Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Honeymoon # 2


Sudah 3 hari mereka bulan madu, hubungan Ezz dan Zolla semakin lengket seperti permen karet.


Tak sekalipun Ezz membiarkan Zolla menonton berita yang dijamin merusak mood nya.


Laporan korban uang palsu bertambah dimana-mana.


Dan tiga temannya belum memberi info.


"Kak, ayo katanya mau ajak aku jalan-jalan.." Zolla menarik-narik tangan Ezz yang berbaring malas di ranjang sambil main game.


"Nanti aja, sayang. Perkiraan cuaca hari ini bakal hujan. Nanti kita jalan-jalan kehujanan gimana? Masa' bulan madu kita ntar kamu demam lagi karena kehujanan?"


"Iihhh udah 2 hari kita nggak kemana-mana. Masa' kita di kamar melulu?"


"Baru 2 hari, mau di kamar seminggu juga aku betah kok."


Plakk..


"Duuhh kok aku dipukul, sayang..?"


"Lagian Kak Ezz nih pikirannya nakal terus."


Ezz menarik tangan Zolla hingga menimpanya. "Emang nggak mau aku nakalin?"


Zolla merengut. "Besok kita udah pulang ke Jakarta. Masa' kita belum banyak jalan-jalan?"


Terdengar suara petir menggelegar membuat senyum Ezz terbit.


"Tuh kamu denger kan? Cuaca nggak ngijinin kita keluar dari kamar."


Zolla cemberut dan menyandar di bahu Ezz.


"Kapan lagi kita main ke mari?"


"Nanti kapan-kapan kita honeymoon lagi di sini. Kemarin aku mau ajak kamu ke pantai, angin laut lagi kenceng. Mau ngajak diskotik kamu nggak akan mau. Cuaca juga lagi hujan terus."


"Kalau malam nggak hujan kita belanja ya Kak? Aku kan belum beli oleh-oleh untuk Bi Inah, Pak Tejo, Pak Iyo."


"Iya sayang. Tapi kita main dulu, mumpung hujan dingin nih.."


Zolla menepuk pundak Ezz kesal. "Baru berhenti sejam lalu masih minta? Ini rambut aja belum kering baru keramas."


Ia heran sendiri Ezz begitu kecanduan dengannya, hingga ia terus saja digempur pagi siang malam. Hanya diizinkan keluar kamar untuk sarapan. Siang sampai malam Zolla dan Ezz tidak keluar kamar dan hanya memesan makanan untuk dimakan di kamar.


"Samponya masih banyak kan?" Ezz tersenyum nakal.


Zolla memalingkan wajah sambil cemberut namun tak menolak begitu Ezz memeluknya.


Lagi asyik bermesraan begitu, HP Ezz berbunyi.


Ada telepon dari Riani.


Zolla langsung cemburu mengingat kejadian di balkon kamar Ezz yang membuat ia sampai kehujanan dan jatuh sakit.


"Jawab tuh Kak."


"Biarin aja deh."


"Iihh jawab aja.. kayak nggak tau aja tu Riani nggak akan berhenti nelepon Kakak kalau nggak dijawab."


"Iya aku jawab tapi jangan ngambek ya."


Zolla mengangguk sambil berbaring di dada Ezz yang mengelus-elus rambutnya.


Sementara menjawab telepon Riani.


"Halo?"


"Kak Ezz... Masih lama di sana?"


"Ada apa, Ri?"


"Kak Ezz kapan pulang?"


"Aku.... Aahhhh pelan-pelan sayang..." Tiba-tiba Ezz mend*sah begitu Zolla menggigit pucuk dadanya.


Kontan di seberang sana Riani memanas.


"Sayang nakal..."


"Nggak apa-apa dong nakal sama suami sendiri.."


Suara Riani meninggi. "Kak Ezz!"


"Iya ada apa Ri?" Tanya Ezz santai sambil meremang karena Zolla menciumi lehernya.


"Kenapa berantem sama Vita? Kalau kalian nggak betah di rumahku, pada pindah aja. Aahhhhhh sayang jangan ditarik gitu, dielus aja..."


