
"Eko, apa kau masih mencintai Rosa?" tanya Sinta ragu-ragu.
"Sinta.., aku sudah melupakannya, meskipun sampai saat ini aku tidak tau apa alasan dia meninggalkanku saat itu, tapi aku tidak butuh lagi penjeasan dan jangan bahas dia lagi di depanku!" tegas Eko
"Aku minta maaf dulu berusaha memisahkan kalian, kau masih membenciku?" tanya Sinta kembali.
"Tidak.., aku tidak membencimu, bahkan sekarang jika kamu berkenan, aku akan pelan-pelan mencintaimu, itu juga jika kau mau membalas cintaku," jawab Eko yakin.
"Apa!! ah maskudku, ya, kamu pasti tau aku selalu mencintaimu," jawab Sinta cukup terkejut.
"Tapi kita harus pelan-pelan, aku akan berusaha dulu melupakan Elia, kau harus tau sebelum Rosa, dia adalah cinta pertamaku, dan aku sangat mencintainya, tapi kami tidak bisa bersama, dan kau pasti tau alasannya!" jelas Eko.
"Ya, aku mengerti Eko, aku tidak akan memaksamu, kamu membuka sedikit saja hatimu untukku sudah sangat membahagiakanku, aku pikir tadinya aku akan sulit untuk mendapatkanmu, tapi sekarang aku sadar, kebahagiaan akan datang, aku hanya perlu bersabar dan tidak perlu melakukan kesalahan," ucap Sinta mulai sedikit menyesal.
Eko mengerti melihat Sinta yang mulai bersedih, "Sekarang ayo pelan-pelan kita membangun perasaan kita, dan kau juga harus mengerti saat ini aku masih suami dari Elia, jadi jangan pernah lagi melakukan kesalahan bodoh seperti dulu lagi," ucap Eko mulai mendekap tubuh wangi Sinta.
"Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan apapun lagi, tapi bagaimana dengan orangtuamu Eko? apakah mereka mau menerimaku?" tanya Sinta khawatir sambil membalas dekapan dari Eko.
"Kamu tidak perlu khawatir, mereka pasti akan memaafkan kamu, mereka selalu mendukung apapun yang menjadi kebahagiaanku, intinya jangan pernah lagi berbuat kesalahan, jika kamu memang mencintaiku," balas Eko.
Eko perlahan mengeratkan pelukannya, Sinta menatap sayu ke wajah Eko, gairah yang tadi sempat terhenti kembali memuncak kembali, Eko benar-benar baru sadar wajah Sinta cukup memancing birahinya. Dulu ia tidak sadar karena tertutupi oleh rasa benci, sekarang Eko mulai tumbuh rasa cinta yang perlahan.
Sinta menekan bagian belakang kepala Eko, "Aku tidak mau ini berakhir,"
Saat keduanya benar-benar di kuasai oleh birahi, tiba-tiba saja pintu kantor Eko terbuka. Di sana terlihat Elia dengan wajah khawatir bercampur kaget.
Sinta dan Eko kaget kemudian melepas ciuman mereka, nafsu perlahan hilang digantikan rasa panik dan khawatir. Elia melihat kelakuan Eko dan Sinta langsung lari, ia tidak tau menuju kemana, namun ia hanya ingin lari, hatinya sangat sakit dan tidak terima atas apa yang ia lihat. Air matanya jatuh tak beraturan di sela-sela gerakanya. Hingga tiba di area parkir ia mulai masuk ke dalam mobilnya dan menangis tak karuan.
Eko dan Sinta yang tak menyangka kedatangan Elia langsung merasa khawatir.
"Eko bagaimana ini?" tanya Sinta khawatir.
"Kamu tenang saja, aku akan mengerjarnya," ucap Eko.
"Tunggu!!, aku ingin ikut," pinta Sinta.
"Jangan kau sekarang tunggu di sini, mungkin aku akan langsung pergi ke rumah bersama Elia, setelah itu kamu keluar dan kembali pulang, aku akan mengabarimu," tegas Eko.
Sinta hanya mengangguk dan menatap Eko yang mulai mengejar Elia. "Elia aku tau ini belum saatnya melakukan itu dengan Eko, aku benar-benar tidak ingin mencari masalah denganmu, aku mohon kau tidak membenciku, aku tidak mau lagi membuat kesalahan, aku mencintai Eko," gumam Sinta terduduk lemas di ruangan Eko.