
🌼 Bian
Kami sampai di rumah masih pukul sepuluh pagi. Tadi memang kami ke rumah sakit pagi-pagi sekali. Agar masih sempat istirahat sebelum siang nanti mengajak anak-anak makan bersama.
Aku yang sepanjang jalan sampai di rumah terus diam, mencoba memahami situasi. Mencoba mengerti dan menerima ucapan dokter Irna tadi. Aku tidak hamil? Itu artinya semua beban yang kurasa, tangisan, kesedihan, dan kekecewaan atas sikap Oland adalah sia-sia? Oh, wait...
Bukankah itu juga berarti mas Eza merasa sia-sia menikahiku? Nyatanya aku tidak hamil dan mas Eza bisa saja merasa terjebak dalam pernikahan ini. Aku harus bagaimana?
Aku tidak mau melepas mas Eza. Bisakah aku egois dan ingin tetap memilikinya? Tapi apa mas Eza mau dan juga ingin tetap mempertahankan aku?
Sebuah sentuhan di bahuku membuatku sedikit terperanjat. Mas Eza. Lelaki itu mendapatiku sedang melamun di depan cermin rias kamarku. Ia berjongkok seraya melingkarkan lengan kekarnya, memelukku dari belakang.
"Istriku ini lagi mikirin apa sih?"
"Mas.. Aku tidak hamil.." dari cermin kulihat mas Eza memandangiku sambil tersenyum.
"Ternyata aku tidak hamil. " ulangku.
"Hemmm.." hanya itu respon mas Eza.
"Mas, apa kamu tidak menyesali pernikahan ini? Nyatanya aku tidak hamil dan mas Eza terjebak dalam pernikahan sia-sia ini.."
Mas Eza mengecup sebelah pipiku. Posisi kami belum berubah. Dia masih memelukku yang duduk di meja rias. "Harus bagaimana caraku meyakinkanmu, kalau aku menikahimu karena aku mencintaimu?"
"Aku percaya, mas.. Tapi...."
"Aku justru bersyukur.. Karena faktanya tidak ada benih pria lain di rahimmu."
Aku tersenyum getir.
Mas Eza membalikkan tubuhku dan mengangkat wajahku hingga bersitatap dengan manik netra hitamnya. "Sekarang jawab aku, Bi.. Setelah tau bahwa kamu tidak hamil, apa kamu menyesal menikah denganku?"
"Enggak, Mas.. Sama sekali enggak!" jawabku mantap. Hah.. wanita mana yang menyesal menikah denganmu mas? Nonsense.
"Aku justru takut mas Eza yang menyesali pernikahan kita ini.."
"Cewe bo doh.." Mas Eza menjitak keningku. Dengan sangat pelan, tentunyaa...
"Kamu gak tau kalau aku sangat bahagia sekarang.. Karena.. Aku.. Tidak harus berpuasa sembilan bulan lamanya.." Mas Eza menyeringai dengan tatapan yang menggoda. Aku jadi tau maksud ucapannya. Dan dengan gerakan cepat mas Eza mengeksekusi 'buka puasa' nya..
...****************...
🌼 Eza
Ah.. Bian. Biani Andrea. Istriku yang sangat cantik dan menarik. Gadis mandiri dan cerdas. Tapi sangat polos dalam urusan hati laki-laki. Bisa-bisanya dia mengira aku menyesal menikah dengannya karena dia tidak benar-benar hamil. Bo doh.
Aku justru lega. Hatiku bungah. Tidak ada benih pria lain di rahimnya yang harus kujaga. Tidak ada kewajibanku untuk menafkahi dan merawat anak hasil hubungan haramnya dengan laki-laki lain. Apalagi yang lebih membahagiakan dari pada itu?
"Aku akan melakukan saran dokter Irna sayang.. Aku.. mau berusaha keras.. Untuk.. Membuat kamu.. Hamil... Eemmmpphh" ucapku sambil terengah-engah di sela-sela kenikmatan melu mat bibir istriku.
