
"Diam!.., pengkhianat, sahabat macam apa kau, sekarang kita tidak ada hubungan apapun pergi kau!!" teriak Roni yang sudah Emosi.
"Roni kalian jangan bertengkar, ini semua kemauanku Roni! Eko tidak salah," ucap Elia menengahi, ia tak ingin persahabatan mereka hancur karena dirinya.
"Tidak Elia, sekarang ayo kita pergi, kita tinggalkan semua orang-orang yang ingin mengancurkan hubungan kita, mereka benar-benar tidak bisa melihat kita bahagia!" ucap Roni.
"Tidak, aku tidak mau pergi!" balas Elia.
"Elia, apa kau tidak mencintaiku lagi, ayo Elia pergi bersamaku!" bentak Roni memaksa Elia pergi.
"Hentikan!!" teriak Eko mengagetkan Elia dan Roni.
"Roni kamu tenang dulu, kamu dengerin dulu penjelasanku, setelah itu terserah kamu mau buat apa aja, oke?" ucap Eko meyakinkan Roni.
"Oke cepat katakan!!" ucap Roni sambil kembali duduk namun menjauhkan Elia dari Eko.
Eko kemudian menjelaskan sembari menyalakan kambali rokoknya,
"Bro sebenarnya aku kecewa sama kamu, bisa-bisanya kamu menganggap aku akan berkhianat," ucap Eko sambil mulai menangis.
Roni terkejut melihat Eko, selama mereka bersama, baru kali ini melihat Eko menitihkan air matanya, namun ia masih enggan untuk berbicara dan menunggu kata selanjutnya dari Eko.
"Tapi aku mengerti , kamu pasti takut karena kamu sangat mencintai Elia, aku pernah bilang akan bantuin kalian, dan aku pasti bantuin sahabatku, aku mau kalian bahagia, mungkin cara ini sedikit menyakitkan hatimu.., tapi cuman ini cara yang terbaik bro, kamu mau kan ngeliat Elia bahagia?" tanya Eko.
"Iya bro apapun akan aku lakukan asal Elia bahagia, dan aku tau pasti Elia bahagia bersamaku bukan sama dengan orang lain, apalagi kamu!" bentak Roni yang masih terbawa emosi.
"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi, bang*at kau Eko!!" teriak Roni semakin menjadi-jadi.
"Dengerin dulu bro, kita hanya menikah sementara, setelah perusahaan Papa Elia normal kembali, kita akan bercerai dan satu lagi di belakang orangtuaku dan orang tua Elia kamu tetap bersama Elia, kami akan berpura-pura aja di depan mereka, aku janji tidak akan menyetuh Elia sedikitpu, percayalah denganku bro," ucap Eko meyakinkan.
"Maksud kamu?.., tidak.., aku tidak percaya," ucap Roni yang belum bisa menangkan dirinya.
"Bro.., kita sahabat dari kecil dan kamu gak percaya? Pikirkan kembali Bro, ini demi kebahagiaan Elia, orang yang kamu sayang, dan aku melakukan ini demi kamu sahabatku," ucap Eko.
Mendengar penjelasan tersebut Elia yang sedari tadi membisu terkejut, "bagaimana mungkin Eko dapat berpikir seperti itu," Elia benar benar tidak bisa membayangkan jalan pikiran Eko.
"Yang dikatakan Eko benar, Roni.., aku mencintaimu dan ini hanya sebentar, ayolah tolong jangan egois, kamu senangkan melihat aku bahagia? Tolonglah percaya padaku semua cintaku hanya untukmu," ucap Elia meyakinkan Roni.
"Dan satu hal lagi jika aku tidak menikah dengan Eko maka aku akan menikah dengan laki-laki lain pilihan Papa, jika aku menikah denganya maka tidak akan ada lagi harapan untuk kita bersama," sambung Elia yang mulai menangis lagi.
"Aku sahabatmu Bro, dan mungkin ini lah cara aku membantu kamu, dan aku tidak mungkin memaksa, semua nya ada di tanganmu," ucap Eko berusaha meyakinkan.
Sejenak Roni mulai menenangkan dirinya agar tidak di kuasai oleh emosinya. Dan ya mungkin ini jalan terbaik dan sahabatnya tidak mungkin mengkhianatinya, ia benar-benar menyesal langsung menganggap Eko akan merebut Elia darinya.
"Eko kamu sahabat terbaik, maafkana aku Bro, aku bisanya cuman menyusahkan kamu, aku tidak tau terimakasih, sampai menganggap kamu merebut Elia dariku, Maaf bro, aku percaya padamu," ucap Roni.
"Aku ngerti, jadi besok adalah hari pernikahan kami, tenang ini tidak akan lama, dan aku tidak akan melakukan apapun kepada Elia, dia hanya milikmu seorang," ucap Eko meyakinkan Roni.
Baiklah, mungkin itu jalan terbaik, mau tidak mau harus dilakukan," ucap Roni.