
Matahari mulai terbit seperti biasanya, tanda aktivitas manusia akan segera di mulai kembali. Eko dan Tasya telah selesai dengan segala persiapanya dan sekarang mereka telah menyantap sarapan seadanya.
"Tasya tadi malam aku terlelap, aku tidak menyangka usapanmu membuatku terlelap, sekarang kamu telah resmi menjadi seketaris pribadiku," ucap Eko.
"Terimakasih tuan, aku tidak akan mengecewakanmu," Tasya tersenyum kecil.
"Bukankah kita telah berjanji untuk tidak berbicara formal? Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan, anggap saja aku adalah temanmu," tegas Eko.
"Lalu aku harus memanggi Tuan dengan sebutan apa?"
Eko berpikir sejenak sambil mengunyah roti yang menjadi sarapannya, "panggil aku Bos!" ucap Eko
"Apa bedanya Bro?" tanya Tasya kelepasan.
"Ya, panggil saja aku Bro, seperti itu, atau terserah kamu lah yang penting kamu nyaman, aku tidak masalah kamu panggil dengan sebutan apa saja," ucap Eko tersenyum.
"Oke Bosku," ucap Tasya sedikit tersenyum.
"Ya terserah kamu, ayo kita berangkat!"
Di dalam mobil, Tasya penasaran Eko akan pergi kemana, "Bos kita mau kemana?"
Eko hanya diam, Tasya kemudian kesal dan mengarahkan padanganya ke luar jendela, Eko hanya tersenyum kecil melihat hal tersebut.
Eko dan Tasya telah sampai ke rumah sakit yang tidak asing bagi Tasya.
"Bos kita mau menjenguk siapa? Ini kan rumah sakit tempat Papa di rawat," ucap Tasya.
"Ya, kita kesini mau menjenguk papamu, ayo tunjukkan dimana ruanganya," ucap Eko.
Tasya hanya menurut dan menuntun Eko menuju kamar rawat Papanya, sesampainya di sana, Tasya langsung memeluk papanya yang sudah koma selama sebulan tidak sadarkan diri.
"Papa, aku kembali, papa masih betah tidurnya, bangun dong Pa, katanya Papa mau jalan-jalan, mana janjinya Pa," ucap Tasya tersenyum menahan deru air matanya.
Setelah cukup lama memeluk ayahnya, petugas rumah sakit datang dan mulai memindahkan Papa Tasya, "Papa saya mau di bawa kemana?" Tasya sedikit panik.
Eko langsung memegang pundak Tasya, "Tenang, Papa kamu saya pindahkan ke rumah sakit milik saya, di sana fasilitasnya lebih baik, semoga ayahmu cepat sadar," ucap Eko.
Mendengar itu Tasya langsung memeluk Eko, "Bosku makasi ya, aku pikir kamu itu tidak punya belas kasihan seperti kata orang-orang di luar sana," ucap Tasya kegirangan.
Eko langsung melepas pelukan Tasya, "Maksud kamu? Apa semua penilaian orang di luar sana seperti itu?"
"Aduh maaf bos, itu memang faktanya, saat aku pertama bekerja di perusahaanmu, rata-rata orang di kantor menyukai paras tampanmu, tetapi temanku takut dengan sifatmu yang tidak ramah kepada siapapun jika di luar kantor, sehingga isu beredar bahwa kamu adalah lelaki yang tidak punya belas kasihan," Tasya membeberkan seluruh fakta yang ia tau.
"Citraku benar-benar buruk di luar sana, tapi itu tidak penting, yang pasti orang terdekatku pasti memiliku penilaian yang berbeda, bukan begitu?" tanya Eko.
"Pasti Bosku sayang, sini peluk," ucap Tasya yang masih bahagia.
"Ayo.., kita masih ada urusan lain," ucap Eko kemudian menggenggam tangan Tasya ke luar rumah sakit. Beberapa pasang mata menatap Tasya dengan sinis, mereka iri terhadap Tasya, dan juga merasa ia adalah wanita penggoda karena mereka tau Eko telah menikah.
Namun Tasya sama sekali tidak memperdulikan mereka, Tasya justru ikut menggenggam lengan Eko, membuat wanita yang menatapnya semakin kepanasan, raut senyum puas tergambar di bibir Tasya.
Di dalam mobil, "Kita akan kemana, bos? tanya Tasya
"Kita akan pergi ke perusahaan mertuaku, oh sebentar lagi mungkin dia bukan mertuaku lagi," Eko tersenyum kecil.
"Huh, aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu, bos," jawab Tasya.
"Nanti malam, aku akan membawamu ke suatu tempat, kita akan berbicara semua tentang diri kita, tidak akan ada yang aku dan kamu tutup-tutupi," ucap Eko.
Mereka tiba di perusahaan Ayah Elia, yang dulu ia bantu sebagai timbal balik pernikahanya dengan Elia.
"Saya ingin bertemu, Aldo Fairuz (Ayah Elia) pemilik perusahaan ini," ucap Eko tegas kepada sang penjaga pintu pertama.
Seluruh manusia di perusahaan tersebut tau betul siapa Eko, tanpa banyak pertanyaan Eko dan Tasya telah sampai di depan kantor Ayah Elia.
Sambutan hangat tentu diberikan kepada Eko, "Nak Eko, ada perlu apa sampai-sampi menyempatkan hadir ke perusahaan ini?" Papa Elia tersenyum.
"Lalu siapa wanita ini?" tanya Papa Elia.
