
🌼 Bian
"MAS EZAAAA..." pekik dua puluhan anak-anak Sekolah Harapan begitu mas Eza masuk ke ruang kelas mengekor di belakangku. Maklum, sudah tiga minggu mas Eza tidak ikut mengajar di sekolah harapan. Mungkin mereka rindu. Rindu pelajaran menggambar dan kesenian yang selalu diajarkan mas Eza pada mereka.
Yang disapa membalas dengan ramah dan lambaian tangan juga senyum hangat. "Halo anak-anak.."
Aku berpura-pura mencibir kesal.. "Hanya mas Eza nih yang disapa?"
"Pagi mbak Bian....!!" sapa mereka bersamaan. Aku langsung mengulas senyum manis di depan anak-anak ceria ini. "Selamat pagi juga anak-anak..."
"Oi kalian..." seru Ocha yang sudah lebih dulu mengajar sebelum kami berdua datang. Melihat raut wajahnya saja aku tau dia akan melancarkan protes.
"Jam berapa nih baru dateng? Kelas udah mau bubar baru nongol..."
Nah, kan....?
"Dia tuh...." rajukku dengan menunjuk mas Eza sebagai penyebab keterlambatan kami. Yang kutunjuk pura-pura tak mendengar. Pura-pura sibuk mengobrol dengan anak-anak. Padahal dari senyum jahil dan kerlingan matanya, aku tau mas Eza pasti melihatku yang saat ini sedang cemberut kesal.
Bagaimana tidak kesal? Mas Eza sudah mengajakku berolah raga pagi setelah shubuh tadi. Tapi saat aku baru saja selesai mandi, tanpa rasa bersalah dia kembali menyeretku ke kamar mandi dan bercinta di dalam sana. Lagi!! Gila memang.. Rasanya remuk sudah badanku.. Lelah sekali meladeni has ratnya yang tak pernah surut.
Ups..! Biarpun melelahkan, tapi juga menyenangkan sih.. Hehe.
Minggu pagi yang cerah. Kami sudah disibukkan dengan berbagai schedule. Tapi mas Eza malah merayuku menuntaskan has ratnya. Membuat kami harus bergegas menyelesaikan satu persatu agenda kami.
Nanti setelah mengajar, mas Eza mengajakku untuk menemaninya bertemu dengan klien VIP. Sebelumnya, kami harus mampir untuk mengambil beberapa sketsa desain mas Eza di kost-annya. Tapi lihat, mas Eza sedari shubuh sudah menggempurku. Membuatku sudah kelelahan sepagi ini. Menyebalkan.
Aku tersenyum sendiri mengingat pergulatan kami tadi pagi. Melihat mas Eza yang saat ini begitu telaten mengajari dua puluhan anak jalanan ini. Sungguh berbeda dengan mas Eza yang brutal setiap kali kami bercinta. Menggelikan.
Anak-anak juga sangat menikmati sesi belajar menggambar. Maklum, karena kesibukannya, mas Eza jarang sekali bisa mengajari anak-anak menggambar. Jadi saat ada kesempatan, mereka terlihat sangat antusias. Sampai jam belajar berakhir, mereka masih ingin terus menggambar. Mas Eza terlihat kuwalahan begitu anak-anak itu berebut ingin menunjukkan hasil karyanya bersamaan.
"Sudah yaa anak-anak.. Kita lanjutkan besok lagi.." sahutku mencoba mengurai keributan mereka. Sontak terdengar selorohan bernada kecewa dari mereka.
"Iya nih.. Mas Eza ada janji di kerjaan mas Eza. Kita lanjutin di pertemuan berikutnya, Oke?" timpal mas Eza. Anak-anak mengiyakan meskipun kekecewaan masih nampak jelas di wajah polos mereka.
Kami bergegas ke kostan mas Eza. Masih ada waktu satu jam untuk bertemu dengan klien mas Eza. Kami pun menyempatkan membeli beberapa kudapan dan menyantapnya di kostan. Ah, bukan kami lebih tepatnya. Tapi aku. Melihat penjual makanan beraneka ragam di deretan gang masuk kostan membuatku tergoda untuk membeli beberapa.
