
🌼Eza
Malam ini, sulit sekali mataku terpejam. Sudah pukul dua pagi. Bahkan setelah pergumulan panas yang kami lakukan. Entah sudah berapa kali aku menggauli istriku. Sejak sore tadi sepulang makan bersama anak-anak jalanan. Aku baru bisa berhenti ketika Bian sudah sangat kelelahan meladeni gairahku.
Aku memandang tubuh polos yang berbaring di pelukanku. Raga istriku yang cantik. Wanita yang aku puja. Entah bagaimana aku bisa menjadi begitu bodoh karena wanita ini. Baru kali ini aku merasakan cinta yang begitu dalam. Cinta yang sangat mendebarkan. Cinta yang membuatku ingin memiliki dia seumur hidupku.
Tapi apa itu mungkin?
Bayangan Rani dan mama sekelebat muncul di pikiranku. Menggangguku hingga tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Bagaimana caraku membawa masuk Bian ke keluargaku? Bagaimana caraku mengenalkan wanita yang amat kucintai ini pada mamaku? Bagaimana caranya aku terus bersama Bian tanpa melukainya? Bian pasti sangat terluka begitu tau kalau aku ternyata sudah menikah. Bahkan lebih dulu sebelum aku menikahinya.
Bukan tidak mungkin Bian akan meninggalkanku. Dan aku tidak mau itu sampai terjadi. Sungguh.
Membayangkannya saja membuatku takut. Aku takut kehilangannya. Wanita cantik dan baik hati yang mampu meluluhkan hatiku. Mampu memberi debaran cinta yang tak pernah kurasa sebelumnya. Bahkan bersama istri sahku sekalipun.
Aku tau aku sudah tidak adil. Aku menyalahi aturan syariat berpoligami. Aku sudah mengkhianati janji pernikahanku dengan Maharani. Pun aku merahasiakan pernikahan pertamaku dari Bian. Tapi situasi saat itu memang tidak memungkinkan untuk aku jujur pada Bian. Aku terlalu takut kejujuranku akan membuat Bian menolak menikah denganku.
Mama. Aku yakin beliau akan sangat terluka kalau mengetahui aku telah menikah lagi dengan wanita lain. Wanita yang kutemui saat aku harus bekerja jauh dari keluarga. Wanita yang dalam waktu singkat saja mampu mengisi dan memenuhi ruang hatiku. Bahkan tidak ada ruang kosong lagi untuk wanita lain.
Aku semakin gelisah. Malam kian merambat mendekati pagi. Tapi mataku tak kunjung bisa terpejam. Padahal besok pagi hari pertama kami kembali bekerja. Setelah cuti yang kuajukan sejak kemarin melakukan akad nikah.
Gerakanku yang terus berbolak balik ke kanan dan kiri agaknya mengusik tidur nyenyak Biani. Bian mengerjap beberapa kali, kemudian mengusap pipiku dengan lembut.
"Mas.. Kamu kok belum tidur? Ini jam berapa?" suara parau nan sexy khas bangun tidur itu membuatku meremang.
"Ini masih malam sayang.. Tidurlah lagi.."
"Lalu kenapa Mas Eza belum tidur? Apa ada yang kamu pikirkan, mas?"
Inilah salah satu dari sifat Bian yang membuatku merasa seperti diperhatikan. Dia selalu melihat ekspresi wajah orang, kemudian menilai dengan mengandalkan intuisinya sebagai wanita. Perhatian kecil seperti ini cukup bisa menyentuh hatiku.
Aku beringsut memposisikan tubuhku mengungkungnya di bawah dadaku.
"Aku masih mau sayang.. Sekali lagi yuk sebelum shubuh?"
"Idih.. Suamiku ini kenapa nakal banget sih..? Pinggangku udah remuk ini rasanya, mas...." rengek Bian. Aku terkekeh mendengarnya.
Bian menjawil hidungku. "Jujur deh, suamiku ini lagi mikirin apa sih? Sampe gak bisa tidur.."
"Enggak sayang.. Bukan apa-apa."
"Benarkah? Apa kamu masih belum nyaman berbagi denganku, Mas? Kalau iya, tidak apa-apa.. Aku yakin memang butuh waktu buat mas untuk menerima aku agar bisa masuk ke hati dan dunia mas Eza."
Aku tersenyum kecil. Kepekaannya membuat ia berbeda dengan Maharani. Ah, lagi-lagi aku membandingkan mereka berdua. Aku tau ini tidak adil. Tapi aku benar jika berkata mereka berbeda.
"Istriku ini sensitif sekali sih.. Sini cium dulu."
Satu kecupan singkat kuhadiahkan padanya sebagai rasa terima kasihku atas kepeduliannya.
"Aku hanya sedang memikirkan mama, sayang.. Aku bingung mencari cara untuk mengenalkanmu pada beliau. Mama pasti sangat kecewa karena keputusanku menikah tanpa sepengetahuannya.."
"Iya, aku paham mas..." lirih kata itu terlontar dari bibir Bian. Tatapannya berubah layu
"Apa kamu mau bersabar sayang? Aku butuh waktu untuk memberitahukan perihal pernikahan kita pada mama.. Aku ingin memastikan kesehatan mama, dan kesiapan mama. Sehingga membawamu masuk ke dalam rumah kami tidak akan menyakiti kamu maupun mamaku.."
Bian mengangguk dengan senyum tipis menghiasi.
"Sabtu besok, ijinkan aku pulang ke Jember sendiri yaa?"
"Iya, Mas Eza.. Aku akan sabar. Aku nurut kamu saja gimana baiknya. Aku percaya padamu, Mas.." tutur Bian.
"Terima kasih sayang.. Terima kasih cintaku.."
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali ******* bibirnya. Bibir manis yang menyimpan banyak candu untukku. Sampai terlena dan melayang ke awang-awang mereguk sensasi manis yang memabukkan.
Tangan pun kembali merayapi tubuh polos istriku. Semakin dalam dan liar. Hingga tubuh cantik dan mulus itu menggeliat di bawah kungkunganku.
"Sayangggh.. Sudahh.. berapa kalii.. "
"Tapi aku mau lagi sayang.. Salah sendiri kamu begitu cantik.." Ucapku setelah melepas pagutan bibir kami.
"Mas, apa menurutmu mama kamu akan menyukaiku?"
"Tentu saja sayang.. Kamu sangat sempurna.."
"Jangan memujiku berlebihan mas.. Kamu tau aku tidak sempurna.."
"Sayang, aku serius.. Kamu wanita yang sangat baik dan tulus. Aku yakin mama akan menyukaimu. Ini hanya masalah waktu saja.. Hm?"
Bian mengangguk.
Maafkan aku sayang.. Ini kebohongan pertamaku padamu. Dan aku yakin akan ada kebohongan-kebohongan lain yang akan terlontar dari bibirku ini. Tapi percayalah semua ini aku lakukan karena aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak mau menyakitimu.
Cintaku adalah sebuah kebenaran. Apapun yang terjadi aku ingin melaluinya bersamamu, Bi...
...****************...
🌼 Happy reading 🌼
And happy new year 2022 🎉🎉