Pelan tapi pasti, jemariku merambati punggungnya. Meraba dan memberikan sentuhan hangat untuk memancing gairah istriku tercinta ini. Aku sadar kami berdua manusia dewasa dan ini bukan kali pertama kami melakukan hubungan semacam ini.
Bian membalas ciu manku dengan lembut. Gerakannya lincah dan aku bisa merasa kalau gairah kami sama-sama sudah membuncah.
Kuturunkan resleting dressnya dan dengan cepat menghempaskan kain itu ke lantai. Kemudian dengan lembut ku dorong raganya dan kubaringkan di ranjang. Meskipun masih tertutup pakaian dalam, tapi sudah nampak jelas bagiku tubuh indah Bian. Lekuknya sangat seksi dan menggairahkan. Kulitnya seputih susu dan tanpa goresan sesenti pun.
Ah, hanya dengan melihatnya saja sudah bisa mengencangkan senjata tumpul laras panjangku di bawah sana.
Dengan sigap kubuka kausku dan melemparnya ke sembarang arah. Kemudian menindih tubuh Bian dan bersiap menelusuri keindahan tubuhnya seinci demi seinci. Tak boleh ada yang terlewat.
...****************...
🌼 Bian
Tubuh bidang mas Eza menindihku dan tanganku melingkari lehernya. Ah, aku suka aroma maskulin lelaki ini. Sangat lembut, tapi juga tajam. Sama seperti kepribadian orangnya. Lembut dan tegas.
Mas Eza lagi-lagi melu mat bibirku dengan rakus. Seakan tak ada puasnya. Ciuman mas Eza yang semula lembut dan penuh kehati-hatian, lama-lama berubah memanas dan terus menuntut. Meraup lebih banyak lagi dan lagi. Menye sap habis sekujur bibirku, sampai kebas rasanya.
Tangan mas Eza merambat turun. Menelusuri kulit tubuhku yang sudah meremang sejak awal mula serangan ini dimulai. Aku bahkan menggelinjang tiap kali penelusuran jemari mas Eza tiba di titik-titik sensitifku.
Suara-suara desa han erotis satu persatu meluncur dari bibirku. Aku benar-benar tidak bisa dan tidak mau menahannya. Perlakuan lembut mas Eza sangat memabukkan dan membuatku melayang ke awang-awang. Dan aku yakin suara-suara ajaibku ini semakin membakar gairah suamiku.
Entah sejak kapan aku tidak menyadarinya. Penutup dadaku sudah ditanggalkan dan Mas Eza sedang asik bermain-main. Menci umi dan menye sap satu persatu bukit kembarku bergantian. Dengan kedua tangannya mere mas dan memainkan puncak bukitku dengan nakalnya.
"Ouughh.. Mas.. Aawhh.. Sssshhh..." aku mele nguh dan mendesis tak karuan. Otakku sudah seperti akan meledak menahan hasratku di bawah sana. Tubuhku sampai melengkung merespon sentuhan cinta suamiku.
"Sayang.. It's my fave area. Badanmu kurus, tapi kenapa dadamu be sar begini.. sangat penuh dan berisi. Aku suka sayang.. Sangat suka."
Ucapan Mas Eza disela kesibukannya memberi tanda biru di sekitar gundukan bukit kembarku, membuat darahku berdesir hebat. Kuyakin wajahku sudah memerah sempurna sekarang. Mas Eza tidak hanya memanjakanku dengan sentuhannya, tapi juga pujiannya terhadap tubuhku membuatku merasa diakui dan dicintai.
Aku mengangkat wajah suamiku, "Sayangku, I want you.. I want you so badly.."
"You'll get me really soon, Baby.." Mas Eza menjawabku dengan berbisik di dekat telingaku. Dengan suara terengah-engahnya yang semakin membakar bira hiku.
"Bersabarlah dulu sayang.. Aku masih ingin mengenal lebih dalam lagi tubuh bidadariku ini. Aku janji kamu akan mendapat kepuasan yang akan membuatmu mengingat penyatuan kita hari ini.."
Hah? Masih ingin apa? Aku sudah tidak tahan lagi, sayang......
...****************...
🌼Happy Reading🌼