Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Sweet Moment


Sudah pukul 19.20, Ezz belum juga membalas chat nya membuat Zolla gelisah terus mondar-mandir di kamarnya.


"Kak Ezz kok belum bales sih?" Zolla merengut jadinya sambil duduk di sofa.


Pintu diketuk.


"Neng Zolla..."


"Masuk aja Bi," sahutnya tanpa melepaskan pandangan dari layar HP.


Pintu terbuka.


"Makan dulu Neng. Mumpung masih panas. Bibi buatin soto ayam."


"Nanti aja Bi. Aku masih kenyang tadi banyak makan kue."


"Ya udah kalau Neng mau makan panggil Bibi aja nanti Bibi siapin."


"Iya Bi."


Begitu Bi Inah meninggalkan kamar, Zolla cemberut lagi karena HP nya tak kunjung berbunyi.


"Jangan-jangan Kak Ezz langsung pulang nih ketemu Riani.. iihh..." Zolla jadi bete dan rebahan di sofa. Bibirnya maju beberapa senti, kesal Ezz tak kunjung membalas chat nya. Dibaca juga tidak.


"Dia lupa kali sama aku. Ah udah ah.. mending aku mandi air hangat."


Zolla mengambil handuk dan melenggang ke kamar mandi.


Baru mau menutup pintu, HP nya berdering mengagetkan.


Langsung ia menyambar benda itu, senyumnya mengembang.


"Kak Ezz..."


"Halo Zolla..."


"Iihhhh kok chat aku nggak dibales sih?" Zolla langsung ngomel.


"Iya maaf."


"Minimal dibaca juga nggak apa-apa aku kan jadi mikir Kakak macem-macem di sana."


"Nggak macem-macem kok aku kan kerja. Baru nelepon kok aku malah diomelin?"


"Lagian aku kangen, Kak Ezz nggak bales chat aku.."


"Ooo jadi karena kangen?"


"Sekarang udah enggak ah.."


"Kok malah ngambek? Jelek lho nanti.."


"Biarin. Aku lagi bete sama Kak Ezz."


"Hmm kamu lagi di kamar kan?"


"Kenapa emang?"


"Coba kamu ke balkon."


Kening Zolla kontan berkerut dan menurut membuka pintu balkon.


"Ada apaan emang?" Zolla masih bete aja.


Suara Ezz seperti mendengus menahan tawa. "Kamu baru mau mandi ya?"


Zolla terkejut dan menyapu pandangan ke bawah. Matanya melotot lebar melihat Ezz di halaman rumah berdiri menyandar di mobil sambil melambaikan tangan.


"Iihhh Kak Ezz kok nggak bilang-bilang mau dateng?" Zolla langsung masuk kamar, malu ketahuan belum mandi karena menyampirkan handuk di bahunya.


"Aku nggak boleh masuk nih?" Ezz senyum-senyum melihat Zolla malu. "Katanya kangen sama aku."


"Iihhh Kak... Aku kan malu..."


"Lebih malu mana nih kalau dilihat tetangga, aku yang ganteng begini nggak dikasih masuk rumah sama pacar sendiri?"


Zolla panik jadinya. "Tunggu 15 menit."


Ezz tersenyum gemas begitu Zolla memutuskan telepon. Sudah terbayang gadis itu mandi kilat.


15 menit kemudian, pintu depan terbuka.


Ezz langsung masuk rumah dan memeluk Zolla begitu erat.


"Kak Ezz kok baru dateng?" Zolla membalas pelukannya sambil cemberut.


"Aku kan sibuk kerja. Bukan macem-macem." Ezz menghirup aroma sabun dan sampo yang menguar dari tubuh Zolla.


Zolla melepas pelukannya. "Tapi kan bisa bales chat aku cuma sebentar."


Ezz menahan senyum, Zolla lagi ngambek begini sungguh menggemaskan.


Meski bajunya sederhana hanya kaus dan rok selutut, gadis itu begitu cantik. Wajahnya hanya dipoles bedak tipis dan liptin aroma strawberry membuat Ezz tergoda ingin menciumnya.


"Iya maaf."


Berdua mereka duduk di ruang tengah dengan Ezz masih membujuk Zolla yang merajuk cuma karena chat tidak dibalas.


"Katanya kangen. Kok nggak mau liat aku? Aku pulang lagi aja kalau gitu."


Zolla tersentak dan memegang tangan Ezz. "Iihh kok pulang? Baru aja dateng."


"Makanya jangan bete lagi." Ezz mengelus pipi Zolla.


"Iya.. tapi Kakak jangan cuekin chat aku lagi. Minimal jawab singkat juga nggak pa-pa. Yang penting aku tau Kak Ezz..."


Cupp..


"Kalau pacar dateng tuh tawarin minum kek, ini malah diomelin.."


Pipi Zolla kontan memerah. "Terus Kakak mau minum apa?"


"Apa aja yang kamu buatin aku suka."


Zolla langsung kabur ke dapur sungguh malu digoda sedemikian rupa oleh Ezz.


Ezz meletakkan HP di meja dan membuka kemejanya. Di dalamnya ia memakai kaus lengan pendek. Ia menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. Seharian nyaris ia tidak istirahat.