"Ah, ini seketaris pribadiku Pa, saya kesini ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan Papa, ini tentang hubungan saya dengan Elia, Pa."
"Ada apa dengan hubungan kalian?" Papa Elia menaruh curiga.
"Sebelumnya aku minta maaf.."
"Cukup!!" Papa Elia memotong perkataan Eko yang belum selesai.
"Bisa kita berbicara empat saja, sebentar," sambung Papa Elia.
"Tentu Pa."
Tasya yang mengerti langung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Nak, apapun masalah kalian saat ini, selesaikanlah dengan kepala dingin, jangan karena emosi sesaat kalian akan menyesal di hari selanjutnya."
"Tapi, Pa...."
"Sssst," Papa Elia kembali memotong percakapan.
"Sekarang sebelum kamu berbicara lebih jauh, Papa akan memberitahumu satu hal yang besar..."
Mereka kemudian duduk saling berhadapan.
"Eko, aku tau kalian adalah sebuah takdir, puncaknya aku meyakini itu saat masa-masa remaja, saat kalian akan berpisah, aku tau apa yang kalian lakukan saat itu."
"Deg!!" Seketika jantung Eko berdetak kencang.
"Ma-maksud Papa," Eko tergagap dengan wajah pucat pasi.
"Saat Mama Elia melahirkan, di detik itu juga Mama Elia pergi meninggalkan kami, sebelum kepergianya ia berpesan, bahwa ia tidak akan pergi dengan tenang sebelum anak yang ia lahirkan dengan mambayar nyawanya, hidup bahagia..."
"Ia akan selalu berada di sisi kami sebelum Elia buah hati kami hidup bahagia, dan dia akan pergi dengan tenang setelah Elia hidup bahagia..."
"Satu tahun seteleh kepergian Mama Elia, aku sudah merasakan kehadirannya di sisi kami, setiap malam Elia selalu tiba-tiba menangis tidak jelas, dan setelahnya aku memutuskan untuk memasang cctv di kamarnya, aku ingin melihat kehadiran Mama Elia, namun setelah itu ternyata ia tidak hadir lagi, Elia bahkan tidak lagi menangis setiap malam..."
"Dan kamu tau, setelah sekian lama tidak ada lagi kehadiran, aku memutuskan untuk memutus akses cctv di kamar Elia, dan saat aku memeriksa terakhir kalinya..."
"Aku melihat semua yang kalian lakukan, aku melihat kalian melakukan hal yang sebenarnya tidak pantas kalian lakukan oleh anak-anak seumuran kalian..."
"Aku sebenarnya sangat marah, namun melihat alasan kalian melakukan itu, melihat raut wajahmu yang sungguh-sunguh dan takut kehilangan Elia, akhirnya aku memutuskan bungkam terhadap hal menjijikan yang kalian lakukan."
Seketika Eko langsung menunduk dan dan meraih tangan lelaki yang sudah mulai berumur tersebut.
"Maafkan aku Pa, aku benar-benar melakukan hal bodoh," ucap Eko.
Papa Elia hanya terdiam sejenak, kemudian perlahan melanjutkan kembali perkataanya yang terhenti.
"Dan, setelah sekian lama kamu berpisah dengan Elia, kehidupan Elia di datangi oleh lelaki pemakai yang tidak punya masa depan, bahkan dengan keberanianya sebagai laki-laki ia datang ke rumah dengan maksud tujuan melamar satu-satunya putri kesayanganku..."
"Aku melihat dari sorot matanya yang penuh dengan rasa cinta yang tidak terbantahkan, aku sadar ia belum punya apa-apa, namun ia berjanji akan membahagiakan putriku..."
"Aku salut dengan keberanianya, saat itu aku bisa saja menerima lamaranya, namun tentu saja kamu pasti tau alasanku menolaknya, yaitu kamu!!"
"Kamu yang akan berjanji kembali saat dewasa nanti, dengan segala rayuanmu berusaha mendapatkan kewanitaan putriku, dan Eliaku dengan polosnya percaya padamu..."
"Akhirnya aku bersikeras tidak akan pernah menikahkan Elia dengan siapapun kecuali kamu, sehingga hubunganku dengan Elia berangsur memburuk, ia menentangku dengan keras, ia merasa cinta miliknya harus berada di bawah kendalinya..."
"Akhirnya aku dengan terpaksa mengeluarkan alasan bahwa perusahaan ini telah bangkrut dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan perusahaan ini adalah dengan menikahimu, sungguh itu hanyalah suatu tipu daya untuk menyatukan kalian..."
"Rencanaku berjalan lancar, karena orangtuamu setuju terhadap pernikahan ini, apalagi Ibumu yang trauma akibat pernikahamu tidak jadi terlkasana dengan mantan kekasihmu..."
Eko mulai menitihkan air matanya, "Maafkan aku, Pa."
"Aku benar-benar bodoh, aku mencintai Elia, sungguh aku mencintainya sejak aku kecil perasaan itu sudah ada, hanya saja perasaanku saat itu mulai terkikis seiring dengan lamanya waktu kami berpisah..."
"Tapi percaya lah, perasaanku selamanya tidak akan pernah hilang, akan selalu ada sedikit ruang di hatiku untuk Elia."
Papa Elia kemudian tersenyum dan mengusap sekali rambut legam Eko.
"Kalian memang sudah ditakdirkan bersama, tugas kalian sekarang mempertahakan takdir itu dengan saling mengalah saat suatu masalah datang ke kehidupan kalian," ucap Papa Eko.