
Happy Reading!!
Pagi hari telah kembali hadir, cahayanya menyelip masuk dan menyilaukan Tasya.
Tasya kemudian mulai sadar dari tidurnya, saat ia sudah sadar sepenuhnya, ia kemudian langsung terkejut karena ia sedang berada dalam pelukan Eko yang masih terlelap.
Dengan perlahan ia kemudian mulai melepaskan diri dari dekapan Eko, saat ia hampir keluar dari dekapanya, Eko kemudian kembali mengeratkan pelukannya, Tasya kembali ke dalam pelukan Eko.
Dengan kesal Tasya kembali lagi berusaha untuk keluar, dan lagi-lagi Eko mengeratkannya lagi, sampai kemudian Tasya tidak bisa lagi melepaskan diri.
Tasya tidak lagi dapat menahan kekesalannya, "Tuan lepaskan aku, aku tau kamu sudah sadar, nanti kita terlambat bekerja," Ucap Tasya kesal.
Eko hanya mendengus kecil dan semakin mengeratkan pelukannya. "Diam atau aku tidak akan memaafkanmu!" ucap Eko.
Tasya hanya pasrah mendengar ancaman Eko, "Aku tidak mengerti melihat sikpanya."
Eko mengerti Tasya sedang bingung mengapa ia menjadi seperti ini.
"Aku tau kamu merasa bingung, aku juga begitu aku tidak mengerti mengapa aku seperti ini," gumam Eko.
Mereka kemudian kembali terlelap, hingga kemudian Matahari semakin meninggi. Eko kemudian tersadar dari tidurnnya, berusaha mengemblikan dirinya.
Ia mendapati Tasya yang masih terlelap, wajah Tasya yang sedang tertidur benar-benar menggemaskan Eko. Ia tersenyum sambil menatap lama wajah Tasya.
Perlahan naluri Eko mulai mendekatkan wajahnya, berusaha mencium kening Eko, namun semuanya sirna saat Ponsel Eko tiba-tiba berdering.
"Sialan."
Ia mengabaikan suara dering Ponselnya, kemudian Eko kembali mendekatkan wajahnya namun lagi-lagi Ponsel berdering.
Dengan kesal Eko kemudian beranjak dari atas ranjangnya, "Siapa yang berani menggangguku, aku hampir saja mencium keningnya."
Eko kemudian melihat ponselnya, panggilan masuk dari orang kepercayaanya. Eko kemudian keluar kamarnya.
"Kalo sampai ini tidak penting, aku akan membunuhnya," gumam Eko kemudian menyambungkan panggilan.
"Halo, ada apa? Berani-beraninya kamu menghubungi berkali-kali, kamu menggangguku!" ucap Eko di balik telepon.
"Maaf Tuan, aku tidak tau kamu sedang tidak menerima panggilan, tapi ini sangat penting" balas orang kepercayaannya.
"Cepat katakan!"
Seketika Eko langsung menutup sambungan panggilan tersebut setelah orang kepercayaanya menjelaskan informasi penting tersebut.
Eko kemudian langsung menyiapkan diri dan mengambil kunci mobilnya, kemudian segera pergi meninggalkan Tasya yang masih terlelap.
Eko melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, air matanya mulai mengalir, perasaanya ia benar-benar khawatir.
Eko kemudian tiba di rumah sakit miliknya sendir, tanpa menghiraukan orang sekitarnya ia langsung menuju ke lantai 3 rumah sakit.
Dengan langkah tak beraturan ia telah tiba, ia mendapati Ayahnya yang sedang gelisah menunggu di luar ruangan ICU.
"Pa, bagaimana keadaan Mama?" tanya Eko khawatir.
Papa Eko yang sedari tadi gelisah mengalihkan pandanganya ke Eko.
"Mengapa kamu kesini? Pergi.." tegas Papa Eko.
Eko terkejut mendengar ucapan Papanya.
"Tapi Pa.."
"Aku bilang pergi, ini kan yang kamu mau? Dasar anak Egois, tidak tau di untung!" ucap Papa Eko.
Eko berusaha menguasai diri, "Pa tenang dulu!"
"Aku tidak ingin melihatmu, silahkan pergi!" ucap Papa Eko.
Eko akhirnya pasrah, ia tau Papanya sedang panik, kemudian Eko pergi menuju ruangan dokter.
"Apa yang terjadi dengan Ibu?" tanya Eko.
"Maaf Tuan, penyakit jantung Nyona tiba-tiba kambuh, kami sedang menangainya."
Eko terkejut mendengar penjelasan tersebut.
Dokter yang berada di ruangan tersebut hanya bungkam mendengar ancaman Eko.
Eko kemudian pergi dari rumah sakit, perasaan gelisah menghantuinya, akhirnya ia memilih untuk kembali ke rumah. Namun sebelumnya ia telah memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengabari perkembangan Mamanya.
