede pastinya."
Buakkkkk...
Dalam sekejap Remon terpental jatuh ke tanah.
"Gue udah muak ada lo semua di sini! Pergi lo semua! Sebelum kesabaran gue abis!"
Remon berdiri sambil mengusap ujung bibirnya yang berdarah. "Br*ngsek! Gue dateng ngomong baik-baik, lo malah pukul gue?"
"Lo beneran mabok ya? Kalo lo dateng baik-baik, nggak bakalan tempat gue seancur ini!"
Terdengar suara mobil polisi membuat geng Remon terkejut.
"Lo panggil polisi?"
Alis Ezz mengangkat. "Baik-baik lo semua di penjara!"
Bugghh...
Ezz sedikit terhuyung mundur didorong Remon yang langsung melarikan diri, namun polisi sudah mengepung dua arah. Semua ditangkap tanpa bisa lolos.
***