Because Of Love

Because Of Love
Episode 22


Di tengan cumbuan mereka, angin semakin kecang, dah rerintikan hujan mulai turun dan semakin deras. Mau tidak mau, Eko menghentikan aksinya, mereka segera pindah ke tepi jendela duduk berdekatan dengan Elia menyaksikan hujan yang mulai turun tak beraturan.


Hujan jatuh menuju bumi, sementara kenangan jatuh ke dalam pikiran mereka berdua. Eko tersenyum mengingat kenangan indahnya bersama Elia. Kemudian menatap Elia yang terlihat sendu menikmati suara hujan.


"Lia," panggil Eko.


"Hmm," balas Elia namun tidak memalingkan wajahnya yang terus saja menatap keluar jendela.


"Melihat caramu membalas ciumanku, ternyata kamu sudah sangat handal melakukanya," ucap Eko.


Elia membulatkan matanya, wajahnya merona. "Eko aku pikir kau sudah tau bahkan aku lebih hebat melakukan hal yang lainnya juga," jawab Elia.


"Iya aku tau semuanya dari Roni," ucap Eko tersenyum.


Elia mulai mengalihkan pandanganya ke arah Eko, "Ya aku tau, laki-laki jika sedang bersama pembahasannya pasti tidak jauh dari hal yang mesum, dasar!!" ucap Elia kesal.


"Hahaha, biasalah. Tapi aku penasaran, pertama kali kau melakukannya dengan Roni, apakah dia tau kau sudah tidak Virgin lagi?" tanya Eko penasaran.


"Dia tau kok, aku juga mengakuinya, tapi aku tidak mau dia membahas dengan siapa aku melakukannya pertama kali.., Ya dia tidak mempermasalahkan masa laluku, saat itulah aku mulai mencintainya!" balas Elia.


"Lalu sekarang, kenapa aku merasa sepertinya kau tidak mencintainya lagi?" tanya Eko kembali.


Elia mulai meneguk anggurnya dan mulai membakar kembali rokoknya. Eko masih menunggu jawaban Elia


"Kau bodoh, semua ini karena aku bertemu lagi denganmu, aku masih mengingat janjimu dulu!" jawab Elia dan mulai terdiam dan suasana tiba tiba hening.


Elia kembali meneguk anggurnya, sudah hampir satu botol anggur dia habiskan. Elia mulai merasa kepalanya berat ia tidak dapat mengotrol badanya.


Melihat itu Eko langsung mengangkatnya ke atas kasur, dan saat ia ingin pergi ke sofa, Elia menarik tangannya,


"Lia kau sedang tidak sadar diri, aku tidak mau terjadi sesuatu," bantah Eko.


"Eko sudahlah, dasar bodoh, sekakan-akan kau tidak pernah melakukannya dengaku, padahal kau lah yang pertama melakukannya denganku," ucap Elia.


"Elia.., itu terjadi saat kita masih remaja, kita belum tau apa-apa," ucap Eko.


"Haha, cepat tidur di sebelahku suamiku, aku tidak akan menggodamu. Aku hanya ingin berbicara betapa uniknya kisah hidupku kau cukup mendengarnya saja," ucap Elia memohon.


"Cukup Lia, tidurlah, kau sedang tidak sadarkan diri," bantah Eko kembali.


"Aku mohon dengarkan lah aku sebentar saja, aku hanya ingin berbicara, aku hanya sedikit mabuk, aku masih bisa mengontrolnya!" rengek Elia.


"Meskipun kau bisa mengontrolnya, lalu bagaimana dengaku? Aku takut nanti bisa saja aku yang tidak dapat mengontrol nafsuku!!" bantah Eko kembali.


"Ayolah, sebentar saja, aku tidak tau harus berbicara dengan siapa, disini hanya ada kau. Atau apakah ada layanan untuk curhat di hotel ini, kalau ada tolong pesan kan untukku!" ucap Elia.


Eko mulai merasa aneh melihat tingkah Elia, "Mungkin kalau Elia mabuk mulutnya tidak bisa diam pikir Eko."


"Oke tapi hanya berbicara, jika ada salah satu dari kita yang kelepasan kontrol kita harus saling mengingatkannya!" tegas Eko.


"Baik, kita hanya berbicara saja, jika kau tidak tahan aku akan mengingatkamu," ucap Elia tersenyum.


Eko akhirnya setuju, ia kemudian berbaring di sebelah Elia. Eko sedikit menjaga jarak, namun Elia langsung merapatkan dirinya ke tubuh Eko.


Elia kemudian menarik selimut untuk mereka berdua. Mereka berdua di atas ranjang satu selimut dan sama sama menatap langit-langit kamar. Suasana hening sesaat.