Sampai di halaman rumahnya, Eko dengan langkah cepat pergi masuk ke dalam kamarnya, ia mendapati Tasya yang masih terlelap.
Sejenak ia menatap Tasya, tetapi pikirannya teralihkan kepada Ibunya, airmatanya mulai menetes.
"Ibu, Maafkan aku."
Eko mulai menyalakan sebatang rokoknya, tangisanya semakin menjadi.
Tasya perlahan sadar akan suara tangisan dari Eko, perlahan ia membuka matanya, dan melihat Eko di depan matanya sedang menangis.
Langsung saja ia bangkit dari tidurnya, "Tuan.."
Eko mengalihkan pandangannya ke Tasya, ia mematikan rokoknya, dan kemudian langsung mendekat ke Tasya, memeluk tubuh Tasya. Eko menangis di pelukkannya.
Tasya semakin kebingungan, namun perlahan mengusap rambut Eko, mungkin usapan di rambutnya mungkin akan menenangkannya sesaat.
Air mata Eko membanjiri tubuh Tasya, karena sudah sangat penasaran Tasya memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan.., Anda kenapa?"
"Mama.." ucap Eko, tangisannya datang kembali, pelukannya semakin erat.
Tasya kemudian kembali mengusap rambutnya, "Mama?.. Apa Mama Eko..?"
"Penyakit Mama kambuh lagi, aku takut.." ucap Eko.
Tasya akhirnya mengerti dengan tangisan Eko. Perlahan ia mengusap punggung Eko, "Tuan, semuanya akan baik-baik saja," ucap Tasya.
"Papa bilang, Mama menderita seperti ini karenaku, itu tidak benar kan? Aku mau melihat Mama, kenapa Papa tega mengusirku?" ucap Eko, air matanya tidak berhenti menetes.
Tasya tidak mengerti harus berkata apa, "Tuan, bersabarlah, Papa pasti sedang panik, dia tidak mungkin tega melihat anaknya seperti ini, tenang.., Nyonya pasti juga pasti akan pulih," ucap Tasya sambil terus mengusap rambut dan punggung Eko secara bergantian.
Perlahan Eko mulai tenggelam dalam lelapnya, usapan nyaman memaksanya untuk sejenak menggentikan tangisannya.
Eko kemudian tidur di atas pangkuan Tasya. "Tuan aku akan selalu menemanimu," gumam Tasya.
Tasya menatap wajah Eko, air mata yang masih tersisa menghiasi wajahnya yang rupawan. "Di balik wajah indahnya tersimpan banyak luka yang ia tanggung sendiri," gumam Tasya lagi.
Perlahan Tasya mulai melepas Eko dari pangkuannya, kemudian ia mulai membersihkan dirinya, setelahnya mulai menyiapkan makanan untuk Eko, dengan penuh penghayatan memasak seluruh masakan kesukaan Eko.
"Aku hanya bisa melakukan ini, semoga kamu suka," senyum Tasya.
Setelah semuanya selesai, Tasya kembali ke kamar Eko, mendapati Eko yang masih terlelap. Karena sudah waktunya makan siang, Tasya kemudian ingin membangunkan Eko dari tidurnya.
Drttt-drttt, Hp Eko berbunyi tanda panggilan masuk, Tasya teralihkan dan mengurungkan niatnya membangunkan Eko.
"Panggilan Penting?" Kenapa nama kontaknnya seperti ini? Apa aku harus membangukan Tuan Eko?"
Namun karena penasaran, Tasya akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo?" ucap Tasya.
"Maaf, ini siapa? Saya ingin berbicara dengan Tuan Eko."
"Oh, saya Tasya seketaris pribadinya, Tuan Eko sedang tidur, apa ada yang perlu saya sampaikan?" tanya Tasya.
"Maaf, apa saya tidak bisa berbicara langsung dengan Tuan Eko?"
"Sampaikan saja kepada saya, dia sedang beristirahat!" kesal Tasya.
"Baiklah, sampaikan kepada Tuan... Nyonya sudah berpulang," ucap orang kepercayaan Eko.
"Apa?!" tubuh Tasya lemas, ia tidak sanggup menopang badannya.
"Nyonya telah berpulang, ia telah di bawa ke rumah Tuan besar, saya mohon tolong sampaikan kepada Tuan Eko dengan baik, jangan sampai ia kenapa-kenapa" ucapnya menyudahi panggilannya.
Tasya tersimpuh di sebelah Eko, "Tuan.. Bagaimana aku harus mengatakannya kepadamu, ketakutanmu benar-benar terjadi, semoga kamu kuat," gumam Tasya, air mata Tasya mulai mengalir, ia tidak bisa membayangkan reaksi Tuannya.