
"Mas Essss..."
Baru saja kembali ke ruangan, Bi Inah meneleponnya dengan nada gawat.
"Kenapa Bi?"
"Itu Neng.." Bi Inah seperti bingung bicara.
"Kenapa?"
"Neng Zolla ngacak-ngacak ruang kerja Bapak."
"Lho kok bisa? Dia nyari apa?"
"Dia cuma tanya ke Bibi dimana brankas Bapak. Tapi Bibi nggak tau Bibi nggak pernah perhatiin. Lagian tumben Neng Zolla nanyain brankas."
Akhirnya, lo tunjukin siapa diri lo sebenarnya! Batinnya.
"Bi, denger aku baik-baik. Bibi sama Pak Tejo dan Pak Iyo segera pergi dari rumah."
"Lho kenapa Mas?"
"Turutin aja. Yang pasti, jangan bicara apa-apa sama dia. Cepat pergi dari sana. Pake mobil, kalian bertiga datang ke restoran. Cepat!"
"Baik Mas."
Begitu telepon ditutup, Ezz mendengus dingin. "Gue udah duga lo datang cuma mau ngerampok Papa. Untung semalam gue udah pindahin brankas dan amankan semua surat-surat penting Papa. Cari aja sampai pingsan, nggak bakalan lo dapetin itu semua. Secara lo udah kurang ajar banget permainkan pernikahan dan bikin malu keluarga udah ngelakuin tindak kriminal."
TV menyiarkan berita terbaru tentang beberapa orang mencurigakan menjual perhiasan emas tanpa surat-surat, beserta unit smartphone dengan harga jual di pasaran menembus angka 10 jutaan.
"Sekarang kalian beraksi di kota? Jangan harap bisa selamat. Bos kalian ada di tangan gue sekarang."
Bisa saja ia menyekap Zella dan memaksanya buka mulut, tapi ia tak tega karena Zella sedang hamil. Dan lagi Zolla belum ditemukan keberadaannya. Khawatir jika gegabah bisa membahayakan Zolla.
HP nya berbunyi, Wahyu menelepon.
"Halo, Yu?"
"Halo Ezz, belum ada kabar di mana Zolla?"
"Belum nih. Gue takut dia kenapa-napa. Tapi gue berlagak biasa di depan Zella, karena dia beranggapan gue belum tau tentang Zolla. Gue kuatir kalo gue emosi, dia bisa perintahin orang untuk celakain Zolla."
"Susah juga sih Zella nekat banget. Gini deh, gue baru selesai meeting. Jadwal gue free sekarang. Apa yang bisa gue bantu?"
"Oh ya lo coba ke rumah pamannya Foga yang namanya Dudi Herlan itu. Katanya rumah itu disegel Bank. Periksa jangan sampai kita dikibulin. Mungkin ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk."
"Oke Ezz. Gue meluncur sekarang ke lokasi."
"Thanks Yu."
Telepon diputus, Ezz mengambil kunci mobil dan meninggalkan restoran.
Tak bisa berdiam diri, ia akan mencari Zolla. Meski ia bingung harus cari ke mana.
***
Motor Wahyu berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan halaman luas. Ada banner tertempel di gerbang bertuliskan Disita Bank.
Wahyu turun dari motor dan melepas helm. Memperhatikan keadaan sekitar.
"Serius nih nggak berpenghuni? Kok gue ngerasa nggak gitu ya?" Ia lihat kanan-kiri, memang tidak ada orang.
Kawasan ini juga tidak padat penduduk jadi tidak ada yang bisa ditanya.
"Gue coba cek deh." Wahyu memeriksa ternyata gerbangnya tidak dikunci.
"Nah kan gimana gue nggak curiga? Nggak ada orang nggak dikunci." Ia masuk ke halaman yang luas banyak daun berserakan.
"Kalo emang disita bank, pasti pintunya digembok. Gue periksa aja deh ke dalem."
Tiba-tiba ia menginjak sesuatu. "Apaan nih?"
Ia berjongkok menyingkirkan dedaunan. "Hah? Kelereng? Kok bisa ada kelereng di sini?"
Pluukk...
"Aduuuhhh..." Wahyu meringis jidatnya kena sambut kelereng entah dari mana.
