
......................
Hapy Reding
......................
Pagi hari mulai hilang di gantikan oleh siang hari. Eko masih terlelap di pelukan Tasya, namun seketika Eko tersentak dari tidurnya, Tasya terkejut melihat Eko yang seperti ketakutan, keringat membahasahi seluruh tubuhnya.
"Kamu kenapa?" tanya Tasya khawatir.
Eko masih mengantur nafasnya yang tidak beraturan.
"Kenapa?" Tasya menggocang tubuh Eko.
"Dia datang lagi ke mimpiku, dia datang lagi," Eko menangis setibanya.
Tasya kebingungan, mulai medekat Eko dan mengusap rambut legamnya, Eko mulai jatuh ke dalam pelukannya, air matanya belum berhenti mengalir.
Puas dengan tangisanya, Eko kemudian bangkit dari pelukan Tasya, "Cepat siap-siap, kita akan pergi," ucap Eko kemudian.
Mereka telah selesai, kemudian mulai pergi, Tasya kebingungan di tengah jalan, kebingungan Tasya semakin bertambah saat Eko menepikan kendaraanya ke sebuah toko bunga. Tasya kebingungan namun saat ini ia hanya memilih untuk bungkam.
Setelah melewati jalan yang ramai, mereka tiba di sebuah area pemakaman, Tasya semakin kebingungan.
Mereka kemudian tiba di sebuah kuburan, Eko langsung duduk dan meletakkan bunga di atas dua kuburan tersebut.
"Jaya Apriandi dan Sulastri, mereka sepertinya suami-istri, tapi siapa mereka," gumam Tasya membaca nama di kedua batu nisan tersebut.
Eko mulai menangis, "Bisakah kau menunggu di mobil," ucap Eko.
Tasya yang masih tenggelam dalam kebingungan, kemudian mulai pergi meninggalkan Eko sendiri.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi padamu, sepertinya sangat rumit," gumam Tasya yang termenung menunggu di dalam mobil, nama di batu nisan tadi masih membuatnya penasaran. "Siapa mereka, apa hubunganya dengan Eko."
Eko telah selesai dengan urusanya di kuburan tersebut. Saat ia mulai melangkah, ponsel Eko bergetar tanda panggilan masuk. Disana tertera nama Roni. Eko langsung menerima panggilan tersebut.
"Hallo," suara Eko di balik telepon.
"Eko, sepertinya besok aku akan berangkat ke paris, apa kau punya waktu sebelum aku pergi," jawab Roni.
"Bukannya kamu akan pergi lusa?" tanya Eko kebingungan.
Roni mulai menangis, suaranya terdengar di balik telepon. "Kamu kenapa?" tanya Eko.
"Aku sedang di pantai, aku menunggumu," Roni memutus sambungan telepon.
Eko yang panik, kemudian langsung bergerak cepat menuju ke pantai dimana Roni berada. Eko mulai memasuki mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat.
Tasya memperhatikan raut wajah Eko yang panik, dan juga masih tersisa air mata yang belum di seka. Namun Elia memilih bungkam.
Sesampainya di pantai, Eko menemukan Roni yang duduk di atas pasir di tepi ombak kecil. Eko menghampirinya dan duduk di sampingnya. Mereka masih diam dan mulai menarik bersama rokoknya.
Sementara Tasya hanya ikut duduk membisu.
"Apa yang membuatmu ingin cepat pergi dari sini?" tanya Eko membuka suara.
"Aku ingin pergi meninggalkan dan melupakan semua di sini," jawab Roni sekenanya.
"Maksud kamu?" Eko bingung.
"Ya, awalnya aku kira kota ini akan menjadi sesuatu yang akan ku kenang, bagaimana aku berjuang demi kebahagiaanku dan kemudian aku pergi untuk memulai kebahagiaan di belahan bumi lainnya," Roni tersenyum di barengi kepulan asapnya.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu utarakan," Eko semakin kebingungan.
"Deg."
"Hey, kamu tidak perlu panik, aku tau Elia sangat mencintaimu, hanya saja kamu yang menjauh darinya, dan aku tau betul kamu sangat mencintainya, sekarang jangan lagi menjauh dengannya, pergi temui ia, bangkitkan kembali cinta masa kecil kalian, jangan pernah lagi memikirkan aku, aku baik-baik saja.. "
"Apa yang kamu lakukan selama ini.., setelah aku mengetahui faktanya bahawa kalian telah saling mencintai sejak kecil, aku merasa kamu terlalu berlebihan memikirkan kebahagiaanku, aku tidak mengerti apa alasannya," ucap Roni.
