
Zolla tak henti mengagumi cincin yang terpasang di jari manisnya.
"Kakak kok bisa dapet cincin yang pas? Kayak udah tau ukuranku."
Ezz tersenyum nakal. "Jangankan ukuran jari, ukuran yang dua di dada kamu itu juga aku bisa tau."
"Iihhhh Kak Ezz nih.."
"Aturan kalau udah diterima lamaran ya kita ciuman biar romantis..."
Zolla merengut. "Iihhh nggak mau ah banyak orang. Kalau difoto dan nyebar gimana?"
Ezz terkekeh dan merangkul bahu Zolla. "Makasih ya udah terima lamaranku."
Zolla terdiam. Sejujurnya ia begitu bahagia dilamar pria yang ia cintai. Hanya masih ada ketakutan jika Zella mengetahui.
"Kita makan dulu yuk?" ajak Ezz.
"Ayo Kak. Aku juga udah laper. Papa juga bilang bakal telat selesai meeting."
"Iya Papa juga udah kabarin aku. Biar kita nggak nungguin."
Mereka masuk restoran yang cukup ramai di jalan Legian. Turis asing dan lokal memadati setiap resto yang berjejer sepanjang jalan.
Ezz dan Zolla layaknya yang lagi dimabuk asmara, suap-suapan udah kayak penganten.
Tanpa mereka tahu, ada yang memperhatikan mereka.
"Itu bukannya Zella?" gumamnya tak lepas memandangi gadis cantik yang menarik perhatiannya.
Zolla memanjakan mata melihat-lihat. "Kak, kita beli baju yuk. Aku ke mari kan nggak banyak bawa baju."
"Yuk. Aku bayar dulu ya. Kita ke toko seberang jalan sana lengkap kayaknya."
Selesai membayar, mereka jalan lagi.
Melewati jalan ada monumen berisi nama-nama. Zolla menanyakan itu pada Ezz.
"Itu nama-nama korban tragedi bom Bali. Kejadiannya udah lebih dari 20 tahun lalu. Aku juga lupa persisnya kapan. Tapi beritanya heboh."
"Oohh aku masih bayi kayaknya makanya belum pernah dengar Kak."
Sepanjang jalan, Zolla tak henti mengagumi tempat yang ia ingin kunjungi.
Masuk sebuah toko, mereka tak sadar sepasang mata itu masih memperhatikan dari jarak aman dan mengawasinya.
"Zella makin cantik aja. Dia lagi liburan? Bukannya dia udah putus sama cowoknya? Kok bisa mereka liburan bareng? Gue harus temuin dia."
***
Ezz tak lepas memandang Zolla yang asyik memilih-milih baju.
"Pilih semua yang kamu suka. Nggak usah dilihat harganya."
"Boleh. Kamu ke kamar ganti aja bawa beberapa baju biar sekalian dicoba. Aku ke toilet dulu."
"Iya Kak." Zolla membawa beberapa potong baju menuju kamar pas di pojok toko.
Sementara Ezz menuju toilet ke arah berlawanan.
Sedang mencoba dress berwarna merah muda, tiba-tiba pintu diketuk.
"Sebentar lagi Kak.." sahutnya mengira itu Ezz.
Pintu diketuk lagi.
"Iihh Kak Ezz nggak sabaran." Zolla membuka pintu dan terkejut di hadapannya ada pria tak dikenal.
Zolla ingin teriak ketika tiba-tiba mulutnya dibekap dan didorong masuk kamar ganti, lalu dikunci.
Ezz baru selesai dari toilet segera menyusul Zolla ke kamar pas.
Ketika didengarnya suara aneh dari dalam dan terdengar suara pukulan.
Duakkk...
Ezz melihat 2 bilik kamar pas yang lain kosong. Berarti hanya kamar pas ini yang digunakan Zolla.
Dengan penuh kemarahan, Ezz menendang keras pintu yang langsung terbuka lebar.
Dalam sekejap darah Ezz mendidih dialiri kemarahan memuncak melihat Zolla tak sadarkan diri di lantai dengan seorang pria yang sedang berusaha merobek bajunya.
Bugggghhhh...
Ezz langsung melayangkan pukulan keras membuat pria itu tersungkur di lantai.
Dalam sekejap orang berdatangan mendengar ribut-ribut.
"Berani ya lo sentuh calon istri gue!"
Duakkkk..
"Hoeeekk.." pria itu sulit bernafas begitu Ezz menginjak lehernya penuh kemarahan.
"Mas, ada apa ini?" Manajer toko mendekat cemas.
"Dia mau memperkosa calon istri saya. Cepat lapor polisi!"
Ezz menarik baju pria itu dan ...
Buaakkkkk...
Dalam sekejap pria itu pingsan.
***