
Roni telah selesai dengan satu koper kecilnya, kemudian mulai bergegas menuju rumah Elia.
Membelah jalanan di pagi hari yang ramai, macat dan polusi tidak berarti apa-apa baginya, saat ini hatinya sangat berbahagia, ia akan pergi menjalankan mimpi yang ia dambakan bersama wanita yang ia cintai.
Tiba di rumah Elia, mendapat sambutan senyum penyemangat hidupnya dari Elia dan Ayahnya yang sudah menunggu di depan rumah.
Elia telah selesai dengan persiapanya, Roni kemudian menyalam Papa Elia, "Elia sudah selesai," Papa Elia tersenyum.
"Iya Pa, ayo kita ke bandara sekarang," ucap Roni.
Mereka pergi ke bandara, harapan akan kebahagiaan terpancar dari setiap raut senyum yang tampil di wajah mereka.
Mereka tiba di bandara, raut wajah bahagia berubah seketika Eko dan Tasya ternyata telah menunggu mereka di bandara.
Eko tersenyum melihat Elia, sementara Elia berusaha mengalihkan pandanganya ke sembarang tempat, "Aku tidak ingin melihatnya, aku ingin bahagia," gumam Elia.
Eko menyalim Papa Elia yang tidak berekspersi akan kehadiran Eko, semntara Roni fokus melihat Elia yang mulai gelisah.
Eko menyadari kehadirannya membuat suasana menjadi canggung, "Aku datang hanya untuk mengucapkan salam perpisahan, aku harap hubungan kita kedepannya tetap terjalin dengan baik, maafkan aku jika menyebabkan kekacauan sebesar ini di kehidupan kalian, terutama untuk Elia," Eko berusaha memecah kecanggungan.
"Papa juga minta maaf, kesalahan terbesarnya ada padaku, aku melakukan cara yang salah menyatukan kalian yang tidak saling mencintai," Papa Elia mulai buka suara.
Suasana mulai cair, "Ayolah lupakan masa lalu, kita harus bahagia untuk memulai kehidupan selanjutnya," Eko tersenyum.
Roni kemudian mulai merangkul Eko, "Terimakasih atas semua pengorbananmu untukku, bagaimanapun aku tidak akan menjadi Roni yang sekarang tanpa bantuanmu," ucap Roni.
"Bahagiankanlah Elia seperti impianmu selama ini, aku mempercayaimu, Sahabat," ucap Eko.
"Baiklah kami akan berangkat, Papa Elia juga ikut, disana kami akan melangsungkan pernikahan kecil-kecilan," ucap Roni.
Eko terkejut mendengar pertanyaan tersebut, Papa Elia sadar akan reaksi Eko kemudian membawa Eko untuk menjauh dari mereka.
Setelah jauh dari mereka papa Elia mulai memberikan penjelasan, "Eko, aku mengerti apa yang kamu pikirkan, kami memang melangsungkan pernikahan ini, hanya keluarga besar yang akan kami undang, saya dan Roni sebenarnya ingin agar kamu hadir dalam acara pernikahan tersebut, tetapi Elia menolak keras hal tersebut, bagaimana pun aku dan Roni tidak dapat memaksanya, kuharap Nak Roni mengerti," ucap Papa Elia.
Eko mengehla nafasnya, "Ternyata kamu belum maafkanku," gumam Eko.
"Baik Pa, aku mengerti, itu tidak masalah, ia mungkin masih terluka, di kemudian hari ia akan memaafkanku, ini hanya masalah waktu," ucap Eko.
"Kamu memiliki hati yang baik, semoga kamu juga akan bahagia," ucap Papa Elia menepuk pundak Eko.
Mereka kemudian kembali mengampiri Elia dan Roni.
"Baiklah kami akan berangkat," Papa Elia menatap Eko.
"Bro, kami akan pergi, aku akan mengabarimu," ucap Roni.
Tasya masih bungkam.
"Baiklah, suatu saat jika ada kesempatan kita akan bertemu lagi, semoga selamat sampai tujuan," Eko tersenyum.
Mereka kemudian mulai pergi meninggalkan Eko dan Tasya, Eko masih tersenyum melihat mereka semakin menjauh, sampai kemudian pesawat yang mereka tumpangi telah terbang sampai tidak terlibat lagi. Perlahan senyum Eko mulai menghilang.
"Ayo pergi, hari ini akan banyak perkerjaan," ucap Eko.
Tasya yang masih bergelut dengan pikiranya cepat tersadar dan mengikuti langkah Eko untuk meninggalkan bandara tersebut.
.......