"Sayang, kostan kamu ga pernah ditempati, tapi lumayan bersih juga." ucapku seraya melahap gigitan terakhir kue cucurku.
"Ada petugas kebersihan kost yang kusuruh bersih-bersih setiap dua hari sekali. Namanya mbak Kokom. Dia punya kunci kamar ini." jelas mas Eza. Tidak heran. Menjadi istri seorang Eza Aditya Pratama selama hampir tiga bulan ini membuatku mengenal suamiku cukup baik. Mas Eza suka ruangan bersih dan rapi. Jarang-jarang ada cowok bersihan seperti mas Eza. Dan aku sukaa..
Saat ini mas Eza terlihat sedang memasukkan beberapa jilid sketsa portofolio desainnya ke dalam tas. Sepertinya mas Eza sangat antusias dengan kliennya ini. Dia terlihat lebih bersemangat. Aku jadi yakin kalau klien VIP kali ini benar-benar akan berpengaruh untuk karir arsitek suamiku kedepannya. Ada binar cerah di wajahnya yang membuatku ikut antusias.
Ini bukan kali pertama aku menemani mas Eza menemui klien. Mas Eza memang kerap mengajakku dan dengan bangga mengenalkanku pada mereka bahwa aku adalah istrinya. Hmm.. So sweet kan? Siapa yang kira kalau cowok cool penuh pesona itu ternyata bucin parah. Hehee..
"Engga.. Tapi ini enak. Mas mau?"
"No. Ga higienis." singkat mas Eza. Aku pun terkekeh dibuatnya. Emang yang kumakan adalah jajanan anak-anak yang mangkal di depan gang. Pentol tusuk, batagor, kue cucur, makaroni telor. Emang berharap sehigienis apa?
"Sayang.. Siap-siap ya.." ujar mas Eza sembari menenteng tote bag berisi buku sketsa yang akan dibawa. Lantas meletakkannya di meja bersama dengan tas laptop dan sling bagku.
"Aku ke toilet sebentar. Abis ini kita berangkat."
"Rebes, boss Eza." sahutku dengan acungan jempol mantap.
Aku segera membereskan bekas makananku. Mengunyah dengan cepat sisa batagor yang masih ada di mulutku. Lantas menelannya bersama dengan air mineral yang menyegarkan.
Aku bercermin sekali lagi. Memastikan make up tipisku tidak luntur dan masih terlihat segar.
Bersamaan dengan kumasukkan cermin dan bedak saku ke dalam tasku, suara ketukan pintu terdengar.
Tok... Tok..!!
Aku beranjak untuk membuka pintu.
Seorang wanita cantik berpakaian sederhana berdiri tepat di depan pintu kamar kost suamiku. Bisa kulihat ia sedikit terkejut melihatku. Mungkin karena mengira ini kamar kost laki-laki.
"Iya? Mbak siapa ya?" tanyaku penasaran.
Apa ini mbak Kokom tukang bersih-bersih kamar kata mas Eza tadi? Tapi tadi mas Eza bilang kalau mbak Kokom pegang kunci kamar..
"Ini benar kamar kost mas Eza?"
"Benar." jawabku singkat. Dadaku mulai bergemuruh tanpa sebab. Ada wanita yang mencari suamiku di kamar kostnya. Dan dia bukan tukang bersih-bersih kamar. Ini sedikit..... Menyesakkan.
"M-mas Ezanya dimana ya? Kenapa mbak bisa ada di dalam kamar mas Eza?" tanya wanita itu dengan suara terbata.
"Memangnya aku ga boleh ada di dalam kamar mas Eza?" kujawab dengan melempar pertanyaan. Sama seperti yang wanita ini lakukan. Dia yang lebih dulu tidak menjawab pertanyaanku. Malah terus-terusan melempar tanya. Menyebalkan.
"S-saya.. Maharani."
...****************...
🌼 Happy Reading