Because Of Love

Because Of Love
Episode 26


Elia dan Eko benar benar tenggelam dalam kenangan masa kecil mereka. Betapa mereka saling mencintai kala itu.


"Mengingat masa itu, mungkin kita remaja paling nakal ya, bisa-bisanya kita sampai melakukan hal itu," ucap Eko yang mulai membalas pandangan Elia yang sedari tadi menatapnya.


"Apa kau menyesal melakukan itu?" tanya Elia.


Eko terdiam sesaat. "Hey aku yang seharusnya bertanya, apa kau menyesal telah melakukan itu?" tanya Eko.


Elia tersenyum dan mengalihkan pandanganya ke langi-langit kamar. "Tentu saja tidak, karena aku memberikannya kepada orang yang aku cintai!" jawab Elia yakin.


Mendengar itu Eko benar-benar tidak tau lagi harus berkata apa. Ia mulai mencari dalih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Lia sudah jam 4 pagi, kita harus istirahat, aku sudah mengantuk, mau tidur, kita akan membahas itu lain kali, tidurlah!" ucap Eko menoleh ke Elia dan ia mendapati Elia ternyata sudah tertidur.


"Aishhh, Lia kau masih seperti dulu," gerutu Eko sembari tersenyum.


Eko mulai menatap wajah Elia yang teduh.


"Dulu kau mengusap rambutku untuk membantuku bisa terlelap, tapi justru kamu yang lebih dulu selalu terlelap karena mendengan cerita novel ibumu yang aku bacakan," gumam Eko.


Ia kemudian berdiri kembali di teras kamarnya, pikiranya kembali terlintas perkataan Elia, "Tentu saja tidak, karena aku memberikannya kepada orang yang aku cintai" (Perkataan Elia yang terlintas di pikiran Eko). Eko tersenyum mengingat perkataan Elia, ia mulai menyalakan sebatang rokoknya.


"Kamu bilang mencintaiku? Lalu kenapa kamu berhubungan dengan Roni sahabatku? Aku tidak mungkin melukai sahabatku, dan tekatku sudah bulat, kamu harus bahagia dengan Roni, biarlah aku mengorbankan perasaanku, jika kamu tanya, cintaku padamu sampai saat ini tidak pernah berubah Lia!"


Eko berdebat dengan pikiranya sendiri, ia merasa miris dengan kisah percintaanya, tidak terasa air matanya menetes, ia kembali menghisap rokoknya sedalam dalamnya.


"Aku tidak butuh alasan mengapa kamu meninggalkanku, setauku kamu sudah bahagia dengannya, dan kebahagiaanmu itu sudah cukup bagiku, cinta tidak harus memiliki!" gumam Eko kembali.


Eko menarik kembali rokok terakhirnya yang sudah hampir habis, air matanya masih mengalir, "arggghhhh!!" teriak Eko pelan.


"Roni aku ingat itu, kau benar-benar terpuruk saat mendengar berita Nenekmu satu satunya yang merawatmu, pergi meninggalkanmu selamanya, kau kecewa padaku karena aku tidak ada disampingmu saat itu, karena aku sekolah kedinasan yang sangat ketat, bahkan untuk menelponmu aku harus diam diam saat itu, tapi kau tidak mengerti kepadaku saat itu. Dan saat itulah kau mulai terjerumus ke barang-barang terlarang, aku benar-benar merasa bersalah saat itu."


"Sampai suatu hari kau menelponku mengatakan bahwa kau sudah menjadi lebih baik berkat seorang wanita yang menjadi alasan hidupmu kembali berwarna, dan kau tidak tau wanita itulah yang dulu kamu sarankan untuk aku renggut kesuciannya agar ia tidak lepas lagi dariku," ucap Eko sendiri, ia seakan-akan berbicara pada orang lain padahal hanya angin malam lah yang menemaninya.


Eko sudah lelah berdebat antara memikirkan kebahagiaan kedua orang yang tak ingin ia lukai dan namun ia juga saat ini benar-benar butuh kebahagiaan, saat hatinya belum sembuh saat pernikahanya setahun lalu batal akibat Rosa mantan kekasihnya meninggalkanya, dan saat ini ia harus berusaha hidup seatap dengan wanita yang dulu ia cintai dan sudah mulai ia lupakan, namun sekarang justru ia harus menikah dengannya.


Matahari mulai terbit, dan Eko mulai muak memikirkan semua itu, "waktu cepatlah berlalu aku juga ingin bahagia, sudahi derita ini," gumamnya mulai kembali tidur karena sudah tak sanggup menahan kantuknya, ia akan tertidur saat matahari terbit jika tidak ada yang mengusap rambutnya. Ia kemudian tidur di samping Elia yang masih terlelap.