
Mereka berdua tenggelam ke dalam gairah yang berapi api, seakan-akan ini lah terkahir kalinya mereka dapat melakukannya, setelah melakukanya, mereka tersenyum dan tertidur bersama-sama saling berdekapan.
Elia terbangun dari tidurnya, ia melihat di sampingnya Roni sedang tetidur pulas, sekilas ia menatap wajah Roni, dan mengusapnya, "Apakah kita dapat bertahan dari semua ini, apalah jadinya kita yang hanya bermodal cinta, bagaimanan bisa aku sanggup bila jauh darimu," tak sadar air mata Elia jatuh.
Roni yang merasa wajahnya di usap terbangun dan melihat Elia yang sedang menangis,
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Roni.
"Aku tidak mau berpisah Eko," ucap Elia tak sanggup menahan tangisnya.
"Kamu ngomong apa? Kita tidak akan berpisah Lia, aku akan selalu bersamamu, jangan menangis aku tidak sanggup melihatnya Lia," sambil mendekap Elia.
Mendengar itu, Elia langsung mencium Roni , namun Roni tidak membalasnya.
"Roni ayo lakukan , mengapa kamu menolaknya? Kamu tidak suka lagi padaku? cepat lakukan Roni, aku menginginkannya," pinta Elia yang lepas kontrol.
"Hey lia, sadar, ingat Lia kita tidak akan berpisah aku hanya mencintaimu!" ucap Roni menyadarkan Elia.
"Iya aku takut kita berpisah, kalau begitu ayo kita lakukan lagi Roni," tangis Elia.
"Liaa sadarr!!" bentak Roni.
Mendengar bentakan Roni, Elia kaget,
"Kenapa? Bukankah kau juga mengingkannya? Apa aku sudah bosan denganku?.., Jawab Roniii?" teriak Elia.
"Lia, sadar kamu harus tenang, cepat bersihkan dirimu kita akan keluar," bentak Roni sekali lagi.
Elia hanya menurut dan pergi ke kamar mandi membersihkan diri, setelah selesai ia segera merias diri seadanya dan melihat Roni sudah menunggunya.
"Kita mau kemana?" ketus Elia.
"Cepetan naik, nanti juga tau," jawab Roni.
"Naik mobilku aja aku malas naik motor, panas!" jawab Elia.
"Cepetan naik Lia!" tegas Roni.
Tanpa menjawab Lia langsung naik motor Dan mereka pergi.
Ternyata Roni membawa Elia ke pantai yang selalu mereka kunjungi, mereka berdua duduk di tepinya melihat ombak dan sunset yang indah.
"Ke pantai ini lagi? Apa kamu tidak bosan?" tanya Elia yang masih kesal.
"Bagaimana aku bisa bosan? Di sini tempat pertama kali aku mendapatkan kehidupan dari senyummu," Roni tersenyum melihat wajah Elia yang memerah.
Elia kemudian mulai tenang mendengar hembusan angin pantai yang mendinginkan tubuh dan perasaanya yang tadinya seakan akan kepanasan dan bertingkah seperti kerasukan karena takut akan berpisah dengan Roni lelaki pujaanya, namun ia sangat senang Roni dapat sabar menghadapi dirinya.
"Iya dan tempat ini juga seperti menjadi tempat buang masalah, gak tau kenapa kalo di sini semua masalah kayak hilang gitu aja" ucap Elia yang mulai kembali ceria.
"Haha iya sayang," jawab Roni sekenanya.
"Roni maafin aku yang tadi ya, aku benar benar takut kehilanganmu sampai-sampai aku tidak sadar melakukan itu," ucap Elia.
"Tapi kenapa kamu nolak? Biasanya kamu yang minta kita gituan? Jangan-jangan kamu memang benar-benar bosan samaku kan?" tanya Elia Curiga.
"Eh ngomong apaan sih, aku mana bisa bosan, kamu tiap hari makin ganas aja," goda Roni.
"Ahh dasar mesum," wajah Elia merona.
"Tadi kamu minta tapi raut wajahmu menunjukkan kesedihan, bagaimana mungkin kita melakukannya dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin aku melakukanya sedang hatimu sedang tidak baik baik saja, kita harus bahagia Lia saat melakukannya," ucap Roni.
"Iya kamu benar sayang, maafin aku ya," ucap Elia sambil medekap Tubuh Roni.
"Iya Lia, sekarang kamu bahagia kan di pantai ini?" tanya Roni.
"Iya aku bahagia sayang," jawab Elia.
"Oke aku juga, sekarang ayo kita lakukan lagi," Roni menggoda Elia.
"Apaan sih, dasar mesum, ini tempat umum, jangan macem-macem ya," wajah Elia semakin memarah.
"Iya sayang, mungkin nanti setelah kembali dari pantai ini, aku akan memakanmu," tawa Roni menggoda Elia.
"Aku menantinya sayang," senyum Elia menggoda Roni.
Medengar itu Roni benar-benar terpancing dan tak bisa menahanya, ia segera menarik tangan Elia dan mebawanya ke motornya.
"Kita kemana Roni, baru sebentar juga di sini," ucap Elia sambil memayunkan bibirnya yang membuat Roni semakin tidak tahan melihatnya.
"Aku sudah tidak tahan Lia, ayo pulang, atau apa kamu mau aku melakukanya di sini?" tanya Roni.
"Dasar mesum," ucap Lia yang wajahnya semakin memerah.
Mereka segera pergi ke kontrkan Roni, dan sesampainya di sana Papa Elia ternyata sudah menunggu mereka.
"Papa, kenapa bisa disini?" tanya Elia terkejut.
"Lia udah berapa kali papa bilang? Jangan sama lelaki pemakai ini," bentak Papa Elia.
"Pa, aku mencintainya pa," tangis Elia langsung pecah.
Eko pun langsung menenangkan Elia
"Maaf om, tolong beri saya kesempatan, saya akan berusaha yang terbaik om," ucap Elia.
"Apa kamu bilang? Dirimu saja tak bisa kau urus, apalagi anakku satu satunya, sekarang kamu jauhi dia," bentak Papa Elia.
"Ayo Elia sekarang pulang," perintah Papa Elia.
Elia di paksa memasuki mobil Papanya, dan mereka segera pulang.
"Lelaki itu memang tidak tau diri, aku tidak boleh lengah, pernikahan ini tidak boleh batal," batin Papa Elia.