
"Sudahlah Elia, cinta itu hanya sebentar, setelah itu uang yang akan berbicara," tegas Papanya.
"Elia gak mau Pa," bantah Elia.
"Elia tidak ada penolakan, besok malam kamu harus siap-siap kita kerumah calon suamimu, Papa harap kamu tidak mengecewakan Papa," ujar Papanya sambil bergegas pergi.
"Bagaimana ini, Papa benar-benar di gelapkan oleh harta, apa yang harus kukatakan pada Roni," tangisnya sendiri.
"Tidak tidak, aku tidak akan berpisah dengan Roni, aku mencintainya," ucapnya lagi.
......
Akhirnya ia bergegas pergi menemui Roni, ia berjalan memasuki mobilnya.
"Apa yang harus kukatakan, mengapa hidupku serumit ini," ucap Elia yang pikiranya sangat kacau.
Sesampainya di kontrakan Roni Ia menemukan Roni di dalam kamar, melihat Roni sedang menghisap kembali barang haram yang tadi pagi ia berjanji tidak melakukanya, "Roni?!" teriaknya sambil menangis.
Roni yang dikagetkan oleh kedatangan Elia spontan membuang alat hisapnya, "Kenapa aku tidak mendengar suara mobilnya," batinnya kebingungan.
"Elia, kenapa kamu kembali, bukannya kamu bilang akan menginap?" tanya Roni.
"Kamu benar-benar tidak bisa berubah Roni, kamu tidak mencintaiku, aku mau kita putus," tangis Elia menjadi-jadi.
"Elia tenang dulu, aku tau kamu kecewa, tapi tolong jangan berpikiran seperti itu, aku tau kamu mencintaiku, aku juga sangat mencintaimu Elia," balas Roni.
Roni ingin memeluk Elia namun pelukkanya di tolak oleh Elia,
"Cukup!!, Mulai saat ini, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, kamu jangan pernah menemui aku lagi!!" ucap Elia kemudian langsung bergegas pergi.
"Elia tunggu," ucap Roni namun tidak dapat menahan kepergian Elia.
"Aku tau kamu kecewa Elia, maafkan aku, aku mencintaimu, aku tidak akan membiarkan kamu pergi dariku!!," teriaknya melihat Elia yang sudah pergi dengan mobilnya.
"Sial, lelaki macam apa aku ini, aku akan berubah Elia," gumam Roni.
Roni sangat frustasi, ia menghancurkan benda- benda yang ada di dekatnya, alat hisapnya juga ia hancurkan.
"Gara-gara kau aku begini," sambil menghacurkan alat hisapnya dengan penuh emosi.
Setelah puas melampiaskan emosinya dengan mengahancurkan barang-barang di sekitarnya, ia sangat ingin menceritakan seluruhnya, ia ingin curhat kepada sahabatnya sejak kecil, ia menelpon sahabatnya.
"Halo Ron, apaan?" ucap Eko di balik telepon.
"Kamu dimana ? aku mau ngomong," balas Roni.
"Ngomong apa? kamu berantem lagi sama Elia?" tanya Eko yakin.
"Tau aja, kapan kamu bisa datang?" tanya Roni kesal.
"Oke ntar malam ya, gue mau kerumah sakit mau ngeliat mama," ucap Eko.
"Mama udah baikan kok, ntar malam aku datang.., santai!" balas Eko.
"Oke aku tunggu ya," tutup Roni.
Eko seorang anak dari pengusaha terkaya ditempatnya, tatapan tajam, alis tebal adalah pesona yang tidak dapat ia sembunyikan, ia anak pertama, memililki seorang adik perempuan yang masih duduk di bangku kuliah.
Sejak pernikahannya yang batal setahun yang lalu, yang mengakibatkan Ibunya harus mendekam di rumah sakit selama setahun, ia sudah bertekad tidak akan menikah lagi, namun permintaan ibunya yang memaksa di menikah, akhirnya ia terima, demi kesembuhan Ibunya apapun akan ia lakukan.
Di Rumah sakit, ia menemui Mamanya yang ingin berbicara dengannya. Tiba di ruangan Mamanya,
"Ma, bagaimana sudah baikan?" Tanya Eko.
"Eko, kata dokter Besok Mama sudah bisa pulang, Mama bahagia sekali, setelah setahun medekam di sini," senyum Mama nya.
"Baguslah Ma, besok Eko akan datang dan kita akan kembali kerumah," Ucap Eko sekenanya.
"Ia nak besok malam juga, kamu harus siap-siap, calon istrimu akan datang menemui mu."
"Apa Ma? Ma .. , pikirkan dulu kesehatan Mama, jangan pikir yang aneh-aneh," Ucap Eko.
"Eko asal kamu tau, Mama sakit begini karena mikirin kamu, Mama gak mau kamu sendiri terus Mama mau punya cucu," nada suara mamanya mulai meninggi.
"Baik Ma , besok malam , aku akan datang," ujar eko menenangkan mamanya.
"Ya aku akan menikah, jika itu membuat mama bahagia, cinta akan datang dengan sendirinya jika selalu bersama-sama nantinya," batin Eko.
"Mama," ujar Salsa adik dari Eko yang entah kapan tibanya.
"Salsa, kamu sudah sampai?" tanya Mama nya.
"Sudah Ma, bagaimana, Mama sudah baikan?" tanya Salsa Kembali.
"Sudah, besok mama akan pulang, mama mau bertemu calon istri Kakakmu," senyum Mamanya.
"Ohiya ma," Salsa menatap kakaknya dan tersenyum penuh arti.
"Aku tau kakak terpaksa demi mama," batin Salsa melihat raut wajah kesal dari Kakak lelakinya.
"Kamu jaga Mama dulu ya, aku mau pergi ada urusan!!" perintahnya pada Salsa.
"Ma pergi dulu, besok Eko datang, kita akan balik kerumah," pamitnya.
"Jangan lupa besok, jangan kecewakan
Mama lagi," ujarnya mamanya melepas Eko.
"Siap Ma!" ujar eko sambil bergegas pergi.