
Tasya yang terkejut langsung melepas dan menjauh dari Eko.
Eko kemudian tersenyum, "Ah ternyata kamu Elia, mengapa kamu di sini, bukankah kau sudah bahagia dengan Roni, pergilah aku tidak membutuhkanmu lagi," ucap Eko dengan suara yang serak.
"Elia? Hah kau benar-benar mabuk berat, aku ini Tasya seketarismu, sadarlah Tuan!" ucap Tasya.
"Aku bilang pergi dari sini, cepat pergi!!" teriak Eko.
Tasya tidak memperdulilan teriakan Eko, kemudian memakainkan baju ke tubuh Eko yang telah ia sediakan.
Saat sedang memakaikan baju Eko, tiba-tiba Eko mendekap keras Tasya "Kau selalu saja menggodaku Elia, aku selama ini benar-benar menahanya, hah sekarang aku akan dengan senang hati melakukanya," ucap Eko tersenyum.
Kemudian perlahan mendorong Tasya ke atas ranjang dan mulai mencumbu leher mulus Tasya dengan ganas.
Tasya berusaha memberontak melepas cengkraman kuat dari Eko.
"Tuan sadarlah, aku Tasya seketarismu, aku bukan wanita yang kau sebut."
Eko tidak menghiraukan perkataan Tasya, dan terus melakukanya.
Tasya kemudian menangis terisak, sambil terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman Eko, namun ia tidak mampu melawan tenaga Eko.
"Tuan, sadarlah aku bukan Elia, hiksss," tangis Tasya sambil terus berusaha memberontak.
Sampai kemudian Eko telah mencapai puncaknya dan mulai mengehentikan gerakanya karena telah sampai pada puncaknya.
Tasya kemudian langsung mendorong Tubuh Eko yang telah terkulai lemas, kemudian langsung mengambil selimut dan menangis di samping Eko.
Eko tidak sadar dengan tangisan Tasya, dan kemudian tertidur setelah perlakuannya terhadap Tasya.
Tasya masih menangis dan menatap Eko yang sudah tertidur pulas, ia kemudian menyelimuti tubuh Eko yang masih polos tidak mengenakan apapun, waktu hampir menunjukkan sinarnya perlahan Tasya kemudian ikut terlelap di samping Eko setelah kelelahan menangis.
...........
Di tempat lain, Roni dan Elia telah terbangun dari tidurnya, senyuman bahagia terpancar di bibir mereka, setelah semalaman mereka bertempur habis-habisan.
"Pagi sayang," senyum Eko sambil mengecup bibir mungil Elia.
"Aku akan membersihkan diri, setelah itu kita akan pergi, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," ucap Roni.
"Kita akan kemana?" tanya Elia kebingungan.
"Nanti juga kamu akan tau, ayo mandi dulu, kamu mau kita mandi bareng?" goda Roni.
"Dasar mesum, cepat mandi!, kalo kita mandi bareng nanti unjung-ujungnya ga jadi pergi," ucap Elia.
"Baiklah," ucap Roni sambil bergegas menuju kamar mandi sambil mengambil tas yang berisi baju gantinya.
Elia kemudian kembali berbaring di kasur empuk yang nyaman, namun seketika ia terkejut karena ia baru sadar bahwa ini adalah kamar nya bersama Eko.
Ia kemudian bangkit dari ranjangnya dan keluar kamar dan melihat setiap sudut ruangan untuk mencari Eko, namun ia tidak menemukan sosok tersebut.
Roni kemudian keluar dari kamar mandi, melihat Elia yang kebingungan, "Elia ada apa?" tanya Roni.
"Roni, apa kamu tau Eko ada dimana?"
"Ah, semalam dia bilang ada urusan," ucap Roni.
"Ah, syukurlah, baiklah aku akan mandi dulu,"ucap Elia sambil kemudian bergegas menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Elia masih gelisah, "Eko hari perpisahan kita semakin dekat, apa kau bahagia dengan itu? tapi itu permintaanmu, doaku selalu menyertai hidupmu, semoga kau bahagia," ucap Elia terdiam sesaat, kemudian melakukan ritual mandinya.
Setelah mereka berdua selesai, Roni dan Elia kemudian pergi menggunakan mobil Elia. Mereka sebentar singgah membeli makanan untuk sarapan mereka.
Kemudian mereka sampai ke pantai, Elia sejenak kebingungan "Kamu bilang ingin menunjukkan sesuatu, lalu mengapa kita ke pantai ini?"
Roni kemdian tersenyum, dan kemudian menggenggam tangan Elia dan menuntunya duduk di atas hamparan pasir di tepi laut yang bergelombang kecil, mereka kemudian bersama-sama mulai menyalakan rokok dan mengehembuskan asapnya yang di terpa angis pantai yang menyejukkan.
"Elia setelah semua urusan kita di sini, dan terutama urusan dengan Eko selesai, kita akan pergi dari kota ini, kita akan memulai kehidupan baru kita di negara lain, mungkin ini adalah hari terakhir kita dapat mengunjungi pantai ini," ucap Roni sambil mendekap tubuh Elia.
"Maksud kamu?" tanya Elia kebingungan.
"Kita akan pindah ke Paris, aku di tugaskan untuk bekerja di sana dan kamu tau.., seharusnya aku mendapat hadiah saat memenangkan kontes merancang gaun saat itu, hadiah perjalanan ke maladewa selama 6 bulan aku gantikan dengan membeli sebuah butik kecil di sana, kamu akan mengurus butik kecil kita dan aku akan bekerja keras disana, kita akan hidup bahagia," jawab Roni sambil tersenyum menatap Elia.
Elia kemudian terharu mendengar jawaban dari Roni, kemudian perlahan membalas dekapan dari Roni, dan kemudian perlahan mengarahkan wajahnya dan Roni langsung menyambar dan mencumbu bibir Elia.
Mereka bercumbu di tepi pantai di temani suara ombak dan desiran angin, cumbuan mereka semakin membara, namun Elia langsung melepas cumbuannya, "Roni ini tempat umum," ujar Elia.
"Baiklah, kita akan melanjutkanya nanti," ucap Roni menggoda Elia.
Elia tersipu malu, mukanya memerah mendapat godaan dari Roni.
Namun perlahan Elia kembali serius saat Eko tiba-tiba terlintas di benaknya.
"Roni, lalu bagaimana dengan Eko, apakah kalian sudah membicarakan ini?"
"Kamu tidak perlu khawatir, bukankah perjanjiannya sudah di sepakati, Eko akan menceraikanmu, Eko pasti sudah menyiapkan cara agar semuanya berjalan dengan baik, kebaikannya tidak akan dapat kita lupakan, kuharap ia juga akan cepat menemukan kebahagiaanya," ucap Roni.
"Lalu bagaimana dengan ayah? Apakah dia akan menyetujui hal ini?" tanya Elia khawatir.
"Elia, kamu tidak perlu khawatir, aku akan berbicara dengan ayahmu dan aku yakin dapat menyakinkannya!" ucap Roni berusaha menenangkan Elia.
"Baiklah, semoga semua berjalan sesuai rencana dan tidak akan ada yang terluka," ucap Elia.
"Ayo kita pergi, kita kembali ke rumah menunggu Eko kembali dan jika ada kesempatan aku mau melanjutkan yang tadi," ucap Roni kembali menggoda Elia.
"Dasar mesum!"
Mereka kemudian pergi meninggalkan pantai tersebut.
Jangan Lupa Like bosku!!