Riani tidak melanjutkan bicaranya karena nampaknya percuma.


Sambungan telepon diputus oleh Riani.


Namun tak dipedulikan Ezz.


"Dia ngambek tuh.." kata Zolla.


"Biarin aja. Dia juga tau aku udah beristri." Ezz menciumi leher Zolla hingga meninggalkan bekas merah.


Di luar hujan deras membuat Ezz gembira bisa mengurung Zolla di kamar lagi.


***


"Duuhh sukses kayaknya bulan madunya nih..." Goda Gunadi melihat anak-anaknya muncul di lobi.


Zolla sampai memerah karena mereka telat satu jam dari waktu janjian dengan Gunadi.


"Kak Ezz nih bikin lama.."


"Kok aku? Kamu yang tadi ngajakin lanjut di kamar mandi.."


"Iihhh Kakak yang duluan.."


Gunadi terkekeh melihat anak dan menantunya.


"Papa bahagia liat anak menantu Papa happy begini. Harus saling menjaga. Akur selalu."


"Pasti Pa. Ya kan sayang?" Ezz memeluk bahu Zolla mesra.


Zolla cemberut dan mencubit pinggang Ezz gemas.


"Duuhh sayang KDRT nih..."


"Lagian genit. Yuk pergi Pa?" Zolla memeluk lengan ayahnya.


Bertiga mereka keluar hotel menuju taksi online. Petugas hotel sibuk memasukkan koper-koper ke bagasi.


Barang bawaan Zolla beranak pinak menjadi 2 koper besar.


Sepanjang jalan juga Ezz begitu protektif terhadap Zolla, apalagi istrinya begitu cantik dan polos. Ia khawatir akan keselamatan Zolla. Apalagi ketika Zolla hampir diperkosa Deon, Ezz tak akan membiarkan Zolla sendirian.


Bahkan ketika Zolla ke toilet sekalipun. Ezz setia menunggu di depan toilet.


***


"Kok bisa sampai ketahuan!?? Lo semua gimana sih kerjanya!??"


Semua anak buah menunduk kena marah Zella.


"Bukan salah mereka, La. Harusnya kita tau produk kita nggak akan lolos di mesin ATM." Foga membela semuanya.


Zella meremas rambutnya kesal. "Kacau semua! Kita pasti diburon. Mana stok barang kita masih banyak."


"Ya udah si kita juga udah tau resiko ini. Mungkin produk kita bagus, nggak ada yang curiga. Tapi di mesin jelas nggak bisa lolos." Foga menenangkan Zella yang kepanasan.


"Terus sekarang gimana, Ga? Kita jadi buronan."


"Tenang aja, La. Kita nggak ada yang ninggalin jejak. Untuk sementara waktu kita stop beroperasi dulu. Toh hasilnya udah di luar ekspektasi juga."


Zella berdecak kesal. "Ya udah, kita break dulu. Kalau udah ketahuan, pasti jejak kita dilacak. Sekarang kita bergerak, kita pindah lokasi. Jangan tinggalin barang bukti sedikitpun."


Semua anak buah patuh dan berbalik mengikuti perintah Zella.


"Kita mau pindah ke mana, La?" Tanya Foga.


"Ke tempat tinggal Zolla. Tempatnya nggak jauh dari sini."


Foga kaget dan menarik tangan Zella. "Bentar dulu. Lo jangan gegabah, gimana kalau Zolla udah liat berita dan curiga sama lo. Pasti tempat tinggal dia udah ditandain."


"Dia kan cewek bego, nggak bakalan nyampe mikir begitu."


"Tapi jangan La, kita jangan ambil resiko. Mending gini, Om gue punya penginapan di Puncak. Penginapan itu udah kosong sejak sebulan lalu, terbengkalai karena bangkrut. Kita pindah ke sana aja. Jauh lebih aman."


Zella mendengus kesal. "Iya lah kepaksa deh kita break dulu. Kita sembunyi dulu sementara sampai keadaan aman. Sambil kita rencanain selanjutnya."


Dalam waktu singkat, vila markas Zella langsung kosong.


***