Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Zolla Hamil


Dua bulan kemudian...


Malam hari, Ezz dan Gunadi tiba di rumah bersamaan sambil mengobrol.


"Bisa, Pa. Aku akan siapkan tempat khusus untuk menjamu tamu-tamu Papa. Aku juga banyak hidangan istimewa untuk tamu Papa."


Gunadi ingin memesan tempat untuk meeting sekaligus makan siang dengan para investor.


"Iya Papa bisa dengan bangga mengumumkan bahwa ini restoran menantu Papa. Papa sempat bingung ke mana harus Papa ajak tamu-tamu Papa. Sampai lupa menantu Papa punya restoran yang sukses."


"Papaaaaa....."


Muncul Zolla langsung menghambur ke pelukan ayahnya yang sudah bepergian beberapa hari.


"Eh kesayangan Papa."


"Papa sama Kak Ezz kok bisa barengan?"


"Tadi Papa mampir dulu ke restoran, sayang. Papa mau booking tempat untuk besok banyak tamu Papa." Jelas Ezz.


"Oooooo...." Zolla tersenyum rahasia.


"Eh eh kenapa nih anak Papa senyum-senyum begini?"


Ezz pun heran tingkah istrinya begitu menggemaskan.


"Aku ada kejutan buat Papa sama suamiku."


"Apa itu?"


Dengan bangga Zolla mengacungkan benda yang disembunyikannya dari tadi.


Ezz kontan melotot melihat test pack alias alat tes kehamilan menunjukkan garis 2.


"Sayang kamu hamil???"


Gunadi sampai tercengang menatap test pack itu. "Papa... Bakal jadi Kakek???"


Zolla mengangguk semangat. "Kak Ezz bakal jadi ayah, Papa bakal punya cucu."


"Alhamdulillah..." Kontan Ezz memeluk erat istrinya.


Gunadi tak henti bersyukur dan ikut berpelukan.


Ezz turun mengecup perut Zolla yang masih rata berkali-kali.


"Sehat-sehat ya anak Ayah."


"Ezz, besok segera kamu bawa Zolla ke dokter kandungan. Bawa ke rumah sakit RH dan temui Dokter Nagisa Andini. Dia dokter kandungan terbaik."


"Baik, Pa."


Zolla langsung curiga. "Kok Papa bisa kenal sama dokter kandungan?"


Senyum Gunadi mengembang. "Dokter ini adik kelas di sekolah Papa waktu SMA. Kami bertemu lagi ketika reuni. Dan Nagisa ini..."


Ezz dan Zolla langsung paham.


"Pacar Papa ya?" Tembak Zolla langsung membuat Gunadi malu.


"Isshh kamu nih, kalau ngomong suka bener..."


Kontan mereka tertawa.


"Pak, Mas, Neng... Makanan udah siap." Kata Bi Inah.


"Yuk Pa, aku mau makan dari tadi nungguin Papa sama Kak Ezz."


"Kalo laper duluan aja, sayang."


Zolla menggeleng lucu. "Nggak mau sendiri. Mau makan sama-sama."


"Ayooo kita makan bertiga ya." Ajak Gunadi.


Bertiga mereka menikmati hidangan yang disajikan.


"Ini nih sop iga kesukaan Papa."


"Sayang mau ayam atau ikan?" Tawar Ezz.


"Mau dua-duanya."


"Iya ini makan yang banyak ya, nih tambah sop nya biar makin sehat kandungan kamu."


"Aaaa... Suapin.."


Gunadi tersenyum geli melihat betapa manjanya Zolla pada Ezz.


"Sini aku suapin."


Zolla makan begitu lahap sampai habis 2 piring nasi.


Raut wajahnya sungguh bahagia menghadapi kehamilan pertamanya.


***


"Ini anaknya Mas Gunadi kan? Barusan Mas Gunadi telepon kasih tau anaknya mau periksa kandungan. Anak pertama ya?"


"Iya Dok."


"Panggil saja Tante. Saya kan teman Papa kamu." Nagisa tersenyum ramah.


"Baik Tante.." Zolla agak canggung.


"Oke dari keterangan tanggal terakhir menstruasi, berarti sekarang kandungnya udah masuk minggu ke 7. Kita USG dulu ya."


Zolla mengikuti suster masuk lalu berbaring. Nagisa menggunakan alat yang ditempelkan pada perutnya.


"Bisa lihat di monitor ya kondisi kandungnya."


