
Eko membisu mendengar seluruh perkataan dari Papa Elia, air mata yang sedari tadi mengalir perlahan mengering di wajahnya.
"Baik Pa, saya pamit pergi dulu, saya akan melakukan yang terbaik, Pa."
"Baik, lakukanlah yang terbaik," Papa Elia tersenyum.
Eko kemudian pergi meninggalkan kantor Papa Elia.
Tasya yang sudah lama menunggu akhirnya lega, karena Eko sudah mucul di hadapanya.
"Bos ..." Ucapan Taysa terhenti kala melihat raut wajah Eko yang sedang tidak baik-baik saja.
"Bawa mobil, kita pergi ke villa ku di daerah Bogor," ucap Eko langsung masuk ke dalam mobil di bangku penumpang.
Tasya hanya menurut dan melajukan mobil, serta membuka map untuk memperjelas tujuan mereka.
"Apa yang membuatmu seperti ini?"
Tasya sesekali melihat Eko yang sedang diam termenung dari pantulan kaca.
........
Elia sedang berada di kampusnya, seluruh tugas akhir telah selesai ia kerjakan, karena berbagai urusan ia menyelesaikan kuliahnya hampir 5 tahun lamanya.
Setelah semuanya selesai Elia kemudian berkumpul dengan teman-temannya yang telah lama tidak berkumpul karena kesibukan masing-masing.
"Jadi semuanya telah selesai, minggu depan kamu akan wisuda, apa kamu akan ikut dengan kami untuk merayakanya?" ucap salah seorang kawan Elia.
"Sepertinya tidak, aku telah selesai, aku telah memberitahu di hari wisuda nanti aku izin tidak mengikutinya, karena sebentar lagi aku akan meninggalkan negara ini," ucap Elia.
"Kamu pergi kemana? Elia sepertinya kamu punya banyak kisah cerita, tapi mengapa kamu tidak pernah memberitahu kami?" Seorang teman Elia menimpal.
"Suatu saat aku akan menceritakan semuanya, aku pergi dulu," ucap Elia langsung pergi meninggalkan teman-temannya.
Teman-teman Elia hanya terdiam menggelengkan kepala melihat Elia.
"Elia, jika kamu suatu saat perlu dengan kami, ingatlah kami selalu ada," teman Elia berteriak cukup keras.
Elia hanya diam tidak menanggapi perkataan seluruh temanya sambil terus melangkah menuju mobilnya. Elia kemudian singgah di sebuah taman dan duduk di sebuah bangku panjang berwarna coklat. Elia kemudian terdiam sejenak memejamkan matanya menikmati angin sore yang menusuk paksa ke dalam pori-pori kulitnya.
"Teman-temanku aku minta maaf tidak memberitahu apapun tentang semua ini, aku tidak mau kalian semua terbeban, biarlah aku yang menanggung semua ini..."
"Huh... Sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan negara ini, bersama Roni kekasihku, saat ini satu-satunya yang harus kulakukan, mencintai Roni sepenuhnya, melupakan cinta masa kecilku dengan Eko..."
"Jika saja Eko memaksaku untuk tetap bersamanya, mungkin aku bisa saja memilihnya, namun justru dia memaksaku untuk tidak mencintainya saat aku sudah menawarkan diri untuk hidup bersamanya..."
"Yah alasanya mungkin adalah demi sahabatnya Roni, mungkin saja itu semua dalihnya, sebenarnya mungkin saja ia memang benar-benar tidak menginginkan aku lagi..."
"Baiklah, ini semua demi kamu, aku tidak mungkin memiliki kalian berdua, hatiku yang bimbang akan aku perjelas bahwa hatiku sudah hanya untuk Roni, ini adalah permintaanmu, kau bilang akan bahagia dengan ini, aku akan melakukanya demi kebahagiaanmu Eko."
Elia kemudian pergi setelah lama merenungi kisah hidupnya, ia baru teringat meninggalkan Roni yang masih tertidur saat pagi hari ia menuju kampusnya.
Tiba di kontrakan Roni, Elia mendapati Roni tengah serius berkutat dengan seluruh perlatan dapur.
"Roni..."
Roni langsung menoleh ke arah Elia dan tersenyum, "Kamu sudah pulang, kamu pasti lapar, duduklah sebentar lagi akan selesai," ucap Ron.i
"Aku mandi dulu," ucap Elia sambil melangkah.
"Roni kamu benar-benar lelaki yang manis, selama ini aku berharap mendapat perlakuan itu dari Eko, tapi sekarang aku sudah yakin, aku ditakdirkan hanya untukmu," gumam Elia di sela-sela ritual mandinya.
"Ayo dimakan," Roni tersenyum.
