Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Chef Zolla


Beberapa karyawan Ezz ada yang terluka karena sempat menghalau geng itu bikin rusuh.


"Mas, tapi Bia sama Runi nggak bisa kerja. Tangan Bia keseleo tadi kena piting geng urakan itu. Runi juga asmanya kumat." Lapor Tomi sang chef.


Ezz tahu tanpa bantuan Bia dan Runi para asisten chef, Tomi pasti kewalahan.


"Oke. Tenang aja. Sekarang beresin semuanya. Kita buka restoran satu jam lagi."


"Baik, Mas."


Semua karyawan bekerja cepat membereskan tempat yang berantakan itu.


Ezz mengambil HP dan menghubungi Zolla.


"Halo, Kak?"


"Halo sayang, kamu bisa bantu aku nggak?"


"Bantu apa?"


"Asisten chef di restoran pada nggak bisa kerja. Chef Tomi pasti kewalahan kalau nggak ada asisten. Kamu bisa bantu, sayang?"


"Bisa Kak. Aku udah selesai makan udah minum vitamin juga. Aku kuat kok."


"Makasih sayang, ya udah kamu siap-siap nanti biar kamu diantar Pak Tejo ke mari ya."


"Iya Kak."


Begitu komunikasi diputus, Ezz segera membantu membereskan meja-meja ke tempat semestinya.


"Mas, bawang pada rusak barusan diinjak geng tadi." Lapor Yono.


"Segera beli. Semua bahan makanan yang rusak buang saja." Ezz mengeluarkan uang dari dompet. "Segera kamu ke pasar terdekat."


"Baik, Mas. Segera!" Yono langsung pergi dengan motornya.


"Ezz!"


Ezz terkejut dengan kedatangan ketiga temannya.


"Lho? Kalian ngapain ke mari?"


"Zolla nelepon kami kasih tau lo ada masalah di restoran. Mumpung gue baru selesai meeting dan lagi tugas di luar, gue ke mari," kata Wahyu.


Ezz tersenyum geli istrinya begitu peka dengan kondisi hingga memanggil bala bantuan.


"Ini ada apaan? Kayaknya tempat lo abis kerusuhan?" Reno bingung melihat para karyawan bahu membahu membersihkan restoran.


"Geng Remon bikin rusuh barusan."


"Waahhh minta diberi itu mah!" Oka menyingsingkan lengan kemejanya. "Mana tu si Remon?? Gue kasih kanan apa kiri ni orang!"


"Apaan sih gaya aja digedein? Orangnya udah ditangkap polisi."


"Lahh gue kira masih ada. Terus karyawan lo baik-baik aja?"


"Ada beberapa yang luka tapi masih bisa kerja. Asisten chef sampe kekilir tangannya dan gue kasih cuti."


"Lahh terus gimana hari ini? Siapa yang jadi asisten?"


"Zolla lagi on the way ke mari. Istri gue mau bantu gantiin asisten chef."


"Hufft syukurlah. Ya udah kita juga bakal bantu. Upahnya makan gratis ya."


"Thanks banget ya, gue emang butuh bantuan."


Reno, Oka, dan Wahyu langsung mengganti pakaian dengan seragam pelayan dan mulai membereskan tempat karena sebentar lagi restoran akan dibuka.


Hari itu restoran ramai seperti biasa.


Zolla bergabung di dapur, namun malah lebih dominan dari Tomi chef utama.


Teknik memasak Zolla membuat semua yang melihat berdecak kagum.


"Chicken katsu dan beef steak udah siap." Zolla menekan bel.


Yono langsung tergopoh-gopoh datang.


"Udah semua ni Mbak? Waahhh wangi banget masakannya. Kalah chef Tomi."


Tomi hanya mesem-mesem dikatain begitu.


"Chef, ada pesanan nasi bakar hijau 10 porsi. Chef buat itu, biar aku yang masak beef stroganoff dan spaghetti bolognese."


"Oke, Chef Zolla..."


Zolla senyum-senyum merasa diakui. Ia masak dengan semangat.


"Jago banget Mbak masaknya, pernah kerja di restoran?" Tanya Tomi sambil terus memasak.


"Belum pernah sih. Tapi ibuku pernah kerja di restoran di Bandung. Jadi aku sering ikut Ibu kerja dan diajarin masak juga." Zolla mengiris bawang bombay dengan cepat.


"Masa' sih? Mbak Zolla kelihatan kayak chef profesional lho."


Zolla tersenyum. "Aku cuma chef di rumahan kok. Oh ya Chef, kecap asinnya abis?"


"Oh sebentar,.. Yono, ambil kecap asin di gudang!"


"Siap, Chef!" Yono sigap beranjak ke gudang.


Hari ini begitu sibuk. Tak ada meja kosong. Pesanan online pun berdatangan.


Ezz muncul di dapur tersenyum melihat istrinya begitu serius memasak.


"Sayang, capek nggak?" Tegur Ezz sambil memberi air minum.


Zolla menerima air dan meneguknya. "Nggak capek kok. Aku malah seneng bisa ngebantu suamiku."


