
Baik Eko maupun Elia sama-sama diam membisu di dalam jet pribadi yang mereka tumpangi, Eko berpikir Roni tidak mau menyusul karena Elia melarangnya, ia sebenarnya tau saat awal pertama bertemu kembali baik ia maupun Elia masih sama-sama memiliki perasaan kepadanya akibat ikatan yang sudah terjalin sejak kecil, begitu juga dirinya, ia tidak menampik bahwa ia masih cinta kepada Elia namun bagaimanapun ia tidak akan merusak hubungan Elia dengan Roni.
Jet pun telah mendarat, Elia dan Eko langsung turun dari pesawat di sana ia telah di tunggu oleh supir pribadi yang telah di persiapkan oleh ayahhnya, supir tersebut mengantar mereka ke hotel.
Di dalam mobil Elia masih saja diam dan terlihat raut wajah yang sedih, melihat itu Eko merasa bersalah, ini harusnya menjadi hari bahagianya. Mobil telah sampai ke hotel yang juga telah ayahnya persiapkan, di loby hotel mereka langsung di sambut oleh resepsionis dan mengantar mereka ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Elia langsung membuka koper dan mengambil baju ganti dan segera menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah menunggu cukup lama, Elia telah selesai dari ritual mandinya, gantian Eko segera masuk untuk mandi.
Elia benar-benar merasa risih dengan hal ini, ia menunggu Eko untuk mulai berbicara atau minta maaf padanya, namun itu sepertinya tidak terjadi malam ini, ia mulai menelpon layanan hotel untuk membawakan dia sebotol anggur terbaik di hotel tersebut.
Tanpa menunggu lama pesanan Elia datang, ia segera mengambil gelas dan menuangkan sedikit anggurnya tak ketinggalan rokok, ia menikmati keduanya di teras kecil kamar hotel, hembusan angin malam membawanya ke dalam lamunan yang membelenggu.
Eko yang telah selesai mandi, segera meraih ponselnya untuk menelpon Roni, ia ingin tau apakah benar Roni tidak akan menyusulnya dan apa alasan ia melakukan itu. Namun sepertinya jawaban itu tidak ia dapatkan hari ini karena ponsel dari Roni tidak dapat di hubungi setelah ia coba beberapa kali.
Ia sangat kesal, namun kekesalanya tiba-tiba hilang melihat Elia yang tengah duduk di teras kamar, mengenakan piyama merah maron yang tersingkap menunjukkan paha yang putih dan mulus.
Eko segera duduk di kursi kosong sebelah Elia, mulai ikut meminum anggur dan membakar rokok. Namun tidak ada reaksi dari Elia atas kedatangan Eko di sampingnya.
"Elia!" panggil Eko mulai memecah keheningan.
Elia menoleh kepada Eko menatapnya tajam. "Jangan sekarang.., kalau kamu mau ribut tolong jangan sekarang, biarkan aku tenang sebentar saja!!" ucap Elia tegas.
Eko terkejut mendengar ucapan Elia
"Oh.., oke kita lupakan sebentar, kita akan membahas yang lain saja, yang membuatmu bahagia," ucap Eko mulai menarik kembali rokoknya.
Suasana hehing sesaat kemudian pecah saat tiba-tiba Eko mulai bangkit dari kursinya, dan langsung menyerang bibir Elia, tanpa lama-lama Elia langsung menyambutnya dengan tak kalah bergairah, Eko duduk di atas pangkuan Elia dan bercumbu penuh gairah, suara cumbuan mereka menggema memenuhi ruangan tersebut.
Elia mengimbanginya ciuman Eko dengan ganasnya, ia mulai melingkarkan tangannya di leher, sesekali memindahkan tanganya ke rambut Eko mengusapnya dengan lembut.
Eko melepas ciumanya, dan menatap sebentar wajah Elia yang terlihat kecewa karena Eko menghentikan aksinya, Eko menyibak rambut Elia yang menutupi sebagian wajanya akibat terpaan angin dan mulai kembali mencumbu bibir tipis Elia.
Elia menyambutnya, mengimbangi serangan hebat dari Eko, ia menaikkan tanganya ke kepala Eko dan menekaanya pelan, seakan ia tak mau Eko melepaskan ciumanya.
Desiran angin semakin kencang, namun mereka berdua kepanasan, Eko mulai memasukkan lidahnya dan mulai menelusuri setiap cela di dalamnya tanpa ketinggalan, Elia menyambut lidah Eko dengan merapatkan kedua bibirnya dan menggigit kecil lidah Eko.