
Tasya menguasai dirinya, berusaha untuk tenang, "Tuan.." membangunkan Eko dari tidurnya.
Eko kemudian tersadar, perlahan memulihkan kesadarannya.
"Tuan, ayo makan dulu," ucap Tasya.
Eko menatap Tasya, melihat raut wajahnya terasa aneh baginya.
"Ah.. Iya, tunggu di meja makan!"
Eko membersihkan diri terlebih dahulu.
Tasya kemudian menyiapkan perlatan makan, ia benar-benar tidak sanggup harus mengatakan berita buruk ini.
"Tenang Tasya, tenang.."
Eko kemudian tiba, mengagetkan Tasya yang masih berusah menenangkan diri.
"Ayo makan!" ucap Eko.
"Iya Tuan.."
Tasya menyiapkan makanan Eko, dengan lahap Eko menyantap masakan Tasya, "Kamu belajar dengan baik, masakannya enak," ucap Eko tersenyum kepada Tasya.
Namun reaksi dari Tasya hanya tersenyum kecil, Eko akhirnya sudah tidak dapat menahannya.
"Tasya.. Semua baik-baik saja kan?" cecar Eko.
Tasya yang sedang menhantap makanannya, tersedat karena terkejut dengan pertannyaan Eko yang.
"Uhukk...uhukk, Maaf Tuan.." ucap Tasya.
Melihat Tasya yang terkejut Eko yakin ada yang sedang tidak beres.
"Minum!" ucap Eko menyodorkan segelas minuman untuk Tasya.
Tasya menerimanya dan mulai meneguk minumannya, "Baiklah Tuan Eko sepertinya sudah curiga, mungkin aku harus mengatakannya," gumam Tasya.
"Tuan.." ucap Tasya.
Eko yang sudah selesai dengan makananya, "Ada apa? Aku tau ada yang sedang tidak beres, aku akan marah jika kamu menyembunyikan apapun dariku! tegas Eko.
"Maaf Tuan, tadi ada yang menelpon Tuan.."
"Siapa?"
"Tuan.. Aku harap kamu ikhlas memerimanya, tadi orang kepercayaan Tuan bilang.. Nyonya besar sudah tiada," ucap Tasya mulai panik.
Ekspresi Eko mulai berubah, "Maksud kamu?" tanya Eko.
"Nyonya besar, Mama Tuan sudah tiada, semuanya sudah berkumpul di rumah Papa, Tuan," ucap Tasya.
"Apa!?, Tasya kamu bercanda kan, aku tidak suka seperti itu!" tegas Eko.
"Tuan aku tidak mungkin bercanda soal kematian," ucap Tasya.
Seketika tubuh Eko melemah, tidak sanggup menopang badannya, "Tidak.. Itu tidak mungkin," ucap Eko tersimpuh.
Melihat reaksi Eko, Tasya mulai menangis, tidak sanggup melihat Tuannya terluka.
"Tuan, sabar.." ucap Tasya mendekat.
"Sialan, kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi! Hah?" ucap Eko keras.
Tasya semakin memangis, "Maaf Tuan," ucapnya.
Eko tidak menghiraukan Tasya kemudian mulai pergi mengambil kunci mobilnya, dan kemudian pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meniggalkan Tasya.
Eko tiba di rumah Papanya, bendera merah telah berkibar di depan halaman rumahnnya, perasaan Eko semakin hancur.
Perlahan melangkah memasuki rumah Papanya, didalamnya sudah banyak yang datang untuk ikut beruduka cita. Kehadiran Eko mengalihkan pandangan seluruh tamu yang sudah hadir.
Eko melangkah pelan menuju Mamanya, ia melihat Ayahnya dan Salsa adiknya telah bersimpuh pucat pasi di samping Mamanya. Ayah Eko kemudian menyadari kehadiran anak laki-lakinya tersebut.
Perasaan sedih kemudian berubah menjadi emosi, dengan tegas Papanya langsung menghadang Eko.
"Anak sialan, berani-beraninya kamu datang, pergi dari sini!" tegas Papa Eko dengan emosi yang menggebu-gebu.
Seluruh yang hadir teralihakan melihat pertengkaran antara seorang ayah dan anaknya.
"Pa.. Tenang, jangan seperti ini," ucap Eko pelan, air matanya menetes.
Papa Eko semakin emosi, "Hah, ini kan yang kamu mau? Lihat sekarang dia telah pergi, dan semua ini karena kamu!" kata-kata Papa Eko semakin keras, situasi semakin tidak kondusif.