Seketika Eko gugup, "Hey.. Tidak ada alasan lain, tentu saja aku hanya ingin sahabatku bahagia," ucap Eko berusaha menutupi kegugupannya.
"Ya, kita sahabat, tapi aku merasa kamu terlalu berlebihan.. Tapi apapun itu terimakasih atas pengorbananmu selama ini, aku akan berangkat esok pagi, sampaikan salamku kepada Elia," ucap Roni.
"Kamu akan tetap pergi bersama Elia, ini tidak akan lama, aku akan mengusahakannya," Eko bersikeras.
"Hey, sudah cukup, aku ingin kamu bersama Elia, aku tidak mungkin memaksakan semuanya, Elia hanya akan terluka jika kami bersama, banyak hal berharga yang harus ia relakan, aku tidak mau dia bersedih," ucap Roni.
"Hah, aku bukan sesuatu yang berharga, aku hanya lelaki yang masih ada sedikit perasaan lama yang tertanam di hatinya, dan aku muncul setelah sekian lama, ia hanya sedikit bimbang dan sekarang cintanya pasti lebih besar untukmu, ia akan bahagia dengan lelaki yang memang memperjuangkannya, bukan denganku yang menjauhinya," ucap Eko.
"Lalu kamu pikir itu saja?" tanya Roni.
"Maksud kamu?" Eko lagi-lagi kebingungan.
Roni tersenyum, "Ada yang lebih berharaga dari kamu dan aku, bahkan lebih berharga dari seluruh isi dunia ini," ucap Roni.
Eko kebingungan, dan menunjukkan raut wajah yang sekan-akan bertanya apa itu.
"Keluarga," ucap Roni.
Eko tertegun mendengar ucapan Eko.
"Apalah arti sebuah hubungan tanpa restu, bukankah dengan mengorbankan cintaku demi sesuatu yang berharga baginya adalah cinta yang sesungguhnya," ucap Roni.
"Jadi.. Kamu?" Eko bertanya, namun belum selesai bertanya Roni langsung menjawab dengan yakin.
"Ya, sepulang kami dari pantai ini, setelah berbicara tentang semua kerumitan hubungan ini, Elia yakin bahwa kami harus hidup bersama agar ia bahagia.."
"Kami kemudian pergi ke rumah Elia menemui Papanya untuk meminta restu.. Dan papa Elia tentu saja menolak, hah aku bodoh bagaimana mungkin aku meminta restu saat wanita tersebut masih di miliki seseoarang," ucap Roni mulai menangis.
"Sekarang berjanjilah bahwa kamu akan membahagiakan Elia, aku akan mengatur semuanya agar kalian tetap bersama," ucap Eko.
"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan mengancam mengahacurkan perusahaan Papanya? Itu terlalu berlebihan.. "
"Sekarang kamu yang harus berjanji padaku, bahagiakan lah Elia," ucap Roni.
"Tidak, apa kamu mencintai Elia?" tanya Eko.
"Hey aku memang mencintainya, tapi.. "
"Cukup!, kamu tidak boleh pergi besok, tunggu sampai lusa, aku akan membahagiakan kalian berdua, jangan protes, kamu ingin aku bahagia bukan? Maka bersatulah dengan Elia itu sudah membahagiakanku."
"Kamu sangat berlebihan, apa alasanmu melakukan ini?" tanya Roni curiga.
Eko kembali gugup, namun sesaat langsung menguasai dirinya, "Karena aku tidak mencintainya, dan kamu mencintainya, ia akan bahagia jika hidup dengan orang yang mencintainya," ucap Eko.
"Apa kamu yakin dengan itu?" tanya Roni ragu.
"Tentu saja," tegas Eko.
"Aku mencintai Elia, tapi aku merelakannya denganmu karena satu alasan yang tidak mungkin aku katakan, karena kamu pasti akan sangat membenciku, sehingga aku beralasan bahwa aku tidak mencintainya walaupun itu semua kebohongan belaka," gumam Eko sambil menghisap dalam rokok mild nya.
Like & Koment