Because Of Love

Because Of Love
Episode 66


Happy Reading...


"Pa.. Aku sebenarnya di larang sama Papa Mama buat cerita ini, Kak Eko malah yang paling melarang aku menceritakan ini, tapi setelah dipikir-pikir ada baiknya Papa tau cerita ini, soalnya aku lihat dari ekspresi Papa tadi, aku tau Papa menaruh harapan besar ke pernikahan Kak Eko sama Kak Elia, aku tau Papa kecewa sama Kak Eko yang, bahkan aku rasa Papa berpikir Kak Eko lebih mementingkan Roni sahabatnya ketimbang Kak Elia istrinya..."


"Tapi sebelum Papa kecewa sama Kak Eko, Papa dengar dulu penjelasan dari aku adek kandungnya.. Jadi saat kak Eko kecil ia sudah bersahabat dengan Kak Roni, dan awal mulanya Kak Eko berkunjung ke Rumah Kak Roni untuk pertama kalinya, dan saat bertemu dengan Nenek Kak Roni, dengan kasarnya Nenek Kak Roni mengusir Kak Eko bahkan melarang merek untuk berteman, "aku tidak sudi cucuku berteman dengan keturunan seorang pembunuh," begitulah kata-kata yang di ucapkanya kepada Kak Eko..."


"Kak Eko terngiang-ngiang dengan kata pembunuh tersebut, ia pergi dan bertanya kepada Ayah dan Mama maksud dari keturunan pembunuh, namun Papa menolak menjelaskan kepada Kak Eko karena merasa Kak Eko terlalu dini untuk mengetahui itu.. Dan akhirnya kata-kata pembunuh menjadi mimpi buruk Kak Eko, ia tidak dapat terlelap setiap malam, ia membutuhkan usapan Ibu di kepalanya untuk terlelap, dan ajaibnya usapan Kak Elia dapat juga membuat ia terlelap..."


Saat itulah aku yakin mereka berjodoh, dan saat mereka menikah aku sangat bahagia dan saat Papa mengatakan mereka bercerai dan semua ini ada kaitannya dengan Kak Roni sahabatnya, aku jadi mengerti apa alasan mereka bercerai..."


"Jadi saat Kak Eko sudah tamat Smp dan akan berpisah dengan Kak Roni, akhirnya Papa memberitahu fakanya, jadi sebenarnya Kakek kami orangtua dari Ayah adalah penyebab kematian dari orangtua Kak Roni, saat itu orang tua kami adalah pesaing bisnis, dan Kakek mengambil jalan pintas dengan menyingkirkan orangtua Kak Roni tanpa sepengetahuan Ayah dan Mama, dari fakta itulah Kak Eko menjadi sangat terpukul, ia selalu berjiarah ke makam orang tua Kak Roni..."


"Ia berjanji akan mengorbankan apapun itu demi kebahagiaan sahabatnya Roni dan untuk menebus kesalahan Kakek yang membuat Kak Roni menjadi menderita, dan mungkin itulah alasan Kak Eko bersikeras merelakan Kak Elia dengan Kak Roni untuk bersatu, karena ia ingin Kak Roni bahagia..."


"Mungkin penjelasan ini dapat membuat Papa mengerti dan tidak membenci Kak Eko, aku tau kok Kak Eko sebenarnya sayang Kak Elia, tapi dia punya alasan kuat melepasnya, dan aku sebagai adik kandungnya minta maaf kepada Papa karena melibatkan Kak Elia ke dalam masalah keluarga kami..." Salam Salsa.


Setelah membaca seluruh isi pesan Salsa saat telah sampai di rumahnya, Papa Elia kini sudah berada di depan kuburan Istrinya ia mulai menitihkan air matanya.


Ia kemudian membersihkan kuburan istrinya sambil air matanya masih mengalir. Kemudian mulai mengusap batu nisan istrinya.


"Ma, Aku tidak mengerti mengapa Elia bisa terperangkap dalam situasi yang rumit seperti ini, tapi Mama jangan khawatir, sekarang ia sudah lepas dari semua situasi ini, ia tidak terluka lagi, aku telah melaksanakan pesan yang kamu amanahkan kepadaku, semoga kedepanya semuanya berjalan dengan baik, Elia akan bahagia... Ma, aku merindukanmu," ucap Ayah Elia memeluk nisan Istrinya dengan air mata yang mengalir semakin deras.


