
Hapy Reading Bosku
...................................
Eko dan Elia telah selesai dengam sidang perceraiannya, semuanya berjalan mulus.
Mereka hanya berdua saat persidangan, "Kita telah resmi berpisah, maafkan aku jika selama ini membuatmu terluka," ucap Eko.
Elia tersenyum, "Aku hanya tidak menyangka ternyata kamu memang tidak mencintaiku, mungkin aku yang terlalu berharap bawah perkataan kamu saat masih smp adalah perkataan yang benar.."
"Aku salah, masa itu kita belum dewasa, mungkin aku yang terlalu cepat dewasa mencerna kata-kata indahmu saat itu," ucap Elia.
Eko kemudian menggenggam tangan Elia, "Lia, aku mencintaimu, tetapi aku merasa tidak pantas memilikimu, aku dan Roni sama-sama mencintaimu, tetapi aku merasa Roni adalah yang terbaik untukmu.."
"Tidak selamanya cinta harus diperjuangkan, aku bisa saja menyingkirkan Roni saat itu, tapi aku memikirkan kebahagiaanmu, kamu terlihat bahagia dengannya dan Roni juga sangat bahagia denganmu, lalu aku datang mengancurkan kebahagiaan kalian?"
Elia menangis, "Apa pernah kamu bertanya sekali saja.., aku memilih siapa?" Tangisan Elia semakin menjadi "Tapi tetap saja, meskipun aku memilih kamu, kamu akan tetap berusaha agar aku bersama Roni?"
"Aku tidak butuh penjelasan lagi, yang aku tau kamu memang tidak mencintaiku, dan sekarang kamu harus tau, aku sangat membencimu, katakan saja dari awal kamu tidak mencintaiku semua akan selesai.."
"Bukan dengan cara seperti ini, kamu seakan-akan datang seperti pahlawan yang ingin membahagiakanku, tanpa kamu ketahui apa yang aku mau, kamu hanya berusaha melepas tanggung jawab saat kamu berhasil merenggut keperawananku saat itu.."
"Aku membencimu!" Elia lari meninggalkan Eko sambil terurai air mata.
Eko hanya terpaku menatap kepergiaan Elia semakin jauh. Eko mulai frustasi, "Aku ingin memilikimu, aku mencintaimu, tapi kamu tidak mengerti apa alasanku merelakanmu, semoga kamu bahagia, biarlah kamu membenciku," gumam Eko.
......
Dengan perasaan penuh luka di setiap langkahnya, Elia telah tiba di rumahnya, mendapati Roni yang tengah berbincang dengan ayahnya.
Ia kemudian mulai menghapus sisa air matanya, berusaha agar terlihat normal.
"Papa aku pulang," Elia menyalim papanya.
"Elia duduk, Papa mau bicara," ucap Papanya.
Elia kemudian duduk, menatap Roni yang terlihat sangat bahagia dan tersenyum membalas tatapan Elia.
"Elia, Papa minta maaf selama ini memaksakan kamu untuk menikah dengan Eko, Papa pikir kamu akan bahagia, ternyata semua salah," Papa Elia mulai menitihkan air matanya.
"Pa, jangan menangis, aku baik-baik saja," Elia menggenggam tangan Papanya.
"Roni, mulai hari ini aku merestui Elia bersamamu," Papa Elia menatap Roni dalam.
"Tangisan laki-laki adalah tangisan yang tulus, aku mohon bahagiankan lah Elia, aku mohon," Papa Elia bersujud di kaki Roni.
Roni terkejut, mulai mengangkat Papa Elia, "Pa, aku berjanji akan membahagiakan Elia dengan segenap jiwa dan ragaku, nyawa juga akan ku pertaruhkan demi kebahagiaanya," ucap Roni menenangkan Papa Elia.
"Ayo Pa, sudah larut," Elia mengantar Papanya ke kamarnya.
Setelahnya Elia dan Roni kemudian duduk di teras rumah sambil mulai menikmati kepulan asap rokok mereka.
"Papamu sangat menyayangimu," ucap Roni.
"Semua Orangtua pasti menyayangi anak mereka," balas Elia.