Hari ini ia sungguh sibuk karena ada beberapa karyawan yang izin tidak masuk kerja. Ezz tidak mentolerir jika karyawan tidak sehat, tidak boleh bekerja khawatir penyakit menular mengenai makanan. Ezz sangat menjaga kualitas dan makanan harus higienis.


Maka ia harus turun langsung melayani pengunjung. Juga harus pergi berbelanja bahan makanan yang habis sendirian.


Muncul Zolla membawa dua cangkir minuman.


"Nih aku buatin coklat hangat, Kak." Zolla meletakkan cangkir di meja.


"Makasih ya pacarku Zolla.." goda Ezz sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Zolla.


Zolla salah tingkah jadinya. "Kak nonton film yuk?"


"Mau nonton apa?"


"Titanic."


"Titanic?" Ezz membayangkan film dengan durasi panjang itu pasti bikin ngantuk.


"Mau ya, Kak? Aku belum pernah nonton itu. Pengen nonton tapi nggak seru sendirian."


Tak mau mengecewakan Zolla, Ezz mengangguk setuju.


Zolla bergegas menyalakan TV dan duduk bersama Ezz.


Ezz melingkarkan tangannya memeluk Zolla agar gadis itu rebahan di bahunya.


Tak henti mengelus-elus rambut Zolla. Ia lebih suka menonton film action. Tapi karena bersama Zolla, ia menikmati film juga.


Apalagi ekspresi lucu gadis itu terkagum-kagum cukup menghibur.


"Kapalnya besar banget, Kak."


"Mau naik kapal kayak gitu?"


"Mau sih. Tapi takut tenggelam. Aku kan nggak bisa berenang."


Ezz terkekeh mendengar jawaban polos itu dan makin mengeratkan pelukannya, lanjut menonton.


Begitu adegan ciuman Rose dan Jack di atas kapal, membuat Ezz terbawa suasana ingin melakukan hal yang sama, namun ditahannya. Ia tak ingin menyakiti Zolla lagi. Jadi Ezz hanya mengecup pucuk kepala Zolla berkali-kali.


Tanpa ia sadari, Zolla malu melihat adegan itu, karena sedang menonton dengan laki-laki. Terutama adegan selanjutnya yang cukup hot membuat Zolla panik namun berusaha ditutupi.


Ezz pun sebagai laki-laki normal tentu bereaksi menonton adegan hot antara pria dan wanita. Dan kalau boleh meminta, ia ingin ganti film saja. Khawatir lepas kendali dan menggarap Zolla saat ini juga.


Tapi karena sudah setengah jalan film, mereka lanjut nonton.


Film ditutup dengan adegan yang membuat Zolla menangis tersedu-sedu terbawa suasana alur cerita.


Di meja sampai banyak tisu bekas mengelap air matanya.


"Sedih banget, Kak.."


Ezz tersenyum sambil mengusap-usap bahu Zolla. Gadis itu begitu mellow terbawa cerita hingga tak henti menangis menjelang akhir cerita dimana kapal tenggelam.


Melihat Zolla membalas tatapannya, membuat Ezz tak bisa menahan diri lagi. Langsung mencium bibir Zolla yang melotot lebar, namun tak menolak malah membalasnya.


Keduanya larut dalam ciuman hangat yang lembut tanpa tuntutan.


***


Lain dengan Zolla dan Ezz yang sedang menikmati moment sweet mereka, tidak dengan Zella yang terkulai lemas di ranjang melewati pergelutan beberapa ronde panas.


Gadis itu menyesal menantang Foga yang staminanya begitu kuat hingga ia digempur di ranjang tak henti.


Foga sendiri masih bertenaga tak memberi istirahat pada Zella.


"Ga, udah stop.." rintih Zella kelelahan.


"Udah nyerah?" Tanya Foga melihat Zella sudah tak bertenaga.


Zella tak menjawab, tubuhnya sudah penuh bekas merah. Ia tak menyangka Foga seganas itu. Sudah hampir tengah malam sepertinya Foga masih bernafsu melanjutkan.


"Oke. Sepakat. Lo cuma boleh ngelakuin ini sama gue. Kalo lo sampai lakuin sama cowok lain, gue bakal bunuh tu cowok." Ancaman Foga tak main-main.


"Duuhh bantuin gue ke kamar mandi deh. Perih banget ni, senjata lo size nya jumbo juga. Mana on melulu. Makin melar aja ni punya gue."


Foga membantu Zella bangun dan tertatih-tatih masuk kamar mandi.


Dengan sigap Foga membantu membersihkan tubuh Zella.


"Kita nikah ya, La." Kata Foga. "Gue bakal jagain lo."


Zella diam saja dan buang muka. "Lo kan tau gue ini tercatat istrinya Kak Ezz. Ulang tahun pernikahan nanti gue harus balik buat ganti posisi lagi sama Zolla. Gimana bisa lo nikahin gue kalau gue masih istri orang?"


"Terus gimana bisa lo tidur dengan cowok lain sementara lo udah bersuami?" Tembak Foga telak.


"Apaan sih lo, Ga?" Zella marah dan mendorong Foga menjauh. "Keluar sana! Mending siapin makanan buat gue."


Meski setengah hati, Foga meninggalkan Zella sendirian di kamar mandi.


Zella misuh-misuh di kamar mandi sambil membersihkan tubuhnya.


"Gila banget tu Foga nggak ada capeknya. Jangan-jangan dia ngerjain gue dengan minum obat kuat!"


***