"Ini apaan sih siapa yang nyambit gue?"
"Awww..." Kali ini bahu Wahyu terkena tembakan kelereng.
"Waahh ada yang nyari masalah nih sama gue. Heh siap....?" Ia langsung mingkem melihat ke lantai atas. "Zolla??" Ia sungguh kaget melihat Zolla di balik teralis melambai tangan dengan wajah panik. Pastinya istri Ezz itu dikurung di sebuah kamar.
Zolla mengisyaratkan diam dengan jarinya dan melambai menyuruhnya untuk pergi, karena ada orang berjaga.
Wahyu langsung paham dan mengacungkan jempol, bergegas keluar rumah.
***
Sementara Zolla bernafas lega Wahyu menemukannya. Pasti Ezz akan segera datang menolongnya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, buru-buru Zolla menutup jendela dan membereskan katapel serta kelereng yang digunakannya, lalu menyembunyikannya di laci.
Pintu dibuka.
Seorang pria kurus membawakan nampan berisi nasi ayam goreng.
"Foga mana?"
Pria itu memberi isyarat Foga akan kembali beberapa jam lagi.
Zolla menduga pria ini tidak bisa bicara. Jadi tidak bertanya lebih lanjut.
Begitu pintu dikunci dari luar, Zolla duduk menunggu harap-harap cemas.
Memikirkan cara keluar dari sini, tapi ia butuh bantuan. Bisa saja ia menjebol jendela kamar mandi yang cukup rendah, tapi ia tak mau gegabah. Dengan kondisinya sekarang ia tidak bisa melakukan sendiri karena bisa membahayakan bayi-bayi dalam kandungannya.
Tak lama kemudian, ada ketukan di jendela.
Tok tok..
"La, Zolla... Ini gue!"
Zolla takut-takut membuka jendela dan bernafas lega. "Kak Wahyu.. kok bisa naik?"
"Gue cari jalan untuk naik dari samping, tenang aja nggak ada yang lihat. Sekarang lo cerita sama gue, gimana ceritanya lo bisa ditangkap mereka?"
"Zella yang culik aku, Kak. Lalu dia tuker baju kami dan kembali ke rumah Papa. Sedangkan aku disekap di sini."
"Keterlaluan Zella! Lo tenang aja. Ezz nggak sebodoh itu. Dia udah tau itu Zella yang asli. Tapi dia nggak bisa laporin Zella ke polisi selama lo belum ditemukan. Dia kuatir Zella nekat celakain lo. Makanya Ezz bersikap biasa."
"Kak Wahyu keluarin aku dari sini. Aku takut di sini Kak. Mereka ini sindikat pengedar uang palsu dan sembunyi di sini. Aku dengar mereka beraksi ketika hari masih gelap dan lewat jalan belakang."
Wahyu geram ingin segera beraksi namun tak bisa gegabah karena Zolla masih ditawan. Ia juga tak tahu kondisi di dalam bagaimana. Apa mereka ada senjata yang berbahaya.
"Zella juga sedang hamil. Aku jadi takut kenapa dia gegabah padahal sedang hamil."
Wahyu berpikir mencari ide untuk membebaskan Zolla. "Lo tau siapa ayah bayi dari Zella?"
"Foga. Dia satu-satunya yang dekat sama Zella. Dia cinta sama Zella dan rela ngelakuin apapun untuk Zella."
"Dia sekarang ada di sini?"
"Barusan aku tanya dia lagi keluar, Kak."
Wahyu mendadak dapat ide. "Gue tau apa yang harus lo lakuin, La. Dengerin gue.."
Zolla mendengarkan ide yang dilontarkan Wahyu beserta yang harus dilakukan.
"Paham kan?"
Zolla mengangguk. "Iya aku paham Kak."
"Oke. Sekarang, lo tenang aja dulu di sini. Secepatnya, lo akan bebas. Lo ikutin aja yang gue bilang tadi. Inget, harus meyakinkan."
"Iya Kak. Aku pasti bisa."
"Ya udah gue pergi dulu. Lo jaga diri."
"Hati-hati Kak."
Begitu Wahyu pergi melewati tembok sebelah, Zolla terduduk lesu.
"Aku pasti segera bebas. Semoga Zella nggak celakain orang rumah."
***