Ezz menyipit melihat gambar hitam putih tak beraturan.


Ia tak mengerti sama sekali.


"Tante, itu apa artinya?" Tanya Ezz bingung.


"Kandungan Zolla sehat. Perkembangan janinnya bagus. Dan..." Nagisa meraba-raba perut Zolla sambil tersenyum manis.


"Calon bayi kalian ini kembar."


Kabar dari Nagisa spontan membuat Ezz dan Zolla terbelalak lebar.


"Kembar??"


"Iya. Ini ada 2 janin dalam 1 kantung. Berarti bayi kalian akan sangat mirip."


Zolla berpandangan dengan Ezz berkaca-kaca sungguh bahagia.


"Alhamdulillah... Kita punya anak kembar, sayang..." Ezz menciumi kening Zolla begitu bahagia. "Tante, jenis kelaminnya apa?"


Nagisa tergelak geli. "Jenis kelamin akan terlihat begitu kandungan berusia 5 sampai 6 bulan. Yang sabar ya jaga kesehatan ibu dan bayinya."


Senyum Zolla mengembang sambil merapikan bajunya lagi.


"Tante resepkan vitamin. Jangan lupa makan makanan bergizi lebih bagus tinggi zat besi. Karena ada 2 janin yang perlu asupan nutrisi lebih."


"Terima kasih, Tante.." Ezz tak henti menciumi perut Zolla. "Kesayangan ayah cepet keluar yuk. Ayah nggak sabar nih mau ketemu 2 kesayangan."


Zolla langsung cemberut. "Kesayangannya cuma 2. Aku udah nggak disayang lagi."


"Ehh bukan gitu sayang, kok jadi ngambek. Maksudnya kesayangan yang di perut. Kamu kan bukan cuma kesayangan aku, tapi hidup dan matiku." Bujuk Ezz dapat cubitan gemas di pinggang.


"Gombal aja bisanya! Tante maaf nih suamiku genit."


Nagisa terkekeh. "Iya nggak apa-apa. Tante malah seneng kalau suami istri akur suka bercanda begini. Berpengaruh sama bayi dalam kandungan."


"Tuh sayang, denger. Kalau anak kita laki-laki, dia bakal jago gombal kayak aku. Kalau anak kita perempuan, bakal anti digombalin sama laki-laki."


Zolla merengut sambil mengelus-elus perutnya. "Jangan dengerin Ayah Nak. Ayah suka gombalin Ibu."


Nagisa dan Ezz tertawa geli melihat tingkah Zolla.


Begitu keluar rumah sakit, Ezz tak henti mengusap-usap perut Zolla.


"Aku masih nggak ngira lho, sayang. Ada kehidupan di perut kamu, calon bayi kita." Ezz mengecup kepala Zolla penuh sayang.


"Iya Kak. Dan aku nggak nyangka apa yang Ibu rasakan dulu aku rasakan juga. Hamil anak kembar."


"Pasti Ibu bahagia. Ada aku yang jaga kamu. Nggak akan pernah aku tinggalin kamu, sayang."


Zolla merebahkan kepala di bahu Ezz dengan nyaman.


"Kak, jangan lupa kabarin Ibu Bapak. Pasti Ibu Bapak seneng."


"Oh iya... Nanti sampai rumah baru aku telepon. Sekarang aku tebus resep vitamin kamu dulu. Kamu duduk di sini aja jangan kemana-mana."


Zolla mengangguk patuh sambil duduk di bangku.


Sementara Ezz menebus resep obat.


Tak henti Zolla bersyukur diberi amanah besar berupa 2 bayi kembar.


Sebulan lalu juga ia dan Ezz sudah berkunjung ke Kalimantan menemui Praja dan Lastri.


Butuh waktu untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi hingga sekarang Ezz menjadi suami dari Zolla.


Butuh waktu juga untuk orangtuanya memahami penjelasan mereka.


Akhirnya Praja dan Lastri bisa menerima penjelasan dan menerima Zolla sebagai menantu mereka.


Namun Ezz menutupi perbuatan Zella yang sudah mengancam Zolla. Ia tak ingin masalah berkepanjangan. Ia hanya menceritakan Zolla yang sebenarnya ia cinta, bukan Zella. Dan Zella kabur dengan laki-laki lain.


Hanya itu yang bisa ia katakan pada orangtuanya agar tidak banyak bertanya.


Yang jelas, Zolla lega dirinya sudah diterima sebagai Zolla, bukan sebagai Zella.


***