
"Tasya, aku bukan orang yang baik, seluruh pesaing bisnisku, jika mereka menghalangi rencanaku, aku tidak segan-segan mengahabisinya, tapi..."
"Jika berurusan dengan orang-orang terdekatku yang aku cintai, aku merasa seperti malaikat di dunia ini, mereka semua harus bahagia..."
"Awalnya aku mengira membahagiakan mereka, aku akan bahagia, tetapi semakin lama aku merasa harusnya aku terlebih dahulu membahagiakan diriku sendiri, karena sekarang justru aku semakin terluka dan tidak ada bahagia sama sekali setelah mencoba membahagiakan mereka semua..."
"Aku bukan tuhan yang dapat membahagiakan seluruh umatnya, di posisiku saat ini akan selalu ada yang terluka dan begitu juga aku yang sebenarnya sangat terluka."
Tasya kemudian menyela, "Maksud kamu akan merelakan Roni dan Elia hidup bahagia, mereka pasti bahagia, lalu siapa yang akan terluka?" tanya Tasya.
"Ayah Elia salah satu yang akan sangat terluka, dulu semasa Smp aku merenggut kesucian dari Elia karena aku mendapat saran dari Roni, dan Ayah Elia tau semua itu, dari raut wajahnya aku sangat tau ia berharap kami akan tetap bersama..."
"Belum lagi Ayah dan Mama, mereka sangat bahagia dengan pernikahan kami, mereka sekarang sedang menunggu buah hati dari hasil pernikahan kami, aku tidak tau bagaimana reaksi mereka saat tau kami akan berpisah," Eko tersenyum penuh luka.
Tasya menyaksikan raut wajah Eko yang rapuh namun berusaha di baluti dengan ketegaran. "Bos, kamu tau, dulu aku berpikir Tuhan akan adil memberikan nasib buruk kepada manusia, tetapi setelah semua nasib buruk yang aku terima, aku merasa bagianku terlalu banyak..."
"Dan menunggu dengan penuh harap adalah sifat manis manusia, sampai harapan itu kemudian datang dari sesosok malaikat, dan itu adalah kamu, aku tidak tau sampai kapan aku harus mempertontonkan tubuhku di depan kamera kepada laki-laki sialan itu jika kamu tidak hadir ke dalam hidupku, aku sangat berterimakasih padamu..."
"Sekarang bersabarlah, kamu benar tidak dapat membahagiakan seluruh manusia, tetapi tetaplah seperti ini, berbuat baiklah kepada sesamamu, dan sekarang yang lebih penting, selesaikan semua yang sudah terlanjur setelah itu, berbahagialah," ucap Tasya sambil terus mengusap rambut legam Eko.
Eko terkesima mendengar Tasya yang tiba-tiba berbicara dengan bijak, "Ya, kamu benar, aku akan menyelesaikan semuanya, setelah itu mencari kebahagiaanku, tapi..."
"Kamu bijak juga ya bicara, aku tidak menyangkanya," ucap Eko tersenyum.
"Cepatlah tidur, hari sudah semakin larut," ucap Tasya.
"Tasya, aku berterimakasih karenamu pikiranku yang kacau, sedikit membaik, tapi sekarang aku penasaran tentang dirimu..."
"Aku bukan bermaksud mengingatkan kamu lagi, jangan berpikir negatif aku hanya penasaran, saat aku.. Maksudku kita melakukan hubungan pada malam itu, aku melihat kamu tidak virgin lagi, dan kamu sepertinya biasa saja, maksudku tidak seperti wanita lain yang akan menangis karena merasa di lecehkan," ucap Eko hati-hati.
Tasya tersenyum, "Saat aku kelas 1 sma, saat itu semuanya terjadi, perampok itu masuk ke dalam rumahku, Ayah sedang pergi ke luar kota, Dia membunuh Ibu, dan memperkosaku."
"Hah?" Eko terkejut batin.
"Apa kau punya gambarnya?" tanya Eko.
"Yah, aku pernah sekali mengambil gambarnya," Tasya meraih ponselnya dan menujukkan gambar tersebut
Eko melihatnya dan hanya diam
"Cepat usap rambutku!" perintah Eko.
"Lalu saat aku khilaf, mengapa kamu seperti biasa saja, padahal bisa di bilang aku memaksamu, tapi kamu seperti tidak takut atau panik seperti wanita kebanyakan," ucap Eko.
Tasya kemudian tersenyum di iringin air mata yang mengalir menyentuh senyumanya, "Jujur, sebenarnya perasaanku sangat hancur saat itu, tapi aku cepat berpikir jernih, bagaimana juga jika aku marah padamu, semuanya tidak akan berubah, kau akan memecatku dan aku juga tidak bisa menyentuhmu, aku tau betul bagaimana posisimu di Kota ini ... "
"Ya, anggap saja itu rasa terimakasihku, kau memberikan perawatan terbaik untuk ayahku, kau juga mempekerjakanku denga layak, aku tidak perlu lagi mempertontonkan tubuhku seperti dulu," ucap Elia.
Eko kemudian bangkit dari pangkuan Tasya, menggengam tanganya, "Tasya, sekali lagi aku meminta maaf padamu, aku berjanji akan selalu membantumu, jangan pernah segan padaku jika kamu membutuhkan sesuatu, aku tau itu tidak setimpal, seharusnya aku di hukum atas perlakuanku..."
"Cukup, aku tidak pernah berniat memanfaatkan hal ini untuk hal lain, dengan kamu merawat ayahku dan tetap menjadi seketaris pribadimu, itu sudah lebih cukup," ucap Tasya memotong perkataan Eko.
"Ya, terimakasih, mulai sekarang kamu adalah bagian dari keluarga besarku, dan kamu tau pasti, orang-orang terdekatku akan menjadi prioritasku untuk membahagiakan mereka," ucap Eko.
Tasya kemudian tersenyum, "Cepat tidur lagi di pangkuanku, hari sudah semakin larut."
Eko hanya menurut dan tidur di pangkuan Tasya dan menerima usapan lembut Tasya di rambut legamnya, sampai kemudian Eko terlelap.
Tasya menatap wajah Eko yang terlelap, "Kamu ingin membahagiakanku, sementara dirimu saja belum pernah merasakan bahagia yang sebenarnya, dasar!" gumam Tasya sebelum ikut terlelap
Sesaat kemudian keduanya terlelap di atas sofa, mereka saling berpelukan di atas sofa.
Like dan Koment. Di tunggu Kelanjutannya Bosku