Because Of Love

Because Of Love
Episode 63


Roni, Elia dan Papanya telah tiba di bandara, mereka telah di tunggu oleh sopir yang telah di siapkan Roni sebelumnya.


Segera mereka pergi menuju tempat yang Roni juga telah siapkan, "Kita mau kemana?" tanya Elia bingung.


Papa Elia dan Roni mulai menoleh ke Elia, mereka akhirnya mendengar suara Elia yang bungkam saat kehadiran Eko.


"Hey, mengapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Elia menyadarkan keduanya.


"Ah, kamu tunggu saja, nanti juga kamu akan tahu kita akan kemana," ucap Roni.


Elia hanya diam mendengar jawaban dari Roni.


Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah area perumahan toko mewah, Elia dan Papanya kebingungan mengapa mereka berhenti di tempat itu.


"Nak Roni, apa yang kita lakukan di sini?" tanya Papa Elia.


"Ayo kita masuk dulu?"


Mereka kemudian masuk ke Ruko tersebut, di dalamnya beberapa karyawan sudah menyambut mereka dengan hangat, gaun mewah rancangan Roni tampak memenuhi lantai 1 ruko tersebut.


Elia dan Papanya semakin kebingungan, Roni kemudian membawa mereka ke lantai 4 ruko tersebut. Mereka kemudian duduk di atas sofa, minuman telah di siapkan oleh karyawan di ruko tersebut.


Roni kemudian tersenyum melihat raut wajah keduanya yang kebingungan.


"Kalian pasti bingung mengapa kita ada di sini, jadi ruko ini adalah hasil kerja kerasku, ini semua kupersembahkan untuk wanitaku.., kamu Elia," ucap Roni.


Elia dan Papanya seketika terpukau dengan perkataan Roni.


"Ma...maksdu kamu?" Elia berusaha mencerna maskud Roni.


"Saat aku memenangkan kontes desainer, aku mendapat hadian liburan ke Maladewa, tapi aku menolaknya.."


"Aku membeli Ruko ini, dan semua gaun di dalam ini adalah hasil rancanganku, dan kamu adalah bosnya di sini, kita akan mengembangkan usaha ini bersama, aku akan bekerja di perusahaan, kamu akan mengurus toko kecil kita ini, saat ini hanya inilah yang dapat kulakukan, kuharap kamu bahagia dengan semua ini," ucap Roni.


Elia kemudian mulai menitihkan airmatanya, "Hiks..hiks.., Roni, ini lebih dari segalanya, aku mengaggumi semangatmu," Elia menangis bahagia.


"Semangat ini datangnya dari senyumanmu, jangan menangis lagi Elia," balas Roni mendekap Elia.


Papa Elia ikut menangis terharu, "Aku tidak salah menyetujui dengan cepat, tidak ada lagi keraguanku memilihmu, semoga kebahagiaan ini berumur panjang," gumam Papa Elia.


Tangisan Papa Elia semakin jelas terlihat, Elia dan Roni yang masih berdekapan kemudian mulai mendekatinya. Mereka duduk dengan posisi lebih rendah.


"Pa..." lirih Elia.


Papa Elia kemudian mulai memegang pundak keduanya, dan kembali air mata yang ia pertahankan jatuh beraturan menyentuh pipi yang mulai menua.


"Sudah Pa," ucap Elia lagi.


Papa Elia kemudian berusaha menahan tangis harunya, "Kapan acara pernikahanya dilaksanakan?" tanya Papa Elia.


"Jika tidak ada kendala, mungkin besok, Pa," jawab Roni.


"Ya, lakukan acara tersebut besok, aku ingin cepat kembali," ujar Papanya.


"Pa, apa kamu tidak menyukai tempat ini?" Tanya Roni khawatir.


"Bukan nak, aku sangat bersyukur Elia sudah bersama orang yang tepat, Elia akan bahagia, aku ingin segera menemui Ibu Elia, aku ingin menyampaikan kabar gembira ini," Papa Elia kembali menangis.


Elia tersentak mendengar perkataan Ayahnya, ia kemudian mendekap ayahnya, mereka menangis bersama di dalamnya.


"Ibu juga beruntung, memiliki laki-laki yang sehidup semati sepertimu, Pa."


Roni menatap teduh melihat keharuan yang ada di depannya.


............


Malam telah pergi seiring dengan terbitnya matahari, dan di pagi ini, Tasya sudah mulai berkutat dengan perlatan dapur yang tidak biasa ia kerjakan. Namun sejak pembantu di rumah itu di pecat Eko dengan alasan tidak jelas, dengan terpaksa Tasya yang harus menyiapkan sarapan untuk Tuan Eko.


Butuh perjuangan yang lama, sampai akhirnya Tasya selesai dengan sarapan omeletnya. "Huh buat ginian aja susahnya minta ampun," Tasya menertawai dirinya sendiri.


"Sudah Selesai?" Eko sudah duduk di meja makan.


Tasya terkejut, dengan hati-hati mulai memindahkan makanan ke atas piring dan menyerahkanya ke Eko. Tanpa berlama-lama Eko langsung melahapnya. Saat makanan telah masuk ke dalam mulutnya, ekspresi Eko berubah, ia berusaha menelan omelet yang sangat asin tersebut.


