
Hari menjelang malam, Eko dan Elia telah selesai menikmati es krim terbaik di kota itu.
Mereka kemudian kembali menuju hotelnya.
"Sekarang lebih baik kita memesan satu kamar lagi, kita tidak mungkin seranjang!" ucap Eko.
"Lalu siapa nanti yang mengusap rambutmu tuan Eko? Apa kau akan menggunakan obat tidurmu lagi?" tanya Elia.
Eko sejenak berpikir."Baiklah tapi aku akan tidur di sofa," jawab Eko.
Mereka telah tiba di lantai satu hotel, kemudian menuju lantai 12. Setibanya di dalam kamar hotel mereka masing-masing bergantian untuk melakukan ritual membersihkan diri. Eko dan Elia kemudian duduk bersama di atas sofa. Elia mulai mengusap rambut Elia dengan telaten.
"Eko, jika nanti kita berpisah siapa yang akan mengusap rambutmu?" tanya Elia.
"Hahaha, kau tidak perlu memikirkan itu Lia, kita semua akan bahagia pada waktunya, aku yakin suatu saat nanti akan ada wanita yang membuatku nyaman dengan usapannya," ucap Eko tersenyum.
"Apa kamu yakin akan ada wanita yang akan membuatmu nyaman selain aku?" tanya Elia.
"Jodoh sudah diatur, kau percaya itu bukan?" Eko kembali bertanya.
"Ya aku yakin," Jawab Elia.
Elia mulai melamun, ia menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, namun tangannya masih aktif mengusap rambut Eko
"Lalu bagaimana jika kita memang berjodoh?" tanya Elia setelah lama melamun.
Namun saat Elia mengalihkan pandanganya ke wajah Eko, ternyata Eko telah terlelap di atas pangkuan Elia. Ia mulai menatap dalam wajah Elia. "Jika kita ditakdirkan bersama pasti akan ada jalan untuk bersama, tapi aku tau kamu menutup pintu hatimu untukku karena menjaga perasaan Roni. Tapi itu adalah pilihanmu, kamu sendiri yang tau jalan terbaik untuk hidupmu!" gumam Elia.
Mereka kemudian tertidur bersama di atas sofa.
Tibalah hari terakhir bulan madu mereka di Paris. Elia mulai mengemas barang-barang mereka. Setelah semuanya selesai mereka kemudian masuk ke mobil yang telah menunggu sedari tadi, mereka mulai menuju bandara.
Tiba di bandara meraka segera masuk menggunakan jet pribadi yang telah di siapkan oleh Papa Eko.
Di dalam pesawat yang hening, Eko mulai membuka percakapan untuk mengusir sepi
"Bagaimana perasaanmu selama satu bulan di sini bersamaku?" tanya Eko.
"Aku sangat bahagia, terimakasih telah menemaniku mengunjungi setiap sudut kota yang romantis ini," ucap Elia berseri-seri.
"Teruslah bahagia Elia, setelah sampai di Jakarta kau akan lebih bahagia karena akan bertemu dengan Roni bukan?" tanya Eko.
Melihat Elia yang bahagia, Eko sedikit bersedih. "Baguslah saat ini kau sudah benar-benar melupakanku, aku akan pastikan secepatnya kalian akan bersama selamanya," gumam Eko.
Elia dan Eko tertidur di atas jet pribadi. Di pagi hari jet mereka telah mendarat. Turun dari jet mereka telah disambut oleh Orangtua mereka, senyum sumringah merekah di masing-masing wajah mereka.
"Bagaimana apa kalian menikmati hari kalian disana?" tanya Papa Eko sambil mereka berjalan menuju mobil.
"Tentu saja Pa, kami sangat menikmatinya," jawab Eko tersenyum.
"Lia apakah cucu Mama akan segera hadir?" tanya mama Eko.
Elia terkejut, ia kebingungan untuk menjawab seperti apa. Namun Eko langsung menjawab "Itu kita bicarakan didalam mobil!" jawab Eko berusaha menutupi kebingungan Elia.
Tiba didalam mobil, Mama Eko yang masih penasaran kembali mananyakan tentang cucunya. "Bagaimana apakah cucu Mama akan segera hadir?" tanyanya kepada Eko dan Elia.
"Mama sabar dulu ya, saat ini Elia masih kuliah, mungkin setelah Elia selesai kuliah kami akan memikirkan itu." jawab Eko.
"Aduh berapa lama lagi Mama harus menunggu, cepatlah berikan Mama cucu," pinta Mama Elia.
"Elia hanya sebentar lagi, ia sedang menyiapkan skripsinya, itu tidak akan lama lagi," ucap Papa Elia menimpali.
"Iya, jika sekarang Elia hamil tentu saja akan mengganggu kuliahnya, itu tidak akan lama bersabar sayang," Sambung Papa Eko kepada Istrinya.
Karena merasa tidak ada yang mendukungnya Mama Elia akhirnya tidak mendesak lagi.
Saat di perjalanan Eko mulai bingung, karena Papanya tidak membawanya ke arah jalan pulang. "Kita singgah dulu Pa? Tapi Pa kami benar-benar lelah bisakah kita langsung saja kerumah?" tanya Eko.
"Siapa bilang kita akan singgah, kita memang akan pulang," jawab Papa Eko.
Eko kebingunan dengan jawaban Papanya, namun ia kemudian memilih diam karena sangat kelelahan.
Mereka telah tiba didepan bangungan yang sangat mewah, Papa Eko kemudian memarkirkan mobil di dalamnya.
Eko semakin kebingungan mengapa Papanya membawa mereka ke tempat ini. "Pa apa kita pindah rumah?" Tanya Eko.
"Ya, kalian yang pindah, Papa dan Mama tetap di rumah yang lama. Rumah ini Papa beli untuk kalian berdua, kalian sudah menikah jadi mulailah membina rumah tangga kalian sendiri!" jawab Papa Eko tersenyum.
Eko dan Elia benar-benar tidak menyangka Papanya akan melakukan hal ini. "Ayo kita masuk kedalam, lihatlah rumah baru kalian!" ucap Papa Eko.