"Respon pelanggan bagus banget lho. Katanya masakan hari ini lebih enak."


"Mbak Zolla besok-besok bantuin saya lagi, Mas. Kerja saya jadi lebih enteng Mbak Zolla cepet paham kalau dikasih tau." Kata Tomi.


"Kondisinya istri saya lagi hamil jadi nggak bisa terus kerja, Tom."


"Iya boleh. Tapi kalau kamu capek, langsung istirahat lho."


"Iya suamiku sayang... Ke sana gih, aku lagi sibuk."


"Iya deh aku diusir. Nanti malam minta upah 5 ronde ya." Ezz mengecup pipi Zolla sekilas dan meninggalkan dapur.


"Pesanan di meja 11 sudah siap."


***


Menjelang sore, baru Zolla bisa beristirahat di ruangan Ezz.


Sementara Ezz begitu puas dengan pemasukan hari ini.


"Respon pelanggan bagus, Mas. Besok-besok Mbak Zolla masak lagi." Kata Yono.


"Iya Mas, bahkan saya nggak lihat ada sisa makanan di piring pelanggan. Berarti semua suka masakan Mbak Zolla, Mas." Ratih menambahkan.


"Semua bisa diatur." Ezz begitu bangga dengan kemampuan Zolla membuat restorannya makin maju.


Kembali ke ruangan, Ezz tersenyum melihat Zolla tertidur pulas di sofa. Kelelahan setelah masak tak henti.


Ia duduk dan memperhatikan wajah polos istrinya.


"Makasih ya sayang, sudah bantu suami kamu ini."


Pintu terbuka.


Ketiga temannya muncul dan duduk di kursi, kelelahan.


"Thanks ya pada bantuin gue."


"No prob. Hufftt gue kira kerja di restoran nggak cape. Udah berapa jam gue nggak ada duduk istirahat." Oka menyandar di kursi dengan nyaman.


"Lagian Remon nyari masalah aja, kalau berhadapan sama gue, gue blender juga tu orang!" Dumel Reno.


"Zolla capek banget tuh, sampai pules gitu tidurnya," komentar Wahyu.


Ezz memandangi istrinya yang tidurnya tak terganggu dengan kehadiran teman-teman Ezz.


"Barusan si Remon nanyain tentang Zella ke gue," kata Ezz. "Dia nuduh, gue dapat uang hasil kejahatan Zella."


"Asem emang tu orang ngomong nggak pake otak!" Umpat Reno.


"Tapi gimana caranya kita lacak dia lagi? HP Zella udah nggak aktif. Kayaknya dia ngilangin jejak."


Ezz mengusap pelipisnya, memikirkan cara.


"Wait! Lo semua inget kan nama cowok temen deketnya Zella?"


Ketiga temannya saling pandang.


"Siapa ya gue lupa?"


"Yoga, Toga apa Vega...?"


"Foga, dodol! Gitu aja kagak inget."


"Eh iya Foga ya."


"Iya bener tuh. Sekarang kita cari tau siapa Foga ini. Siapa keluarganya. Identitas lengkapnya. Gue rasa dia bareng sama Zella."


"Gimana caranya kita lacak?"


"Dia pernah datang ke mari, Kak.."


Semua terkejut mendengar suara sontak menoleh ke belakang.


Zolla sudah bangun dan mengusap-usap wajahnya.


"Sayang, maksud kamu apa? Dia pernah ke mari?" Tanya Ezz sambil duduk di sampingnya.


"Aku barusan lihat papan di dekat meja kasir. Ada foto-foto pengunjung dan ulasan tentang restoran ini. Ada foto Foga diantaranya."


Segera Ezz membawa semua foto di papan ke ruangan.


Zolla menyipit melihat foto satu per satu.


"Perhatiin baik-baik, sayang."


Zolla mengambil selembar foto. "Ini orangnya."


Kontan semua mata melebar melihat 3 cewek seksi berfoto di restoran.


"Sayang, Foga kan laki-laki. Kamu bercanda ya? Ini perempuan semua."


"Itu Foga kefoto di meja belakangnya Kak." Zolla menunjuk gambar laki-laki yang duduk di meja sebelah. Wajahnya jelas maka Zolla bisa mengenali.


Semua menyipit memperhatikan pria bertubuh kekar dan berkulit coklat sedang makan.


"Menurut keterangan tanggal, dia dateng sekitar 3 bulan lalu. Gue bakal periksa CCTV. Mungkin kita dapat petunjuk ke mana dia pergi."


Kruuyukkkkk...


Semua terkejut mendengar suara perut berdendang itu dan kontan melihat pada Zolla yang mengusap-usap perutnya.


"Sayang kamu laper?"


Zolla cemberut memegang perutnya yang keroncongan. "Banget, Kak..."


Kontan semua tertawa dan memegang perut masing-masing.


"Kita juga laper nih."


"Aku mau ayam bakar madu, Kak..." Rajuk Zolla.


"Iya sayang, kita makan ya."


Pembicaraan tentang Zella ditunda, namun semua optimis akan menemukan Zella setelah petunjuk tentang wajah Foga terungkap.


***