
Setelah lama tenggelam dalam lamunannya, Elia melihat Eko sudah terlelap di pangkuanya.
Ia juga ikut terlelap di Sofa tersebut karena tidak mau Eko terbangun kembali jika ia berpindah ke ranjang. Mereka tertidur bersama sambil saling berdekapan.
Matahari telah datang menyinari dunia, silaunya menyelip di sekitar celah jendela kamar pasangan pengantin baru tersebut.
Eko terbangun dari alam mimpinya, saat ia bangkit ia menyaksikan Wajah Elia yang masih terlelap, hal itu benar benar meneduhkanya.
"Dia tidak pindah ke ranjang, kau pasti takut aku terbangun, kau tidak berubah seperti Elia Kecil dulu," guman Eko tersenyum menatap wajah Elia.
Setelah puas menatap wajah Elia, ia segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum itu ia telah memerintahkan asisten rumah tangganya untuk menyiapkan baju ganti untuknya dan Elia, keluar dari kamar mandi ia melihat Elia yang sudah sadar dan masih melamun sendiri menatap jendela.
"Lia, cepat mandi, kita harus sarapan di bawah bersama keluarga!" perintah Eko.
Elia bangkit dari sofa kemudian menarik Eko ke sofa kembali, Elia kemudian mendekap tubuh Eko.
Eko kebingungan melihat tingkah Elia
"Apa yang kau lakukan?" tanya Eko bingung.
"Eko, apa kau tidak ingat masa kecilmu," tanya Elia.
"Ya tentu saja, bagaimana aku bisa lupa masa itu," ucap Eko.
"Kau pernah bilang aku harus mengusap rambutmu setiap malam jika ibumu sedang pergi ke luar kota," ucap Elia.
"Dan aku harus membacakan buku ceritamu agar kau mau melakukanya," balas Eko.
"Hahahahaha," mereka kedua tertawa mengingat kenangan kecil mereka.
"Eko bukankah kau pernah memintaku untuk berjanji agar mengusap rambutmu sebelum tidur?" tanya Elia.
"Ya, tapi itu hanya masa kecil, kita belum tau apa-apa, sekarang kita tidak mungkin mengulangnya, kamu sudah mencintai lelaki lain yang membuatmu bahagia, dan aku akan mencari wanita lain yang dapat mengusap rambutku selembut mama, dan kita sudah berjanji untuk melupakannya," ucap Eko.
"Tidak Lia, dulu kecil aku tidak tau apa-apa, sekarang aku sudah besar, aku takut kelewatan, aku takut Roni kecewa, dia bisa terluka jika dia tau kelakuan kita," bantah Eko.
"Eko aku ini istri sahmu, lakukan lah, aku tidak akan mengatakan kepada Roni, aku akan mengusap rambutmu setiap malam, biarkan aku memenuhi janjiku, apa kau sadar meminum obat tidur akan berpengaruh buruk terhadap kesehatanmu," ucap Elia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah mereka selesai membersihkan diri dan merias diri, Eko dan Elia segera turun menuju meja makan untuk sarapan dengan keluarga besar mereka yang masih belum pulang setelah acara kemarin.
"Dasar pengantin baru, kalian lama sekali, jangan terlalu beringas nak," ucap Mama Eko, di sambut gelak tawa oleh seluruh keluarga yang duduk di meja makan tersebut.
"Ayo cepat makan, setelah ini Papa mau mengatakan sesuatu pada kalian," sambut Papa Eko.
Setelah selesai makan, Papa Elia mulai membuka bicara, "Elia setelah sarapan ini kamu langsung kembali kerumah kita, ambil perlengkapan untuk satu bulan!!" perintah Papa Elia.
"Mengapa satu bulan Pa? Bukanya aku akan tinggal dengan Eko setelah ini," tanya Elia kebingungan.
"Iya tentu saja, Papa juga telah menyiapkan rumah untuk kalian tempati berdua nantinya, tapi sekarang kalian akan bulan madu ke Paris selama sebulan, itu hadiah pernikahan kalian dari Papa," ucap Papa Eko menimpali.
"Apaaa!!" teriak Eko dan Elia bersamaan.
"Tapi Pa, pekerjaan bagaimana? Aku tidak mungkin meninggalkanya Pa," protes Eko.
"Iya pa, Kuliah Elia juga tidak bisa di tinggalkan," timpal Elia.
"Kalau hanya untuk satu bulan kamu pikir aku tidak bisa mengurus perusahaan? Dan kuliahmu Elia Papa akan urus jika tidak bisa sekalian kampusnya akan kita beli," ucap Papa Eko enteng.
Elia menelan salivanya medengar perkaatan Papa Eko, "Sultan mah bebas," gumamnya.
"Iya.., pokoknya kalian harus bahagia disana, lupakan dulu urusan di sini, bersenang-senanglah," ucap Mama Eko berusaha meyakinkan.
"Sekarang kalian kerumah Elia, siapkan persiapan yang harus di bawa, kalian berangkat nanti malam," ucap Papa Eko.
Medengar semua perkataan keluarga mereka, baik Elia maupun Eko tidak bisa menolaknya, keduanya sebenarnya sama-sama senang dengan hal tersebut, namun satu hal yang membuat mereka khawatir adalah bagaimana reaksi Roni mengetahui hal ini.