Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Menikah # 2


Berenam mereka menikmati hidangan lezat pernikahan Ezz dan Zolla.


"Ezz, nanti kamu dan Zolla pergi lah ke rumah Ibu Bapak mu. Jelaskan dengan cara yang bisa dimengerti. Papa tidak bisa menjelaskan apa-apa," kata Gunadi sambil makan.


"Iya Pa, aku memang berencana bawa Zolla ke sana. Eh sayang, itu ada udangnya." Sergah Ezz melihat Zolla mau mengambil capcay kuah. "Makan yang lain aja ya. Jangan sampai alergi."


Zolla cemberut. "Aku mau itu Kak."


"Ini masih banyak yang enak kok. Aku ambilin ya."


"Ya udah aku mau ayamnya."


"Iya makan ayam aja." Ezz mengambil potongan paha ayam panggang madu dan meletakkannya di piring Zolla.


Tiga temannya kontan berdeham bertahan tidak meledek Ezz yang begitu perhatian.


Gunadi senyum-senyum melihat kebahagiaan putrinya. "Terima kasih kalian bertiga bisa hadir. Jadi pernikahan ini tidak terlalu sepi."


"Sama-sama Om."


Gunadi menyudahi makannya dan melihat jam tangannya. "Zolla sayang, Papa harus pergi ada pekerjaan."


Zolla agak cemberut masih ingin bersama ayahnya.


"Kok cemberut gitu? Kan sekarang udah ada Ezz yang akan jaga Zolla." Goda Gunadi.


"Iya sayang, nggak apa-apa Papa selesaikan kerjanya dulu. Nanti kan kita pulang bareng sama Papa ke Jakarta." Bujuk Ezz pada istrinya.


"Iya, kalian nikmati saja bulan madu. Papa sudah ingin sekali punya cucu. Usaha yang keras ya." Perkataan Gunadi membuat Zolla dan Ezz memerah, sementara Reno, Oka dan Wahyu terlihat setengah mati menahan tawa.


Begitu Gunadi pergi meninggalkan mereka, langsung saja semua meledeknya.


"Cieeeee udah ada request aja minta cucu.."


"Pada malu-malu gitu udah pada sah juga."


"Berisik lo pada! Pada makan aja. Sayang, kok nggak diabisin makannya?" Tegur Ezz.


Makanan di piring Zolla tinggal setengah.


Zolla menggeleng. "Nggak enak makan Kak. Bajunya ketat."


Semua langsung melotot begitu Ezz sigap mau memegang resleting baju istrinya.


"Ehhhh sembarangan lo! Jangan di sini dong!"


"Tau! Tahan napa masih siang!"


"Nggak pengertian amat kita masih pada jomblo."


Ezz dan Zolla terkekeh geli melihat reaksi teman-temannya.


"Ya udah gue ke kamar dulu. Lo pada santai aja."


Kontan semua tak tahan meledek lagi.


"Cieeee ke kamar... Uhuyyy... Mau ngapain tuhh??"


"Apaan lagi sih? Ya belah duren lah..."


"Belah duren siang-siang."


"Udah sah mau pagi siang malem juga boleh-boleh aja..."


Zolla makin malu diledek teman-teman Ezz begitu mereka berdua meninggalkan taman dan menuju lift.


"Maaf ya temen-temenku emang gitu. Norak. Tapi mereka baik kok, waktu kamu di rumah sakit mereka bertiga yang jagain," jelas Ezz sambil menuntun langkah Zolla.


"Iya nggak apa-apa Kak. Aku malah seneng kalau punya temen. Sejak dulu, di sekolah juga nggak ada yang mau berteman dengan aku. Karena aku diejek anak haram tanpa ayah, juga karena aku miskin." Perkataan Zolla menusuk hati Ezz seketika membayangkan masa lalu Zolla, direndahkan, diejek anak haram.


Kenapa dulu gue pingsan setelah kebakaran itu? Dan begonya kenapa gue nggak langsung cari dia setelah gue pulih? Ezz sungguh menyesali.


Kalau saja 5 tahun lalu Ezz langsung mencari keberadaan Zolla yang sudah menyelamatkannya, mungkin ini tidak akan terjadi. Ia tidak akan berhubungan dengan Zella, dan menyiksa Zolla. Mungkin juga membuat Zolla nyaman hingga tidak sedih merasa sendirian.


Air mata Zolla menitik mengingat kejadian pertama malam pengantin palsu mereka. Sikap Ezz begitu kasar padanya.


Zolla jadi takut terulang lagi. Tatapan mengerikan Ezz kala itu melekat dan sulit dihilangkan dari benaknya. Ketika Ezz menggagahinya begitu kasar merobek kewanitaannya sampai dia menangis, merintih minta ampun. Meski sudah berlalu, kalau teringat ia jadi ketakutan.


Tiba di kamar hotel yang sudah dihias ala pengantin, keringat dingin membasahi kening Zolla membuat tubuhnya gemetar.


Ezz menutup pintu dan melihat Zolla berdiri saja sambil menunduk.


Melihat tubuhnya gemetar, Ezz makin tak enak hati.