Eko dan Tasya telah tiba di perusahaan, sambutan serta senyuman ramah yang biasa di dapatkan oleh penghuni perusahaan dari Eko telah hilang, yang ada saat ini Eko tiba-tiba berubah menjadi sosok yang dingin dan tidak bersahabat lagi tidak ada perbedaan sikap saat di perusahaan dan diluar perusahaan, semua mengerti akan keadaan Eko yang baru saja bercerai dengan istrinya. Begitulah isu yang berkembang di perusahaan tersebut.
Awak media yang telah lama menunggu di depan perusaahan untuk menanyakan tentang perceraiannya tidak mendapatkan hasil apapun, Eko tidak ingin memberikan penjelasan apapun kepada media, berbeda dengan sebelumnya Eko yang dulu selalu ramah dengan awak media.
Sehingga perlahan isu akan keretakan hubungan mereka akibat orang ketiga, Eko selingkuh, Elia menikah lagi, semua isu simpang siur tersebut mulai muncul di beberapa artikel dan infotaiment.
Tasya sudah mengetahui akan berita simpang siur tersebut, namun masih belum membahas dengan Eko melihat kondisinya yang masih belum bersahabat, serta urusan perusahaan yang sangat menumpuk karena di tinggalkan oleh Eko beberapa saat sebelumnya.
Eko dan Tasya telah tiba di kantor Eko, "Siapkan seluruh orang yang ada di kantor ini, suruh mereka memberikan seluruh laporan seperti biasa, aku tunggu 30 menit," tegas Eko.
Tasya kemudian melakukan perintah Eko, seluruh jajaran perusahaan kaget dan ketakutan, tidak biasanya Eko meminta rapat secara mendadak, dan isu yang telah menyebar akan perubahan sikap Eko setelah cerai menambah kepanikan mereka.
30 menit telah berlalu, seluruh jajaran perusahaan telah berkumpul di ruang rapat, Eko telah tiba dan mulai membuka suara, memerintahkan seluruh jajaran untuk mempersentasikan hasil laporan dan produk-produk terbaru yang akan di jalankan.
Rapat berlangsung alot, Eko hanya diam seakan-akan tidak memperhatikan rapat tesebut. Kemudian rapat telah selesai.
Eko berdiri dan menyudahi rapat serta meminta seluruhnya untuk kembali merevisi hasil proposal mereka.
Sebelum Eko melangkah, salah satu jajaran direksi perusahaan meminta instruksi, Eko teralihkan perhatiannya dan memberikan isyarat kepadanya untuk berbicara.
"Maaf Pak, sepertinya kita semua harus profesional dalam bekerja, semua urusan pribadi harus di kesampingkan, saya tau bapak sedang ada masalah pribadi dan semua orang di sini tau akan hal itu, tapi sebaiknya demi kemjauan perusahaan ini maka kita harus mengekesampingkannya, maaf jika saya lancang," ucap salah satu anggota perusahaan.
Ekspresi Eko tiba-tiba berubah menjadi sangat menyeramkan, "Tau apa kamu tentang kehidupan saya, jangan campuri urusan saya, atau kamu akan menanggung akibatnya," ucap Eko.
"Pak, saya berbicara demi kebaikan kita semua, demi perusahaan ini, saya memperhatikan bapak sejak awal tadi, tidak ada satupun presentasi dari anggota lain yang bapak perhatikan, lalu sekarang tiba-tiba bapak memerintahkan kami merevisinya," balas anggota tersebut.
"Kamu saya pecat, kemasi barang-barangmu," ucap Eko.
Anggota perusahaan tersebut kaget, juga seluruh yang ada di ruangangan jadi ketakutan.
"Tapi, pak.."
"Keluar sekarang, di sini saya tegaskan, saya adalah pemimpin perusahaan ini saya bertanggung jawab atas segalanya, jangan membahas tentang privasi saya, atau kalian akan bernasib sama seperti dia, dan ingat saya bukan seperti yang dulu lagi," Eko kemudian pergi meninggalkan ruang rapat tersebut.
Eko kembali ke kantornya dengan Tasya, Eko mulai berkutat dengan setumpuk dokumen yang ada di mejanya.
Tasya memperhatikan Eko, ia benar-benar khawatir dengan perubahan Eko yang cepat dan tiba-tiba. "Maaf Tuan, apa anda tidak terlalu kelewatan melakukan hal seperti tadi," ucap Tasya memberanikan diri.
Eko langsung menghentikan pekerjaanya dan menatap tajam Tasya, "Kamu juga mau saya pecat? Jangan berbicara hal yang tidak penting, sekarang cepat kumpulkan semua artikel dan pemberitaan tentang perceraian saya, bisa-bisanya mereka menyebarkan berita-berita privasi yang tidak ingin saya publikasikan," ucap Eko tegas.
Tasya tidak dapat membalas perkataan Eko, dan mulai melakukan perintah Eko, ancaman dari Eko benar-benar membuatnya ketakutan.