
Malam hari di rumah baru milik Eko dan Elia mereka mulai menikmati makanan yang tadi telah di siapkan oleh Mama Eko yang sudah pamit sejak sore tadi. Pikiran Elia benar-benar kacau di meja makan. Elia tampak tidak selera menikmati makanan diatas meja.
Eko yang melihat Elia yang sedang melamun kemudian bertanya "Lia kenapa gak makan? Kamu mikirin apa sih?" tanya Eko.
Elia masih diam membisu. Setelah Eko menyelesaikan makannya, ia mengajak Elia untuk beristirahat. "Yausudah kalau kamu tidak mau makan ayo kita istirahat. Oh iya kamu tidur di kamar yang disiapin mama aja, aku tidur di kamar tamu!" ucap Eko kemudian melangkah menuju kamar tamu, ia tidak mau mengganggu Elia yang suasana hatinya sedang tidak baik. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti mendengar Elia yang memanggilnya.
"Ekoo!!!" panggi Elia.
Eko segera memutar arah menuju Elia
"Iya ada apa? Kamu kenapa?" tanya Eko.
"Boleh kah kita tidur bersama?" tanya Elia yang tiba-tiba menangis memeluk Eko.
Eko bingung mengapa Elia meminta seperti itu, namun ia tidak tega melihat Elia yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
"Baiklah, ayo kita ke kamar!" ucap Eko, mereka kemudian pergi menuju kamar.
Mereka kemudian mulai berbaring di atas ranjang, Eko kemudian memeluk Elia berusaha untuk menghentikan tangisa Elia.
"Menangislah, lepaskan semua bebanmu, setelah ini jangan pernah lagi menangis, aku ingin kau bahagia Lia!!" ucap Eko menyium kening Elia.
Elia mengahabiskan seluruh tangisanya di pelukan Eko, hampir satu jam ia berada di pelukan Eko. Setelah air matanya seakan-akan sudah habis ia mulai menenangkan pikiranya, ia segera menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh sisa-sisa air matanya.
"Apa sudah baikan?" tanya Eko yang melihat Elia sudah mulai tenang.
"Boleh aku tanya mengapa kau menangis" tanya Eko sedikit ragu, ia takut Elia kembali bersedih.
Elia mulai menghisap kembali rokoknya, kemudian menoleh ke arah Eko.
"Eko alasan kita menikah ini adalah untuk membahagiakan orangtua kita, tapi apa kamu sadar sebenarnya kita hanya memberikan mereka kebahagiaan sesaat, setelah itu mereka akan kembali terluka, bahkan lukanya lebih menyakitkan lagi. Dan semua itu karena kebodohan kita," ucap Elia.
"Maksud kamu?" tanya Eko kebingungan.
"Mama kamu menginginkan cucu, ia tidak sabar menantikan itu, lalu akhirnya apa yang akan ia dapat? Justru ia akan mendengar kita akan bercerai di kemudian hari. Apa kamu gak mikirin bagaimana perasaan Mama kamu jika hal itu terjadi?" tanya Elia.
"Lia, itu mungkin resiko yang aku terima, tapi aku akan berusaha agar Mama bisa mengerti dengan keadaan kita nantinya," jawab Eko.
"Lalu apa alasanmu menceraikanku nanti, kau akan bilang aku selingkuh dengan Roni, atau Papa menikahkan ku denganmu hanya untuk membangkitkan perusahaanya? Apakah aku sejahat itu?" tanya Elia yang mulai menangis.
"Tidak, aku tidak akan membuatmu buruk di mata siapapun, aku lah yang akan mengambil resiko, bila perlu aku yang akan menjelaskan kepada semua orang aku selingkuh dan tidak menginginkanmu lagi, kamu tenang saja. Nama baikmu akan terjaga, biarlah nama baiku yang akan menjadi buruk di mata orang. Jadi sudah cukup jangan mendebatkan itu lagi, kau pikirkan saja kebahagiaanmu dengan Roni!" Ucap Eko kemudian pergi meninggalkan Elia.
Elia menangis mendengar jawaban Eko, "Eko aku hanya bermaksud agar Mama kamu tidak terluka lagi, kau benar-benar keras kepala. Apakah kau lebih mementingkan sahabatmu ketimbang Mama kamu sendiri," guman Elia menangis sambil tidak henti menghisap rokoknya.
Eko melangkah menuju kamar tamu, ia benar-benar marah medengar perkataan Elia. "Aku berkorban untuk kebahagiaan kalian, aku bahkan rela jika suatu saat nanti aku sendiri lah yang akan menanggung resikonya. Lalu kau masih memikirkan nama baikmu? Hahh dasar egois, kau tidak melihat bagaimana berkorbannya aku untuk kalian!" gumam Eko.
Eko benar- benar susah untuk terlelap karena tidak ada yang mengusap rambutnya sebelum tidur, ia kemudian mulai mengambil obat tidurnya yang selalu ia bawa untuk jaga-jaga. Akhirnya setelah menggunakan obat tidurnya ia mulai terlelap.
Sementara Elia yang sedari tadi menangis mulai kehabisan tenaga, "Mama aku ingin kau menemuiku, bawa aku ketempat saat ini kau berada, mungkin di sana aku tidak akan perlu memikirkan orang lain sampai aku menderita karenanya," ucap Elia sendiri menangis dan lama-kelamaan mulai terlelap.