Pasti dia inget kejadian itu, batinnya.


Ezz tak ingin membuat Zolla makin takut karena ia sadar sudah menorehkan luka. Bahkan Ezz marah pada dirinya sendiri mengingat setiap perlakuannya dulu.


Zolla tersentak begitu Ezz memeluknya dari belakang.


"Ngg Kak..."


"Aku sayang kamu, Zolla. Jangan pernah ragukan itu."


Ezz melepas pelukannya dan menyentuh resleting gaun Zolla.


Kontan Zolla tersentak dan menghindar.


"Ngg..." Zolla cemas Ezz akan memaksanya.


Ezz menghela nafas berat dan tersenyum.


"Aku nggak akan lakuin itu kalau kamu belum siap. Lepas dulu gaunnya, kamu bilang ketat. Pasti nggak nyaman kan. Ganti baju dulu, kita pergi jalan-jalan."


Zolla menatap suaminya, bingung. Kak Ezz serius nggak minta sekarang?


Padahal sejak kemarin seperti menahan ingin bermesraan.


Ezz mengambilkan baju di lemari dan membantu melepas gaun pengantin.


Selama itu pula Ezz menahan agar tidak menerkam Zolla saat itu juga begitu melihat tubuh mulus hanya mengenakan pakaian dalam.


Khawatir Zolla ketakutan.


Zolla membersihkan make up dengan kapas lalu mandi.


Setelah berpakaian, Zolla mengenakan krim wajah, begitu Ezz masuk kamar mandi.


"Aku mau tidur aja boleh nggak Kak? Semalam aku kurang tidur."


Ezz tersenyum. "Iya boleh. Ya udah aku temenin tidur ya."


"Temenin tidur?"


"Lah trus aku harus ngapain kalau nggak nemenin kamu tidur?" Ezz membantu mengeringkan rambut Zolla dengan hair dryer.


Zolla merasa begitu dimanja.


Hanya mengenakan kaus dan celana legging, Zolla merebahkan tubuhnya di ranjang. Berhati-hati agar tidak merusak kelopak bunga mawar yang sudah disusun.


Ezz sudah ganti baju dengan kaus dan celana kain, lalu rebahan di samping Zolla yang langsung terlelap.


Ia mengelus kepala Zolla dan mengecup keningnya penuh sayang.


Lalu ikut terlelap karena semalam ia begadang mempersiapkan pernikahannya.


***


#aku diajak bulan madu sama Kak Ezz.#


"Woyyyy... Gila lo! Kenapa lo kasih tau Zella?" Omel Reno.


Mereka bertiga sedang di kamar hotel berunding cara melacak keberadaan Zella.


Oka mengirim SMS itu pada nomor Zella.


"Tenang aja, gue lagi lacak lokasi dia." Oka memeriksa melewati laptop. "Kalo SMS nya terkirim, berarti HP nya lagi aktif dan gue bisa lacak."


"Gue nggak bisa bayangin kalau tu perempuan jahat dateng, bisa ngerusak kebahagiaan Ezz sama Zolla." Kata Reno.


"Kita nggak akan diem aja. Inget kan kita hutang nyawa sama Ezz." Celetuk Wahyu asyik ngemil keripik kentang.


"Mana lah gue lupa. Dia nyusup ke markas Remon buat nyelametin kita bertiga, yang bahkan Bang Dewon pun sebagai ketua geng sama sekali nggak peduli kita ditangkap. Makanya begitu Ezz out dari geng gue nggak ragu untuk keluar juga." Ingat Oka.


Reno membenarkan. "Bener tu. Ezz banyak jasa sama kita. Sekarang tugas kita lindungin Ezz dan Zolla, karena kalau Zella muncul, sama aja dengan bahaya untuk Zolla."


Lalu Oka dan Reno memperhatikan layar laptop, GPS sedang melacak sinyal HP Zella.


Wahyu yang sedang melihat-lihat berita di sosial media, berhenti mengunyah makanannya.. dan...


Plakkk...


"Awwww... Apaan sih lo maen geplak aja??"


Reno dan Oka misuh-misuh kena pukul.


"Guys, ini ada berita heboh!"


Mereka ikut melihat berita di sosial media.


"Peredaran uang palsu?"


Berita yang baru saja turun itu langsung menghebohkan.


Menurut berita, sindikat pengedar uang palsu ini bermodus membeli barang-barang mahal dengan uang tunai. Korban tidak ada yang menyadari karena uang yang ada 99 % terlihat asli. Hanya begitu korban membawa uang ke ATM dan bank, terdeteksi oleh mesin bahwa itu uang palsu.


Sindikat ini beroperasi di kota-kota kecil, korbannya sudah banyak yang menyadari tertipu. Kerugian korban bahkan sudah mencapai puluhan milyar. Karena ada yang membeli rumah dengan harga lebih dari 2 milyar dengan uang tunai palsu, lalu sertifikat digadaikan dan mendapat uang asli dengan jumlah fantastis.


"Sindikat pengedar uang palsu ini...?"


Mereka bertiga saling pandang.


"Apa ini bisnisnya Zella yang disebut sama Remon tempo hari?"


***