Melihat ini, Salsa langsung berinisatif menenangkan keduanya, "Pa sudah, jangan bertengkar," ucap Salsa menangis.
"Bawa pergi anak sialan ini dari hadapanku," ucap Papa Eko yang masih emosi.
Karena Papanya tidak dapat mengendalikan emosinya, Salsa kemudian mengajak Kakanya untuk keluar ke depan teras rumah. "Kak ayo sebentar."
Eko hanya bisa pasrah dan menurut dengan adiknya. Mereka kemudian telah menjauh dari Ayahnya yang masih emosi.
Salsa kemudian menyerahkan sebotol minuman untuk kakaknya agar dapat menenangkan diri.
Eko menerimanya, meneguk sedikit.
"Salsa kamu kapan tiba?" tanya Eko memaksakan senyumanya kepada adiknya.
"Saat Papa bilang penyakit Mama kambuh aku langsung terbang dari Paris.. Aku juga melihat saat Papa mengsir kakak dari rumah sakit," ucap Salsa.
Eko semakin menangis, namun memaksakan senyumannya, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan adiknya.
"Salsa.. Aku minta maaf, aku salah, gara-gara aku semua ini terjadi," ucap Eko, tangisannya semakin menjadi.
Eko kemudian menyentuh pundak kakaknya, "Kak.. Ini semua sudah takdir, tidak ada yang bisa di salahkan, Papa hanya sedang panik, karena belum bisa menerima kepergian Mama, makanya belum bisa mengontrol perkataanya, kakak jangan sedih.. Papa gak bermaksud seperti itu kok," ucap Salsa yang kemudian ikut menangis.
Mereka kemudian saling berpelukan, menangis bersama di dalamnya.
"Kak tunggu sebentar ya, aku mau melihat Ayah dulu," ucap Salsa.
Eko mengangguk, Salsa kemudian pergi masuk ke rumah menemui ayahnya.
Eko kemudian diam dengan tatapan kosong merenung, "Kenapa Papa sangat emosi melihatku," gumam Eko.
Ia kembali mengingat kenangan bersama Mamanya, saat kecil dengan lembut mengusap rambutnya sampai terlelap, sampai saat ia kemudian jatuh sakit saat Rosa mantan kekasihnya membatalkan pernikahan mereka dengan sepihak tanpa alasan yang jelas.
Kemudian sampai kemudian Mamanya dengan semangat melawan penyakitnya karena Eko menerima perjodohannya dengan Elia kekasih masa kecil sekaligus juga kekasih sahabatnya.
Keceriaan Mamanya kembali hadir sepenuhnya saat Eko dan Elia resmi menikah, dengan penuh pengharapan Mamanya mendesak agar langsung di berikan cucu. Namun karena tekat Eko yang kuat bahwa pernikahan ini hanya sementara demi menyelamatkan hubungan Elia dan Roni, akhirnya mereka memberikan berbagai alasan untuk menundanya.
Sampai kemudian semuanya berjalan lancar, Eko berhasil menjalankan rencananya untuk menyatukan Elia dan Roni, semua ia lakukan demi kebahagiaan Roni sahabatnya karena alasan bahwa penderitaan Roni di sebabkan oleh kesalahan dari keluarganya. Sehingga ia ingin menebus kesalahan keluarganya.
Namun karena terlalu memikirkan kebahagiaan sahabatnya, ia tidak memikirkan dampak yang akan terjadi kedepannya.
Hingga dengan yakin, di depan orangtuannya mengumumkan bahwa ia akan bercerai dengan Elia. Seluruh yang mendengar terkejut, tidak terkecuali Mamanya, dengan penuh pengaharapan agar segera di berikan cucu, namun kenyataan pahit kembali di terima Mamanya, seketika Mama Eko sangat terluka kemudian penyakitnya langsung kambuh sehingga harus kembali di rawat di rumah sakit dengan sebab yang sama, yaitu pernikahan yang gagal dari anak laki-laki kesayangannya.
Eko termenung lama di bangku halaman rumah Papanya, meratapi kepergiaan Mamanya. Air matanya tidak berhenti jatuh ke rumput halaman yang tidak terurus.
"Ya.. Papa benar semua ini salahku," gumamnya tertunduk lemas.
Eko semakin menangis, "Apa Elia benar aku terlalu memikirkan kebahagiaan orang lain, Tasya juga mengatakan hal demikian, aku terlalu memikirkan kebahagiaan orang lain, sampai-sampai sekarang aku terluka seperti ini."
"Tuhan, kapan aku bahagia?, Apa yang sedang engkau rencanakan di balik semua ini, kenapa cobaan untukku seberat ini," gumam Eko.