Because Of Love

Because Of Love
Episode 25


Hanya untuk 21+ Mohon pengertianya


Tanpa basa basi, Eko langsung melakukan awalan dari video yang ia saksikan, hal yang sangat tidak pantas untuk dilakukan pada usianya, "Eko aku takutt!!" ucap Elia sembari mendorong tubuh Eko.


"Ayo Elia sebentar lagi Papamu akan kembali, jika aku belum melakukannya maka aku takut kamu akan berpaling dariku, apa kamu ingin berpaling dariku?" tanya Eko menatap tajam wajah Elia.


Elia berusaha agar Eko dapat mengurungkan niatnya, namun takut Eko ragu dengan cintanya "Bagaimana jika supirmu melihat kita?" tanya Elia berusaha mengalihkan.


"Kau tidak perlu takut, aku sudah memerintahkanya untuk tetap berada di luar," ucap Eko meyakinkan Elia.


Elia terdiam sesaat, kemudian Eko mulai kembali melakukannya.


Eko mulai kesal karena tidak mendapat balasan "Lia kenapa diam aja?" tanya Eko kesal.


"Hey.., ini pertama kali aku melakukanya, aku tidak tau harus berbuat apa, Eko!!" ucap Elia kesal.


Mendengar perkataan Elia yang ada benarnya, Eko mulai mencari akal agar Elia tau apa yang harus di lakukanya.


"Baik sini liat, perhatikan ponselku, ini adalah tutorial yang akan kita lakukan, perhatikan dan setelah itu kita praktekan!" ucap Eko kemudian mulai menyerahkan ponselnya kepada Elia.


Elia menerima ponsel Eko, mulai meyaksikan adegan yang akan dia praktekkan dengan Eko, matanya membulat sempurna, tidak berkedip melihat seluruh adegan tersebut, ia mulai menelan salivanya saat melihat adegan di video yang sudah selesai.


"Aa... Apa kita akan melakukan semua itu?" tanya Elia gugup.


"Ya tentu saja, apa kau telah siap melakukanya, kamu harus santai jangan gugup,"ucap Eko menenangkan.


Namun Elia masih diam membatu, ia merasa ngeri melihat adegan tersebut, apalagi untuk melalukannya, Elia benar benar takut.


Melihat Elia yang terus berdiri, Eko kemudian bangkit dari tempat tidur dengan raut wajah marah.


"Baik Elia, aku akan pergi, aku pikir kau benar-benar mencintaiku tapi itu hanya omong kosong," ucap Eko.


"Tunguu, ayo kita lakukan!" ucap Elia gugup.


Eko tersenyum puas, dan mulai mendekati Elia dan melanjutkan kegiatannya. Dan mulai menanggalkan pakaiannya.


"Eko apa yang kau lakukan, aku malu," teriak Elia.


Eko tidak peduli dengan teriakan Elia, ia sudah tenggelam di dalam hawa nafsunya.


"Eko apa tidak masalah kita melakukan ini?" tanya Elia ketakuan.


Eko tidak menjawab ia masih fokus dengan kegiatanya.


"Eko, apa ini tidak akan sakit?" tanya Elia


Eko yang kesal akhirnya menjawab. "Kamu cukup tenang tidak akan terajdi apa-apa, ayo cepat waktu kita sudah tidak lama lagi!!" ucap Eko tidak sabaran.


Elia hanya mengangguk pasrah karena ketakutan dengan bentakan dari Eko.


"Akhhhh, Eko sakitttt!!!" teriak Elia keras dan menangis kencang saat Eko mulai melakukannya namun Eko tidak memperdulikannya.


Eko sejenak diam di atas tubuh elia, sementara Elia hanya diam membisu, ia benar benar takut jika hal ini diketahui orang lain, apalagi Papanya.


Tiba-tiba suara motor khas terdengar dari luar rumah Elia, mendengar itu Elia mendadak panik dan mendorong tubuh Eko.


"Eko gawat, papa sudah pulang!!" teriak Elia panik.


Eko yang sedari tadi masih terbuai dengan kenikmatan yang ia rasakan barusan mendadak menjadi rasa panik. Mereka kemudian langsung mengenakan pakaianya , Elia membenarkan pakaianya dan rambutnya yang berantakan.


Eko yang panik mencoba menguasai pikiranya, ia menatap Elia yang ketakutan.


"Lia jangan takut, tenang sekarang anggap kita hanya sedang bertemu seperti biasa, jangan tunjukkan wajah yang ketakutan," ucap Eko kemudian menarik Elia ke ruangan tengah dan mulai menyalakan tv dan duduk di sofa.


Pintu rumah mulai terbuka, dan benar saja Papa Elia telah kembali bekerja, dan Elia merasa jantungnya seperti mau lepas, takut Papanya tau apa yang telah mereka perbuat.


Namun dengan tenang Eko langsung bangkit dan menginstruksikan Elia untuk segera menyapa Papanya Elia


"Malam om," ucap Eko tersenyum dan menyalim Papa Eko, Elia berusaha tersenyum dan ikut menyalim papanya.


"Nak Eko, Papa tau kalian sedang perpisahan kah?" tanya Papa Elia tersenyum.


"Iya Om, besok saya akan berangkat ke Kota A, makanya kami tadi berbicara sampai larut malam seperti ini om, maaf ya om," ucap Eko.


"Tidak malsalah nak, saya tau bagaimana sakitnya perpisahan, semoga kalian sama-sama kuat ya, nanti kalau dewasa kan masih bisa bertemu," ucap Papa Elia.


"Iya om, dewasa nanti kami akan bertemu, kamu tidak akan saling melupkan, bukan begitu Lia?" tanya Eko berusaha membuyarkan Elia yang terus saja membisu.


"Aa,..iya, kami akan saling merindukan," ucap Elia sedikit terkejut.


"Baiklah, kalian selesaikan urusan kalian, om mau mandi dulu," ucap Papa Elia bergegas menuju kamarnya.


"Baik om saya juga mau pamit, sebentar saya mau sedikit berbicara lagi dengan Elia," ucap Eko.


"Baiklah, salam sama Orangtua kamu," ucap Papa Elia yang sudah menjauh.


Eko dan Elia akhirnya sedikit lega, kamudian Elia langsung pergi ke kamarnya membereskan semua bekas kejadian yang ada.


Eko kemudian memeluk Elia dari belakang dan menangis. "Lia terimakasih telah percaya padaku, tunggulah saatnya kita akan bersama selamanya di masa depan," ucap Eko.


"Ya Eko, ingatlah aku akan setia menunggumu, jika sempat mampirlah sesekali," ucap Elia mulai ikut menangis.


Setelah kamar Elia sudah rapi mereka kemudian berjalan menuju keluar rumah, Eko kemudian pamit "istri kecilku aku pergi, tunggu aku di sini," senyum Eko mulai melangkah pergi.


"Pergilah suami kecilku, ingatlah janjimu, aku menunggu," jawab Elia melepas Eko.


Eko sangat sedih sekaligus sedikit senang karena telah berhasil mengikat Elia, sementara Elia sangat sedih hatinya teriris sampai mengalahkan rasa sakit di area sensitifnya tersebut. Dan mereka berpisah untuk sementara.


**Flashback Off


Jangan lupa like dan koment. Terimakasih**