Mereka kemudian melahap seluruh hidangan yang telah di sajikan, tidak ada perkataan yang keluar karena Roni dan Elia sama sama memegang prisinp, jika sedang makan tidak boleh ada yang berbicara.
Setelah selesai makan malam, Roni kemudian menggengam Elia mebawanya ke sofa, kemudian Roni mulai menyalakan tembakau yang di baluti kertas putih.
"Elia aku minta maaf atas semalam, aku tau aku egois, aku merasa sangat takut kehilanganmu, rasa itu menghantuiku sampai-sampai aku jadi bodoh seperti ini," ucap Roni.
Elia mulai ikut menyalakan rokoknya, "Ya.., aku mengerti, terkadang manusia bisa khilaf demi mempertahankan apa yang ia jaga..."
"Tapi mungkin saat ini aku harus jujur padamu, mungkin ini sedikit menyakitkan bagimu, tapi itulah faktanya dan setelah aku mengatakan ini, kamu harus yakin aku mencitaimu sepenuhnya, tidak ada lagi keraguan di hatiku," ucap Elia sambil menghisap asap tembakaunya.
"Ya, aku percaya, ceritakanlah, aku siap mendengarnya," jawab Roni.
"Kamu tau, saat kita pertama berhubungan badan, dan kamu tau saat itu aku sudah tidak virgin bukan?" tanya Elia.
"Ya, aku tau."
"Yang pertama merenggut keperawananku adalah Eko," ucap Elia.
"Hah?" Roni terkejut bukan main.
"Ya, dan perlu kamu ketahui, kamu lah yang menyarankan Eko melakukan itu," ucap Elia.
"Maksud kamu?" Roni bertanya, ia benar-benar kebingungan.
"Roni, kamu tau bahwa Eko pernah memilki kekasih saat masa-masa remaha, saat kalian masih sering bermain bersama, kekasihnya itu adalah aku," ucap Elia.
"Deg!!" jantung Roni berdetak, batinnya terkejut mendengar perkataan Elia
Roni kembali berpikir kembali menuju masa lalunya, ia ingat betul pernah menyarankan Eko untuk melakukan hubungan badan jika takut kehilangan kekasih yang ia cintai, dan sekarang ia sadar, bahwa kekasih itu adalah Elia, wanita yang sangat ia cintai.
"Bagaimana ini bisa terjadi, aku benar-benar tidak menyangka, ternyata kekasih yang selama itu Eko sembunyikan identitasnya adalah... Mengapa sekarang kamu menceritakan semua ini, kenapa Elia?" tanya Roni mulai terkulai lemah di atas sofa.
"Saat kami sudah menjadi sepasang kekasih di masa Smp, aku benar-benar tidak ingin hubungan kami tidak di beberkan kepada siapapun, karena saat itu aku sangat minder, seorang kaya raya di tempat itu mau denganku yang bukan apa-apa..."
"Eko setuju dengan itu, dan saat masa ia akan pergi kami melakukan hubungan itu, karena Eko memaksaku dengan dalih untuk mengikatku, agar aku tidak dapat berpaling lagi darinya, dan aku dengan polosnya menerimanya karena saat itu aku benar-benar mencintainya," ucap Elia.
"Lalu ... mengapa sekarang, Elia?"
"Mengapa tidak dari dulu kamu katakan?" tanya Roni.
"Saat kecil, saat kita pertama bertemu, aku tidak tau bahwa kamu adalah sahabat Eko, dan saat dewasa awal kita bertemu di pantai itu, Eko mendatangiku membawaku jauh darimu, ia dengan tegas berkata kepadaku untuk melupakan masa kecil kami dan tidak memberitahukan kepadamu," ucap Elia.
"Hah, mengapa Eko melakukan itu," tanya Roni yang sudah pasrah mendengar semua perkataan Elia.
"Tentu saja demi kamu, ia takut hubungan kita bisa hancur, ia tahu kamu sangat mencintaiku, dan mungkin ia sekarang memang sudah tidak mencintaiku..."
"Setelah kamu mendengar semua ini, lihatlah bagaimana besarnya pengorbanan Eko demi kebahagiaanmu, kebahagiaan kita berdua, jadi jangan pernah ragukan lagi bahwa Eko akan melukaimu," ucap Elia.
Roni terdiam menatap Elia, "Apakah kamu masih mencintai Eko?" tanya Roni.
Elia terkejut mendapat perkataan Roni, ia kemudian diam tertunduk.
"Elia jawab, aku akan menerima apapun jawabanmu," ucap Roni pasrah.
Tolong Like nya, bagi pembaca setia, meskipun hanya sedikit yang membaca, tapi like kalian adalah semangat untuk saya. Terimakasih Bosku