"Kamu bisa masak?" Tanya Eko seketika.


Eko kemudian bangkit dari meja makan, "Ayo berangkat," ucap Eko kemudian melangkah.


Tasya kemudian ikut melangkah dengan lemas, "Dasar bodoh," gerutunya.


Di tengah perjalanan, Tasya hanya menunduk tidak ingin menatap Tuanya. Eko kemudian berhenti di sebuah toko buku, dan kemudian pergi ke dalam toko tersebut.


Tasya hanya menatap kebingungan, namun hanya bungkam. Lama menunggu, Eko telah keluar membawa setumpuk buku dan meletakkanya di bangku belakang, Tasya yang penasaran melihat tumpukan buku yang banyak tersebut.


"Panduan Memasak untuk Pemula," Tasya melotot membaca salah satu judul tersebut.


Eko yang sudah berada di bangku kemudi kemudian menoleh ke Tasya, "Waktumu hanya satu bulan," ucap Eko.


Tasya yang masih melihat tumpukan buku teralihakn saat mendengar perkataan Eko.


"Maksud Tuan?" tanya Tasya hati-hati.


"Pelajari semua isi dari buku tersebut, dan dalam sebulan kamu sudah harus menguasainya, jika tidak, kamu pasti tau apa yang terjadi," ucap Eko.


Tasya melotot mendengar perkataan Eko, ia kemudian kembali melihat ke tumpukan buku tersebut, "Buku sebanyak ini harus aku kuasai dalam satu bulan? Apa-apaan ini dia ingin membunuhku," gumam Tasya.


"Hey kamu mau tetap di dalam?" Tanya Eko.


Saking kesalnya, Elia tidak sadar bahwa mereka telah tiba di depan perusahaan.


"Ahh, maaf Tuan," Tasya berusaha meredam kekuasaanya dan mulai ikut melangkah di belakang Eko.


Memasuki loby perusahaan, seluruh karyawan perusahaan menunduk dengan kehadiran Eko dan Tasya, mereka kemudian tiba di kantor Eko selaku wakil presiden perusaan tersebut.


Setumpuk berkas yang siap untuk di periksa dan di tandatangani telah menunggu Eko. Tasya kemudian berinisiatif memesankan kopi kepada karyawan, namun saat Tasya akan mulai memesanya. "Tunggu," ucap Eko.


Tasya kemudian mengentikan kegiatanya, "Ya, ada apa, Tuan? tanya Tasya.


"Aku mau mulai sekarang kamu yang membuatkan aku kopi," ucap Eko.


"Aduh, cobaan apa lagi ini, Tuan," gumam Tasya.


"Cepat lakukan!" perintah Eko.


"Baik Tuan," Tasya mulai melangkah.


Dengan perasaan kesal ia telah tiba di dapur mini perusahaan tersebut. Dengan hati-hati Tasya mulai membuatkan kopi sebisanya, suara samar-samar dari karyawan yang berada di dapur mini tersebut terdengar oleh Tasya.


"Lihat, dia adalah wanita tidak tau diri, dia merusak hubungan Tuan Eko dengan istrinya," bisik salah satu karyawan.


"Ia tuh, dengar-dengar dia juga sedang mengandung hasil dari hubungan terlarang mereka," balas salah satu karyawan tersebut.


Suara petir yang keras sekan-akan mucul di dalam hati Tasya, "Bagaimana bisa isu tidak benar ini menyebar," gumam Tasya.


"Percuma cantik, tapi kelakuannya.. Miris," ucap karayawan tersebut lagi.


Tasya sudah gerah mendengar bisikan mereka, ia sudah kehilangan kesabaran.


Dengan melangkah cepat mendekati karyawan terasebut dan mulai menatap mereka beruda, "Jaga ucapan kalian, apa yang kalian katakan itu semuanya tidak benar," Tegas Tasya.


Kedua karyawan tersebut tidak mau kalah, "Ngaku aja mbak, segera tobat, jangan merusak kebahagiaan orang lain."


"Dan tolong jaga sikap mbak ya, saya orang yang cukup berpengaruh di sini, jika timbul masalah, aku tidak yakin Tuan Eko akan membelamu," ucap karyawan tersebut.


"Oh, ya ya, kamu orang berpengaruh di sini ya," Tasya tersenyum.


Kemudian dengan tiba-tiba Tasya mengayunkan tanganya tepat ke pilipis salah satu karyawan tersebut. Darah mengalir di pelipis tersebut akibat pukulan Tasya yang keras, "Aku tidak takut dengan siapapun, bahkan dengan Tuan Eko sekalipun, jadi mulai lah untuk berpikir dua kali jika ingin mengusikku," ucap Tasya.


Tasya kemudian membersihkan darah yang menempel di punggung tangannya, kemudian pergi dengan secangkir kopi yang telah ia siapkan.


Karyawan tersebut meringis menahan sakit, merek kemudian melakukan pengobatan kecil di klinik sekitar perusahaan. "Apa kita akan melalaporkan ini ke Tuan Eko?" tanya karyawan tersebut.


"Tentu saja, ia harus menanggung akibat dari perbuatannya."


"Apa kau tadi tidak mendengarnya? Ia tidak takut dengan Tuan Eko."


Seketika mereka hening tanpa suara.