Because Of Love

Because Of Love
Episode 70


Happy Reading!!


Eko telah tiba di rumahnya, ia mendapati Tasya yang sedang meyiapkan makan malam, seyuman menghiasi wajahnya, dari kejauhan Eko melihat Tasya, hatinya tiba-tiba berdebar melihat Tasya.


Eko yang melamun di kejauahan akhirnya tersadar saat Tasya sudah menyadari kehadirannya. "Tuan, mengapa berdiri di situ, ayo mandi dulu, aku akan menyiapkan makan malam," ucap Tasya tersenyum.


Eko tersadar, kemudian hanya tersenyum dan mesuk ke dalam kamarnya, dan segera melakukan ritual mandi.


Di tengah guyuran air yang membasahi tubuhnya, pikiranya kembali mengingat senyuman Tasya.


"*Ah bagaimana mungkin aku tega melihatnya terluka, aku tidak mengerti perasaanku, apa aku..."


"Ah tidak mungkin, aku tidak ingin mencintai siapapun lagi*," gumam Eko di sela ritual mandinya.


Eko telah menyelesaikan mandinya, dan segera menuju meja makan, Tasya yang sudah menunggu langsung menyiapkan makanan untuk Eko. "Silahkan dimakan, Tuan," ucap Tasya sambil tersenyum.


Senyuman Tasya lagi-lagi membuat jantung Eko berdebar. Ia mulai melahap makanannya. "Aku baru menyadari senyumannya begitu indah, kenapa aku baru sadar sekarang," gumam Eko.


Mereka telah selesai dengan makan malamnya, Tasya kemudian telah menyiapkan baju tidur untuk Eko.


Setelah semua di siapkan Tasya kemudian pamit untuk berisitirahat. "Selamat malam Tuan," ucap Tasya kemudian pergi keluar kamar Eko.


"Tasya!" panggil Eko, mengehentikan langkah Tasya yang sudah berada di depan pintu.


"Iya Tuan," jawab Tasya.


"Jangan pernah tersenyum kepada siapapun kecuali aku!" ucap Eko.


Tasya kebingungan, "Maksud Tuan?"


Menyadari kesalahanya Eko langsung mencari alasan, "Ahh.. Maksudku.. Kamu tidak berhubungan lagi dengan lelaki lain kan?" Tanya Eko menutupi kesalahanya berbicara.


Tasya mengerti, "Ya Tuan, saya sudah mengakhirinya, saya tidak akan melanggar peraturan yang telah kita janjikan," balas Tasya.


"Ya itu bagus," ucap Eko.


"Baik Tuan saya izin untuk beristirahat," ucap Tasya kembali melanjutkan langkahnya.


"Tunggu!" ucap Eko lagi yang menghentikan kembali langkah Tasya. Ia menyembunyikan kekesalannya, "Ia Tuan, apa ada lagi yang bisa saya kerjakan?"


Eko terdiam sesaat, ia tidak mengerti mengapa memanggil Tasya lagi, "Hey aku belum mengizinkan kamu pergi, berani-beraninya kamu!" tegas Eko berusaha menutupi kekonyolannya.


"Maaf kan saya Tuan," ucap Tasya.


"Dia sangat aneh apa dia sedang sakit," gumam Tasya.


"Kamu kan tau, rambutku harus di usap agar aku bisa terlelap," ucap Eko.


"Tapi Tuan.."


"Jangan membantahku, cepat lakukan sampai aku terlelap baru kamu boleh istirahat!" tegas Eko.


Tasya benar-benar merasa aneh melihat tingkah Eko hari ini.


"Padahal dia sendiri yang tidak mau lagi aku mengusap kepalanya, kenapa sekarang dia memintanya lagi?" gumam Tasya kebingungan.


"Hey, ayo lakukan!" ucap Eko mengagetkan Tasya.


Dengan terpaksa Tasya kemudian mendekat dan mulai mengusap rambut legam Eko.


Eko memejamkan matanya menikmati setiap usapan dari Tasya, ia kemudian membuka matanya melihat wajah Tasya. Menyadari wajahnya sedang di tatap oleh Eko, Tasya menjadi salah tingkah, mukanya memerah menggemaskan.


"Hey, mengapa kamu tidak tersenyum, apa kamu tidak suka mengusap rambutku?" tanya Eko.


Dengan terpkasa Tasya tersenyum namun mengalihkan pandangannya.


"Lihat kesini, aku tidak melihatnya," perintah Eko.


Dengan perlahan Tasya menatap wajah Eko sambil tersenyum, mukanya memerah.