......


Di ruangannya yang hening, dengan malas Tasya berkutat dengan setumpuk buku masakan yang harus ia pelajari. "Ah membosankan, bahkan untuk membedakan bumbu dapur ini aku tidak mengerti.. Huhh," kesal Tasya.


Di tengan pergulatanya dengan buku masakan tersebut, tiba-tiba Eko masuk ke ruangan Tasya, "Kita harus pergi sekarang," ucap Eko.


Tasya terkejut namun cepat menguasai diri, "Ah baik, Tuan," ucapnya sambil mengikuti langkah Eko.


Mereka kemudian telah berada di dalam mobil, membelah kemacetan, Tasya hanya diam tidak ingin bertanya kemana tujuan mereka, perjalanan yang sangat jauh membuat Tasya terlelap.


"Bangun," ucap Eko setelah sampai.


Tasya membuka perlahan matanya, dan mulai mengembalikan kesadaranya, ia mendapati sebuah tempat yang sangat sepi dan sebuah bangunan tua yang tidak terawat. Perasaan Tasya menjadi ngeri,


"Mengapa kita kesini, Tuan?" tanya Tasya.


Eko tidak menjawab, ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam bangunan tersebut, Tasya hanya ikut di belakangnya, Ia merasa ngeri melihat keadaan tempat yang mereka datangi.


Sampai ke dalam gedung tersebut, seorang lelaki tampak bersimpuh, dengan badan penuh luka, dengan 4 orang bertubuh besar di dekatnya.


Ke empatnya kemudian menunduk saat Eko dan Tasya menghampirinya.


Tasya melihat tawanan tersebut, dan seketika perasaan marah dan emosi memuncak di tubuhnya.


"Dia..."


Dengan sekuat tenaga Tasya kemudian menendang tawanan tersebut. "Kamu ********," ucap Tasya dengan penuh emosi.


Puas melampiaskan Emosinya ke tawanan tersebut, Eko kemudian mengajak Tasya untuk pergi.


"Singkirkan dia, jangan ada jejak!!" perintah Eko.


Ke empat pengawal tersebut menunduk tanda mengerti.


Mereka kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut. Di dalam mobil Tasya dengan ragu kemudian berterimakasih kepada Eko.


"Tuan terimakasih.." ucapnya.


"Bagaimana perasaanmu berhasil membalaskan dendammu kepada seorang yang telah merenggut kesucianmu, yang telah membuatmu trauma?" tanya Eko.


"Saya sangat puas Tuan, saya tidak menyangka Tuan masih mengingatnya," ucap Tasya tersenyum puas.


Eko kemudian tersenyum kecil, "Aku pikir tadi kamu akan menangis dan memaafkannya, ternyata aku salah, kamu tidak sebaik Elia."


"Hah, aku bahkan tidak sudi memiliki sifat yang sama dengannya," ucap Tasya.


"Maksud kamu?" tanya Eko yang berubah ekspresi secara tiba-tiba.


"Ya tentu saja, menurutku dia terlalu baik, jika aku di posisinya aku akan berterus terang bahwa aku tidak mencintai Roni, dan aku hanya mencintaimu dengan itu aku pasti bahagia, bukan terluka sekian lama seperti dirinya," ucap Tasya.


Menyadari perkataanya yang sudah kelewatan dan perubahan ekspresi Eko, Tasya dengan cepat meminta maaf.


"Maaf Tuan, saya kelewatan," ucap Tasya.


Eko tidak menggubris perkataan Tasya, "Ya mungkin Tasya benar, jika saja ia dengan tidak ragu menolak cinta Roni mungkin kami akan tetap bersama, tapi mungkin ia menyerah karena aku selalu saja memaksanya untuk bersama Roni" gumam Eko sambil terus mengemudikan kendaraanya.


Tasya yang tidak mendapat respon dari Eko mulai panik, "Aduh kok aku bisa keceplosan gini sih," gumamnya.


Di dalam perjalanan suasana menjadi sangat kaku. Tasya yang ketakutan dengan perkataanya yang menurutnya kelewatan.


Jangan Lupa tinggalkan Likenya jika suka, dan Koment jika ada kritik dan saran. Terimakasih...