Roni mulai tersenyum, "Jika Papa dan Mama masih ada mungkin mereka juga akan memangis saat aku terluka," ucap Roni, matanya mulai berkaca-kaca.
Roni tertawa kecil, "Aku bersumpah akan tetap membuatmu tersenyum bahagia, aku akan merasa sangat bersalah jika suatu saat nanti air matamu jatuh karena aku," ucap Roni.
Angin berdesir kencang, tubuh Elia dan Roni mulai bereaksi, dan kemudianya mereka saling bercumbu panas.
Selesai dengan cumbuanya, "Aku akan pergi, besok kita akan berangkat ke Paris, apa kamu sudah bersedia?" tanya Roni.
"Aku bersedia untuk berbahagia denganmu," Elia melepas Roni dengan senyuman tulus.
.......
Eko kembali ke rumahnya yang sepi dengan membawa beberapa botol minuman yang akan ia teguk untuk melepas bebannya.
Tasya yang menunggu sedari tadi, mulai melihat Eko telah tiba dengan raut wajah yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
"Tuan, anda sudah pulang," ucap Tasya.
Eko tidak menghiraukanya kemudian naik ke lantai dua dan duduk di teras kamarnya.
Tasya mengikuti Eko, melihat Eko yang mulai meneguk minumannya.
"Mengapa kamu menatapku? Kamu mau melarangku?" tanya Eko.
Tasya terkejut, "Ah, tidak silahkan saja jika itu membuatmu lebih baik," balas Tasya menghilangkan keterkejutannya.
"Mulai sekarang kita bukan seperti dulu, kamu adalah seketaris pribadiku, jangan belebihan lagi, anggap saja kata-kataku saat itu tidak ada, mulai sekarang panggil aku Tuan, dan patuhi setiap peraturanku," ucap Eko.
Tasya semakin terkejut dan ketakutan, ia hanya bungkam.
"Sekarang pergi dari hadapanku," ucap Eko mulai melanjutkan minumannya.
"Baik, saya izin pergi, Tuan," Tasya menunduk dan pergi.
"Jadi ceritanya kamu mau membenciku? Apa salahku? Kamu sedang mencari pelampiasan atas kebodohanmu, Dasar," ucap Tasya kesal di dalam kamarnya.
"Baik, aku akan profesional dengan pekerjaanku, kamu harus kuat Tasya, memangnya kamu mau lagi melakukan pekerjaan menjijikan seperti dulu lagi," gumam Tasya lagi yang sudah selesai dengan persiapanya untul terlelap.
"Ini hanya sebentar, dengan gaji dari Eko, aku akan mengumpulkanya dan setelah itu akan pergi darinya," gumam Tasya kemudian terlelap.
Eko masih setia meneguk minumannya, kepalanya mulai terasa berat. Kepulan asap juga menemaninya.
Pikirannya mulai tertuju pada masa kecilnya, saat Eko pertama kali bertemu dengan Roni, saat mereka mulai akrab dan mulai bersahabat.
Saat Eko pertama kali berkunjung ke rumah Roni, Nenek Roni dengan kasarnya melarang Eko untuk datang ke rumah sahabatnya tersebut.
"Jangan sekali-sekali berhubungan dengan Roni cucuku, aku tidak sudi hidup dengan keturunan seorang pembunuh," ucap Neneknya.
Eko yang masih kecil tidak mengerti apa-apa kebingungan dan pergi meningalkan rumah Roni.
Roni yang juga tidak mengerti apa-apa hanya bungkam, ia tidak di beri kesempatan untuk berbicara karena ia ketakutan dengan amarah neneknya.
Kata-kata pembunuh mengahtui Eko kecil, ia tidak tenang saat kata-kata pembunuh dari Nenek Roni kembali terngiang di pikiranya, sehingga setiap malam rambutnya harus di usap oleh Ibunya dan juga Elia untuk menenangkanya agar dapat terlelap.
Eko terhenti dengan pikiran masa kecilnya, kepalanya mulai berdenyut kencang, sampai kemudian ia terlelap di atas bangku teras rumahnya.
Kepada pemabaca yang mengikuti cerita ini di mohon Like dan Koment ya Bosku.