Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Zella Depresi


Hampir tengah malam, di kamar rawat VVIP Ezz masih terjaga menunggu Zolla siuman.


Wajah cantik polos istrinya tampak pucat.


Ezz tak melepas genggamannya dan terus menciumi punggung tangan Zolla penuh sayang.


Perlahan mata Zolla mengerjap sebentar dan terbuka. Langit-langit putih? Ini di rumah sakit? Batinnya.


"Sayang, kamu udah sadar?" Ezz tampak lega dan menciumi wajah Zolla.


"Kak Ezz, Zella gimana keadaannya?" Tanya Zolla membuat Ezz menunduk.


Sebagai jawaban, tirai di sebelah Zolla terbuka, ternyata di kamar itu bukan hanya dirinya namun ada Zella yang belum sadarkan diri.


Gunadi ada di samping Zella terus mengelus kepala anaknya.


"Zella mengalami keguguran," jelas Ezz membuat Zolla terkejut. "Tante Nagisa menjelaskan, kondisi bayinya Zella lemah. Diduga, Zella belum pernah melakukan cek kandungan dan hanya bertahan meminum vitamin kehamilan. Bayinya meninggal dalam kandungan, jenis kelamin perempuan."


Zolla menutup mulut bertahan tangisnya tidak pecah.


"Untung kamu baik-baik aja, sayang. Kamu hanya pingsan karena shock."


"Kak, gimana dengan Foga?" Tanya Zolla.


Ezz menggeleng pelan. "Foga udah meninggal. Dia terjatuh cukup keras dan mengalami patah tulang parah, juga ada pendarahan di otaknya."


Zolla memejamkan mata miris mengingat ia menyaksikan bagaimana Foga jatuh ketika berusaha menahan Zella terjatuh.


Tak bisa dibayangkan apa reaksi Zella ketika sadar. Bayi yang dikandungnya meninggal, ayah dari bayinya juga meninggal.


Dibantu Ezz, Zolla menghampiri ranjang Zella.


"Pa.."


Gunadi menghapus air matanya dan merapikan rambut yang menutupi dahi Zella.


"Zella belum sadar, sayang. Cucu Papa meninggal dan ini semua gara-gara Papa."


Zolla memeluk ayahnya berusaha menenangkannya. "Ini udah takdir, Pa. Papa jangan nyalahin diri Papa."


Gunadi menangis dalam pelukan Zolla.


***


Begitu mengetahui bayinya meninggal, ekspresi Zella tak bisa ditebak. Hanya menatap kosong perutnya. Sesekali tertawa namun air matanya bercucuran.


Terus memanggil nama Foga sambil menangis.


"Lo kan janji bakal jagain gue, Ga! Kenapa lo pergi???" Ia menangis histeris menjerit-jerit memanggil Foga agar kembali.


Baru menyadari betapa berartinya Foga baginya. Sahabat yang selalu ada, paling memahaminya, dan selalu mendukungnya. Tanpa Foga, hidupnya terasa hampa.


"Fogaaaaaaa.....!!!! Berani lo tinggalin gue!!!! Lo bilang akan jaga gue!!! Hiks hiks..."


Ezz memeluk bahu Zolla dan mengusapnya. "Kayaknya dia belum bisa ditemui. Dia masih butuh waktu."


Sudah hampir seminggu berlalu, namun keadaan Zella makin parah. Gadis itu depresi kehilangan bayinya dan Foga.


Semenjak itu pula Zella tak ingin bertemu siapapun termasuk Zolla dan ayahnya.


Lagi-lagi Zolla gagal menemui saudara kembarnya.


"Sayang, lebih baik sekarang aku anter kamu pulang untuk istirahat. Aku harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan." Ezz merangkul bahu Zolla membawanya pergi.


Zolla tak membantah karena tahu Zella belum mau bertemu dengannya. Kalau ia memaksa, bisa-bisa kondisi Zella memburuk.


Zolla hanya berdoa Zella bisa segera pulih dan kembali berkumpul dengannya.


***


Kasus pengedaran uang palsu ditutup, setelah polisi menangkap semua komplotan yang beraksi.


Bahkan uang hasil jarahan semua disembunyikan, dikubur di kebun belakang rumah pamannya Foga.


Korban berdatangan ke kantor polisi membawa uang palsu untuk ditukar dengan uang asli. Korban yang melapor untuk menukar sudah lebih dari 20 milyar rupiah.


Masyarakat bisa bernafas lega sindikat yang meresahkan akhirnya bisa ditangkap.


Namun Zella sebagai pimpinan sindikat itu tidak bisa dihukum karena kondisi kejiwaannya dinyatakan harus dapat perawatan intensif di rumah sakit jiwa.


Dokter memberi pernyataan langsung pada polisi terkait kondisi Zella agar diberi keringanan.


Gunadi begitu sedih melihat kondisi putrinya yang harus dirawat di rumah sakit jiwa.


Menyesali titik mula masalah ini akibat didikan keras dirinya.


Usapan lembut di bahunya membuatnya menoleh.


"Mas, jangan berhenti berdoa agar Zella lekas pulih. Mas nggak boleh terus menyalahkan diri Mas." Hibur Nagisa.


Gunadi terdiam melihat Zella sedang duduk di taman rumah sakit sambil memeluk boneka yang dipakaikan baju anak perempuan. Sesekali Zella tertawa-tawa berbicara dengan boneka yang dianggap anaknya yang sudah meninggal.


Putrinya begitu kurus dan wajahnya pucat.


Menurut suster yang menjaga, setiap malam Zella berhalusinasi Foga datang dan mereka tidur bersama dengan bayi (boneka) mereka.


"Aku terus terbayang apa yang sudah aku perbuat pada Zella." Gunadi tak lepas memandangi Zella yang sibuk memberi botol susu pada boneka.


"Aku berambisi untuk Zella menjadi anak yang sempurna menyandang namaku. Tanpa aku sadari, aku sangat egois. Aku begitu mementingkan nama baik dan pandangan orang lain. Tanpa menanyakan pendapat anakku. Aku benar gagal menjadi ayah untuk Zella."


"Belum terlambat, Mas. Zella pasti sembuh dan kita bisa berkumpul lagi."


Gunadi sungguh berharap Zella mau memaafkannya.


***