"Aduh, kamu benar-benar menawan Tuan!, jika ada wanita lain yang tau aku sedang mengusap wajahmu, mereka akan iri melihatku," gumam Tasya.


"Hey mengapa tidak menatapku lagi?" tanya Eko tiba-tiba.


"Ah Tuan, anda sudah memejamkan mata Tuan," balas Tasya terkejut.


"Walapun aku memejamkan mataku, tapi aku bisa merasakannya, jangan berhenti tersenyum," ucap Eko.


"Baik Tuan," ucap Tasya kembali tersenyum dan melanjutkan usapanya.


Eko kembali memejamkan matanya, Tasya dengan terpaksa terus tersenyum.


"Aku seperti orang gila," kesal Tasya.


Setelah lama tersenyum dan mengusap rambut Eko, Tasya sudah menyadari Eko sudah terlelap. Dengan hati-hati ia kemudian mulai bergerak dari ranjang Tasya, dan ia berhasil keluar dari kamar Eko.


Dengan perasaan lega, ia menuju kamarnya.


"Tasyaa!" teriakan Eko menggema di dalam rumahnya mengagetkan Tasya. Dengan tergesa-gesa ia lari menuju kamar Eko di lantai dua.


"Ada apa Tuan?" tanya Sinta panik saat telah sampai di kamar Eko.


"Kenapa pergi? Aku belum mengizinkan kamu pergi!" tegas Eko.


"Maaf Tuan, saya pikir anda sudah terlelap," ucap Tasya ketakutan.


"Cepat lakukan lagi!" perintah Eko.


Tasya kemudian kembali mendekat, dan mengusap rambut Eko. Tasya tidak melupakan senyumannya.


"Jangan berhenti sampai aku mengizinkannya!" ucap Eko kemudian kembali terlelap.


Meskipun Eko sudah terlelap, namun Tasya tidak berani untuk beranjak, ia benar-benar kelelahan.


Eko yang terlelap tiba-tiba memindahkan kepalanya ke atas paha Tasya, dengan pelan Tasya berusaha menahannya, namun Eko dengan sekuat tenaga memaksannya, hingga akhirnya Tasya terbaring di sebelah Eko, dengan leluasa Eko memeluk tubuh Tasya.


Tasya hanya bisa pasrah, sambil terus mengusap wajahnnya, hari semakin larut Tasya benar-benar tidak dapat menahan kantuknya, sampai kemudian mereka tertidur sambil berpelukan.


Eko yang merasa usapan Tasya berhenti membuka matanya, dan melihat wajah Tasya yang sudah terlelap di hadapanya. Ia menatap lama wajah Tasya, kembali jantungnya berdebar kencang.


Eko kemudian tersenyum, dan mengecup kening Tasya, ia kemudian mengeratkan pelukannya dan kemudian terlelap.


.....


Sementara Sinta sudah mengahabiskan beberapa botol minumannya di apartementnya, sambil menatap gemerlap malam dari jendelanya. Setelah bertemu kembali lagi dengan Eko, ia benar-benar semakin frustasi.


"Berani-beraninya dia bilang aku sakit jiwa," gumam Sinta sambil kembali meneguk minumannya.


Sinta kemudian membuka ponselnya dan melihat foto Eko.


Sinta tersenyum, "Ya aku memang sedikit gila, semua itu karenamu, Eko!" Sinta tertawa keras.


Ia menyalakan sebatang rokoknya, menghisapnya dalam-dalam.


"Kita lihat saja, jika kamu masih bersikeras mempertahankan seketaris sialanmu, maka aku tidak akan tinggal diam!"


Ia kembali menatap foto Eko di layar ponselnya. Tiba-tiba ia menangis.


"Hikss, apa aku salah mencintaimu, apa salahku? Mengapa tidak memberiku sedikit kesempatan saja, aku tulus mencintaimu, Eko!"


Sinta semakin frustasi, ia melempar semua botol minumanya ke sembarang tempat.


"Ya, aku tau kamu mencintaiku, hanya gara gara Elia aku kalah, aku menerima kekalahanku, tapi sekarang kamu tidak bersama Elia lagi, dan sekarang seketaris sialan itu mencoba merebutmu dariku," ucap Sinta.


"Aku akan berjuang sampai Eko bertekuk lutut di hadapanku, dan Tasya kamu tunggu saja jika berani merebut Eko dariku!" ucap Sinta lagi.


Ia kemudian melampiaskan seluruh frustasinya, semua barang-barang di dekatanya ia hancurkan, sampai ia kemudian tidak sadarkan diri karena pengaruh minumannya.