
"Apa, bagaimana ini bisa terjadi, apa kau masih ingin bekerja? mengurus satu orang saja tidak becus," bentak Eko.
"Eko, bagaimana ini, Roni kemana?" tanya Elia panik.
"Kamu tenang Elia, mungkin Roni sudah kembali," ucap Eko berusaha menenangkan Elia.
Mereka langsung pergi dari Rumah Sakit menuju kontrakan Roni, sesampainya mereka tidak melihat tanda-tanda Roni sudah kembali ke sini.
"Roni kamu kemana? kenapa selalu membuatku khawatir," teriak Elia yang mulai panik.
"Tenang Elia, kita tidak boleh panik, Roni mungkin sedang menenangkan diri," kamu jangan panik Lia.
"Ya, aku tau, pasti Roni pergi ke pantai, ya pasti ke pantai, ayo kita kesana," ucap Elia menerka.
Eko langsung melaju kencang menuju pantai.
"Roni jangan buat Elia sedih terus, dasar bodoh," batin Eko.
Sesampai di pantai benar saja, Roni duduk di hamparan pasir sambil merokok dengan masih menggunakan baju khas Rumah Sakit.
"Ronii," teriak Elia berlari mendekap tubuh Roni.
"Dasar bodoh, kau membuatku khawatir, aku pikir kau akan pergi meninggalkanku Roni," tangis Elia sambil memukul-mukul tubuh Roni.
"Hey sayang, mana mungkin aku meninggalkanmu, kau hidupku, aku tau kau akan datang sayang," ucap Roni menenangkan Elia.
"Dasar labil, tadi seakan-akan merelakan Roni, sekarang ketakutan jika Roni pergi," gumam Eko yang kemudian pergi menuju minimarket.
Eko yang sebelumnya pergi ke minimarket datang membawa makanan ringan dan minuman serta rokok pastinya dan bergabung dengan Roni dan Elia.
"Roni ayo minum dulu, makan juga, kamu masih belum fit, pikirkan kesehatanmu," ucap Eko menyodorkan makanan dan minuman sembari menyalakan rokok untuk dirinya.
"Eko kamu merokok? Wah siapa yang telah berhasil mempengaruhimu, pasti dia orang yang berarti bagimu, aku saja tidak berhasil mempengaruhimu, dan orang itu berhasil, siapa dia aku jadi penasaran?" tanya Roni.
"Tidak ada bro, aku memang mau merokok, cepat isi dulu perutmu bro!" perintah Eko.
"Sudah," jawab Eko dan Elia serentak.
"Bro ada yang ingin aku jelaskan," ucap Eko.
"Kenapa bro, serius amat," ucap Roni tertawa kecil.
"Roni kamu percaya kan aku tidak akan mengkhinatimu?" tanya Eko.
Roni kebingungan denga pertanyaan Eko, sementara Elia sudah menebak itu akan di ucapkan oleh Eko, Elia sangat takut jika Roni mengetahui itu ia semakin mempererat pelukanya.
Melihat pertanyaan Eko dan Reaksi dari Elia, Roni sadar ada yang tidak beres
"Eko cepat katakan apa yang terjadi," ucap Roni.
Eko menarik dalam dalam Rokoknya dan mulai memberanikan diri untuk mengatakan yang sebebarnya.
"Roni, asal kamu tau, laki laki yang ingin di nikahkan dengan Elia adalah aku," ucap Eko.
Sebuah tusukan tajam seperti menusuk ke dalam tubuh Roni, ia benar-benar terkejut dan merasakan sakit yang tidak berdarah, Elia semakin mempererat pelukanya dan mulai menitihkan air matanya.
"Maksud kamu apa? Jadi ini yang kamu bilang mau bantu kita? Bro kau sahabatku, kau tau aku tak bisa hidup tanpanya," ucap Roni kepada Eko.
"Lia apa kau menerimanya? Apa kau tega meninggalkanku? Apalagi kau pergi dengan sahabatku sendiri, apa aku akan dikhianati oleh kalian dan hanya kalian lah orang yang berarti di hidupku dan sekarang kalian.., ahh aku tidak punya siapa-siapa lagi," ucap Roni.
"Roni, aku mencintaimu, tapi aku terpaksa, aku tidak bisa egois Roni, aku mau Papa bahagia, aku mau memenuhi pesan mama kepada ayahku Roni," tangis Elia semakin deras.
"Terus bagaimana denganku Lia, aku tidak akan bahagia Lia," bentak Roni.
"Bro kamu jangan bentak dia bro, kamu dengerin dulu penjelanku," ucap Eko berusaha menenangkan Roni.
"Diam kau, pengkhianat, sahabat macam apa kau, sekarang kita tidak ada hubungan apapun.., pergi kau!!" teriak Roni yang sudah emosi.